Jendela Cerita Mama Arga

Di balik jendela, banyak cerita tumbuh dan bermakna

  • Satu hal yang mungkin tak terpikir sebelumnya saat pindah ke negara baru adalah… betapa susahnya cari toilet umum! Aku pikir, tinggal di negara maju seperti UK akan memudahkan akses ke fasilitas umum, termasuk toilet. Tapi ternyata, realitanya tak seindah bayanganku.

    Pengalaman buruk pertamaku terjadi saat hari pertama sampai di Sheffield. Waktu itu kami belum bisa masuk flat karena masih menunggu serah terima kunci. Di tengah udara dingin dan kelelahan setelah perjalanan panjang, Arga tiba-tiba kebelet pipis, BANGET. Karena nggak ada tempat yang bisa dimasuki, kami memutuskan lari ke arah The Moor—pusat perbelanjaan yang jaraknya cuma sekitar 10 menit jalan kaki.

    Di sana aku lihat ada penunjuk arah bertuliskan “Public Toilet”. Lega dong, akhirnya bisa juga. Tapi pas kami sampai, ternyata toiletnya sudah tidak terpakai. Pintu terkunci, berdebu, gelap, bahkan banyak sarang laba-labanya. Niat pipis malah berubah jadi ngeri! Karena panik, kami coba masuk ke gedung terdekat, gedung besar yang aku kira city council. Tapi stafnya bilang tidak ada toilet dan malah menyuruh kami ke Moor Market. Kami pun lari lagi ke sana, dan ternyata toiletnya ada di bagian paling belakang… dan sedang maintenance. Benar-benar ujian!

    Sampai akhirnya kami nanya ke petugas kebersihan jalan, dan dia bilang: “There’s no public toilet around here.” Hah?? Untung akhirnya ada orang baik yang mengarahkan kami ke Atkinsons Department Store. Dan… finally, berhasil juga ketemu toilet yang bersih dan bisa dipakai! Lega banget, dan syukurnya Arga nggak keburu ngompol.

    Kalau di Indonesia, kita bisa dengan sangat mudah menemukan toilet umum di berbagai tempat—Indomaret, Alfamart, SPBU—bahkan di tempat makan sederhana pun biasanya ada toilet yang bisa diakses. Tapi di UK, fasilitas ini lebih terbatas dan kadang juga tidak jelas arahnya. Bahkan supermarket besar seperti Aldi dan Lidl pun nggak menyediakan toilet untuk umum. Ini tentu jadi tantangan tersendiri, apalagi kalau bepergian dengan anak kecil. Meskipun sudah ke toilet dulu sebelum keluar rumah, kadang udara dingin bikin jadi cepat kebelet lagi.

    Setelah tinggal di sini beberapa bulan, aku mulai hafal beberapa tempat lain yang bisa diandalkan kalau butuh toilet umum, misalnya:
    – Moor Market
    – Popeyes Moor
    – Ponds Park
    – KFC & McDonald’s
    – Subway (beberapa outlet)
    – Tesco Superstore


    Jadi, buat yang baru pindah atau sedang traveling dengan anak kecil, penting banget tahu spot-spot ini. Atau minimal, siapkan rencana darurat. Karena ternyata, cari toilet di UK bisa jadi petualangan tersendiri!

  • Dalam rangka mengisi liburan sekolah yang lalu, kami mengajak Arga untuk eksplor ke luar kota. Kami memilih York sebagai destinasi liburan pertama kami—dekat dan bisa day trip dari Sheffield.

    Kami berangkat naik kereta pukul 08.22 dan tiba di York sekitar satu jam kemudian. Kota kecil yang cantik ini langsung menyambut dengan suasana tenang dan udara pagi yang terasa agak menggigit.

