Jendela Cerita Mama Arga

Di balik jendela, banyak cerita tumbuh dan bermakna

Setelah puas menikmati laut dan keindahan bawah air di Sombu Dive, petualangan kami di Wakatobi masih berlanjut. Tak hanya laut, Pulau Wangi-Wangi juga menyimpan pesona alam lainnya yang tak kalah memikat. Sore hari kami menyempatkan diri menikmati senja dari ketinggian di Puncak Toliamba. Keesokan harinya kami juga bersantai di sebuah danau bernama Danau Kapota. Dua tempat ini menawarkan suasana yang berbeda namun tetap berkesan.

 

Sunset di Puncak Toliamba

Selain Sombu Dive, Puncak Toliamba juga menjadi destinasi wisata yang masuk dalam proyek penataan dan pengembangan infrastruktur di KSPN Wakatobi. Puncak Toliamba dikemas menjadi tempat wisata yang modern sehingga mampu menarik lebih banyak wisatawan. Pembangunan jalan akses ke puncak membuat pengunjung lebih nyaman, apalagi fasilitas umum sudah lengkap tersedia, seperti toilet dan musholla yang bersih. Di area bawah terdapat kios-kios untuk UMKM (sayangnya pada waktu itu belum dibuka) dan ada juga kafe di bagian puncak, serta area terbuka yang menjadi tempat berkumpul dan bersantai sambil menikmati pemandangan.

Puncak Toliamba yang sudah dibangun menjadi destinasi modern, akses jalan menuju puncak sangat nyaman dan aman sekalipun bagi anak-anak

Puncak Toliamba menawarkan pemandangan yang memukau dari ketinggian. Meskipun perjalanan ke puncak cukup panjang dan melelahkan tapi Arga semangat banget sambil berlarian terus. Dan rasa lelahnya terbayarkan setelah sampai di puncak. Kami dapat melihat panorama hamparan luas lautan serta pulau-pulau di sekitar Kepulauan Wakatobi dari ketinggian.

Keindahan sunset menjadi daya tarik utama Puncak Toliamba. Sayangnya sore itu langit Wakatobi sedikit berawan sehingga kami tidak bisa melihat sunset yang sempurna. Tapi semburat jingga di langit senja tak pernah berhenti membuat kami kagum. Sore itu, melihat mentari perlahan tenggelam di langit Wakatobi rasanya damai sekali.

Langit senja dari Puncak Toliamba yang sedikit tertutup awan namun tetap terlihat manis

 Bersantai di Danau Kapota

Keesokan paginya kami menyebrang sedikit ke pulau kecil yaitu Pulau Kapota. Di sana terdapat danau yang bernama Danau Tailaro Nto’Oge atau yang lebih dikenal dengan Danau Kapota. Danau Kapota juga merupakan salah satu destinasi wisata dalam proyek penataan dan pengembangan infrastruktur di KSPN Wakatobi.

Dari Pulau Wangi-Wangi kami naik perahu motor berkapasitas 15-20 orang untuk menyebrang ke Pulau Kapota. Perjalanan laut cukup singkat, hanya sekitar 15 menit saja. Saat melewati perairan berwarna biru muda dari atas perahu tampak jelas banyak bintang laut biru di dasar laut, indah sekali. Setelah turun perahu, kami masih harus berjalan kaki sekitar 2 km untuk menuju ke Danau Kapota. Sayangnya cuaca tak bersahabat, hujan sempat turun beberapa kali yang sedikit menghambat perjalanan kami karena harus beteduh.

Akses jalan menuju Danau Kapota yang masih sangat asri dan hijau

Suasana tenang menyambut ketika kami memasuki gerbang masuk Danau Kapota. Danau Kapota ini berada dalam kawasan hutan Mangrove dengan luas area kurang lebih 1.200 meter. Konon katanya air di danau ini merupakan air laut yang masuk dan tergenang dalam sebuah rongga batuan karang yang cukup besar sehingga air danau terasa asin.

Karena sudah terlalu lelah berjalan kami hanya duduk-duduk santai di area gazebo di tepi danau. Namun bila ingin lebih puas melihat pemandangan, bisa naik ke menara gardu pandang. Tentu akan menakjubkan menikmati panorama dari ketinggian.

Suasana tenang di Danau Tailaro Nto’Oge atau Danau Kapota yang dikelilingi hutan mangrove

Perjalanan singkat kami ke Pulau Wangi-Wangi meninggalkan kesan dan kenangan yang begitu indah. Tentu saja kami berharap bisa mengeksplor pulau-pulau lainnya dari Wakatobi. Ternyata Wakatobi tak hanya tentang kehidupan bawah laut, ada ketenangan di puncak bukit dan juga syahdunya danau di hutan mangrove. Yuk main-main ke Wakatobi!

Posted in

Leave a comment