    Reruntuhan St. Mary’s Abbey di York Museum Garden

    Destinasi pertama: Memorial Gardens, taman hijau tak jauh dari stasiun, jadi spot yang pas buat pemanasan. Lanjut jalan kaki ke Museum Gardens, menikmati reruntuhan St. Mary’s Abbey dan suasana klasik khas York. Kami juga sempat berjalan menyusuri pinggiran Ouse River dan selanjutnya mampir sebentar ke York Library. Sebenarnya ini nggak ada dalam itinerary kami, tapi Arga minta ke library, ya sudahlah kami turuti sekalian numpang istirahat sebentar. Ternyata dia betah mewarnai beberapa colouring worksheet yang disediakan dan susah diajak udahan.

    York Minster, bangunan katedral yang berarsitektur Gotik megah di mana setiap detailnya adalah hasil ukiran tangan manusia

    Tak jauh dari situ, kami tiba di York Minster—ikon kota York yang megah dan bikin kagum. Kalo Arga justru excited karena melihat ada patung Paddington Bear di area tamannya. Setelah puas foto-foto, kami lanjut ke York’s Chocolate Story. Sebenarnya ada tour untuk melihat pembuatan cokelat bahkan mencoba membuatnya sendiri, tapi ternyata sudah full dan baru ada slot sore hari. Sebaiknya memang booking dari hari sebelumnya. Akhirnya aku cuma beli hot chocolate-nya, dan serius, seenak itu! Aku juga beli beberapa cokelat dan ternyata enak-enak semua, jadi nyesel cuma beli sedikit.

    Pecinta cokelat wajib ke York’s Chocolate Story. Barisan coklat ini terlihat begitu menggoda, jadi bingung pilih yang mana

    Dari sana tinggal jalan kaki sebentar sampailah ke The Shambles, area jalanan kuno yang jadi inspirasi Diagon Alley-nya Harry Potter. Kami makan siang Nana Noodles di Shambles Market Food Court dengan menu Padthai dan Chicken Satay—simple dan cocok buat isi energi.

    Lorong jalan The Shambles yang padat pengunjung. Fans Harry Potter harus ke sini, ada The Shop That Must Not Be Named yang merupakan official store merchandise Harry Potter

    Setelah kenyang, kami naik City Sightseeing Bus, muterin kota sambil dengerin cerita sejarah York. Arga memilih duduk di atas dengan atap terbuka, rasanya? Super dingin. Tapi dia malah tertidur pulas, mungkin kecapean juga.

    Bus City Sightseeing York yang membawa kami berkeliling menikmati pemandangan dan cerita sejarah kota York

    Destinasi terakhir kami adalah National Railway Museum. Ini adalah museum kereta api terbesar di dunia, dibagi menjadi dua area: Great Hall dan Station Hall. Karena waktu terbatas, kami hanya sempat eksplor Great Hall aja. Di Great Hall terdapat berbagai macam koleksi lokomotif dari yang paling tua usianya sampai shinkansen juga ada lho. Ada juga ruang bermain anak, library kecil, cafe dan toko souvenir. Walapun bukan fans kereta api tapi Arga cukup menikmati kunjungan ke museum ini. Oh ya, yang paling penting tiket masuk ke museum ini GRATIS!!!

    Area Great Hall di National Railway Museum yang memamerkan beraneka macam lokomotif kereta

    Kami kembali ke Sheffield dengan kereta jam 6 sore. Liburan singkat yang cukup berkesan buat kami walaupun masih banyak tempat di York yang belum sempat kami kunjungi, maklum travelling bawa anak kecil jadi nggak bisa ambisius ke sana ke mari. Boleh jadi alasan buat balik lagi kan?

  • Ada yang bilang, hal-hal paling berkesan datang dari kejutan tak terduga. Rasanya pas banget untuk menggambarkan pengalaman pertamaku dan Arga bermain salju di Chatsworth.

    Arga dan Ayah berjalan di bawah derasnya hujan salju

    Kami memang sudah agak lama merencanakan day trip ke sana, tapi akhirnya baru terealisasi hari Minggu kemarin. Tentu tanpa ekspektasi akan melihat salju turun. Menurut ramalan cuaca, kemungkinan snow fall baru akan datang sore hari. Tapi ternyata, alam punya rencana sendiri. Di tengah hari saat kami berjalan santai untuk mencari tempat makan siang, tiba-tiba butiran salju turun perlahan, lalu makin lama makin deras. Kami langsung saling pandang—excited, kaget, dan tentu saja… bahagia!

    Suasana di area Chatsworth Garden saat snow fall

    Meski tak berlangsung lama, tapi karena cukup deras jadi cukup membuat semua permukaan tertutup warna putih. Jalanan, rerumputan, daun, bebatuan, bahkan air kolam. Suasana yang sebelumnya cerah jadi terasa begitu magis.

    Tanpa pikir panjang, Arga langsung asyik mengumpulkan salju di atas bangku taman. Tangannya sibuk membuat bola salju dan kami pun saling timpuk sambil tertawa. Walau saljunya belum cukup tebal untuk bikin snowman, tapi rasanya cukup untuk mengisi hati kami dengan kebahagiaan.

    Arga seru banget ngumpulin salju di bangku taman buat bikin bola salju

    Buat Arga, ini pengalaman pertama yang sudah lama dia tunggu-tunggu. Kalo sebelumnya cuma main salju buatan di wahana bermain di Indonesia, sekarang akhirnya bisa pegang salju beneran. Dan buatku, ini momen kecil yang rasanya besar—menikmati kesederhanaan salju pertama yang turun, dan menyadari bahwa kebahagiaan itu sering kali datang dari hal-hal yang nggak kita rencanakan.

    Musim dingin sering kali identik dengan dingin dan kelabu. Tapi hari itu, aku justru merasa hangat. Mungkin karena kebersamaan, atau mungkin karena keajaiban kecil yang datang tanpa diminta. Dan aku bersyukur pengalaman salju pertama kami berada di tempat seindah Chatsworth.

    Area garden di Chatsworth yang tertutup putihnya salju justru menimbulkan kesan magis
  • Setelah Arga mulai sekolah, rasanya hidupku juga mulai dari nol lagi. Yang biasanya ke mana-mana selalu bareng Arga, sekarang aku punya cukup banyak waktu sendiri. Ternyata menyenangkan juga bisa belanja tanpa ada suara rengekan minta pulang karena capek. Dan dari situ aku mulai kepikiran, “Apa ya yang bisa aku lakukan buat mengisi waktu luang ini?”

    Pas banget aku nemu info soal creative workshop berjudul The Stories We Carry. Workshopnya cuma tiga kali pertemuan, lokasinya deket rumah, waktunya cocok, dan—yang paling penting—GRATIS. Langsung deh aku daftar.

    Awalnya sempat deg-degan juga. Aku si introvert, harus masuk ke lingkungan baru, ketemu orang-orang yang belum pernah aku kenal, dan harus ngobrol dalam bahasa Inggris yang… ya, seadanya lah ya. Tapi ternyata, aku enjoy banget!

    Karyaku di hari pertama workshop yang kujadikan ajang memperkenalkan salah satu budaya Indonesia yang jadi favoritnya Arga — Ondel-ondel

    Yang bikin kaget, peserta lain sebagian besar lansia. Iya, aku “sekelas” sama kakek-nenek dari berbagai latar belakang: ada yang dari UK, India, Namibia, Middle East, Nigeria… dan aku sendiri dari Indonesia. Awalnya sempat mikir, “Salah daftar nih?” Tapi ternyata justru ini yang bikin pengalamannya jadi spesial.

    Di pertemuan pertama, kami diminta memperkenalkan diri lewat sebuah benda yang punya cerita. Aku bawa mainan ondel-ondel kecilnya Arga. Reaksinya lucu, banyak yang penasaran dan nanya-nanya itu apa. Lumayan, jadi ajang promosi budaya Indonesia.

    Pertemuan kedua temanya “A Thank You to Myself”. Di akhir sesi, kami disuruh memilih satu kalimat paling penting dari tulisan kami, dan membacakannya. Aku pilih: 
    Thank you for never comparing your life with others, because your life is yours, your life is you.” 
    Kalimat itu juga aku tulis di karya painting yang kubuat hari itu.

    Pertemuan terakhir temanya lebih dalam: WISDOM. Kami menulis “recipe of life”—resep untuk menikmati hidup. Versiku? 
    1. Prepare yourself to be flexible. 
    2. Add more self-confidence. 
    3. Combine those two and shape the best version of yourself. 
    4. Don’t forget to always feel grateful. 
    5. Now you can simply enjoy your life.

    Karyaku di hari kedua workshop yang kebetulan cocok dikombinasikan dengan tulisanku saat sesi writing

    Sesi terakhir juga ditutup dengan painting bareng. Kami diberi satu kertas dengan pola garis—dan saat semua karya disatukan, ternyata garis-garis itu nyambung seperti puzzle. Wah, seru banget. Rasanya damai, menyenangkan, dan relaxing. Ternyata meluangkan waktu untuk hal kreatif seperti ini bisa bikin hati hangat dan kepala lebih ringan.

    Karya kami saat hari terakhir workshop yang penuh warna dan jadi reminder karena bertuliskan wisdom quotes

    Tiga kali pertemuan yang singkat itu nyatanya meninggalkan kesan yang dalam. Rasanya menyenangkan bisa berbagi cerita, mengenal sudut pandang orang lain, dan menyadari bahwa meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, kita semua membawa kisah yang saling menguatkan. Dari workshop ini aku belajar bahwa setiap orang punya caranya sendiri untuk tumbuh, menyembuhkan, dan mengukir makna dari perjalanan hidupnya. Dan mungkin, menulis dan berkarya bisa jadi salah satu cara untuk merawat diri—cara yang sederhana, tapi penuh makna.

  • Sebagai orangtua, kita sering banget terjebak dalam perbandingan. Apalagi sekarang, milestone anak bisa muncul di mana-mana—dari obrolan grup WhatsApp sampai postingan Instagram. Rasanya jadi insecure sendiri, apalagi kalau anak kita belum mencapai hal yang “seharusnya” udah bisa. Sering banget jadi ketrigger karena lihat postingan orang lain yang anaknya seumuran apalagi di bawah Arga dan udah bisa hal-hal yang Arga belum bisa.

    Tapi makin ke sini, aku belajar satu hal: semua anak punya waktunya masing-masing. Dan itu nggak apa-apa.

    Dulu Arga sempat agak telat ngomong. Nggak sampai speech delay sih, cuma belum sesuai milestone usianya aja. Tapi begitu mulai ngomong, langsung lancar dan jadi cerewet banget. Kata-kata yang dia tau juga banyak banget. Ternyata dia cuma butuh waktu.

    Toilet training? Hmm jatuh bangun. Aku baru mulai saat Arga umur tiga tahunan, dan ternyata prosesnya ngga bisa instan. Tapi pelan-pelan, tanpa aku sadari, tiba-tiba dia udah berhenti ngompol.

    Makan sendiri juga begitu. Sampai sekarang masih suka disuapin, sementara anak-anak lain udah bisa makan sendiri dari usia dua tahun. Awalnya aku sempat khawatir gimana kalo dia di sekolah, tapi ternyata dia bisa. Bahkan karena juara makannya jadi dapat reward sticker dari gurunya.

    Dari semua itu, aku belajar: semua ini adalah proses dan semua ini cuma soal waktu. Bukan kita yang menentukan kapan anak harus bisa ini-itu, tapi mereka tau kapan mereka siap. Tugas kita bukan untuk memaksa dan memburu-buru anak, tapi membersamai, mendampingi, dan percaya bahwa mereka akan sampai juga pada waktunya.

    Anak bukanlah proyek cepat-cepatan lulus milestone. Mereka adalah manusia kecil dengan ritmenya sendiri, dan itu fine-fine aja.

    Jadi buat orangtua yang mungkin sedang merasa tertinggal: tarik napas sebentar yuk. Kamu dan anakmu sedang berjalan di jalur kalian sendiri. Dan itu cukup. Pastikan mereka merasa aman dan didukung, sampai akhirnya mereka bisa bilang, “Aku siap.”

  • My not so baby anymore, tiba-tiba udah jadi anak Primary School

    Tanggal 11 November 2025 jadi hari bersejarah dalam petualangan keluarga kecil kami, terutama buat Arga. It was his first day of school. His very first ever school experience. Yaa, sebelum pindah ke sini, Arga memang belum pernah sekolah formal. Di Indonesia, aku dan suami memutuskan untuk belum memasukkannya ke sekolah — keputusan yang sempat mengundang banyak pertanyaan karena teman-teman sepantaran Arga udah pada sekolah pre-school ataupun TK.

    Kami memang berencana Arga akan mulai sekolah di usia 5 tahun, yaitu masuk di tahun ajaran Juli 2025. Tapi karena awal tahun kemarin tiba-tiba muncul rencana baru kepindahan kami ke luar negeri, yang pada waktu itu masih belum tau ke mana, tapi menurut hitungan kami akan berangkat paling lambat bulan September. Jadi dengan pertimbangan itu, rencana menyekolahkan Arga ditunda dulu, karena rasanya akan terlalu melelahkan untuk anak seusianya harus berpindah sekolah dan memulai adaptasi lagi hanya dalam waktu yang singkat.

    Kembali ke hari pertamanya sekolah, happy, excited, penasaran, nervous, takut, deg-degan, campur aduk rasanya. Nggak cuma Arga yang ngerasain, tapi aku juga. Aku dan Arga yang biasa bersama 24/7 sekarang harus terpisah beberapa jam. Jam sekolah di sini dimulai pukul 08.40 dan berakhir pukul 15.15, dengan 2x break time. Pasti terasa cukup berat buat Arga memulai rutinitas yang baru.

    Untuk hari pertamanya Arga request mau diantar dan dijemput lengkap oleh mama dan ayahnya. Jarak sekolah Arga agak jauh dari rumah — 20 menit berjalan kaki dan jalannya agak menanjak. Sepanjang jalan Arga mengeluh takut sekolah, tapi kami terus kasih pengertian dan semangatin Arga. Sampai di sekolah, orang tua cuma boleh mengantar aja, ngga boleh menunggu di sekolah meskipun itu hari pertama anaknya sekolah.

    Arga satu-satunya anak Indonesia yang bersekolah di sana. Mikirin gimana Arga ngejalanin harinya di sekolah bikin aku mules. Gimana nggak? Ngebayangin dia ada di situasi yang bukan cuma baru, tapi benar-benar asing. Pasti dia belum ngerti orang ngomong apa, dan orang juga nggak ngerti kalo Arga ngomong. Aku pasrah kalo emang hari itu Arga nangis terus di sekolah.

    Hari itu aku bawain Arga bekal onigiri nasi abon dan telur puyuh, buat jaga-jaga kalo dia ngga mau makan menu dari sekolah. Maklum, Arga agak picky eater dengan lidah Indonesia banget yang biasa makan nasi. Sementara menu dari sekolah kalo ngga sandwich, pizza, pasta, roasted potato — bukan selera Arga banget.

    Menu MBG di sekolah Arga, enak-enak banget kan? Ini sih mamanya yang doyan banget

    Tiba saatnya jemput sekolah, aku udah siap kalo gurunya bilang ”he is crying all day”. Tapi ternyata pas keluar kelas, dia terlihat baik-baik saja, mukanya juga happy-happy aja. Malah jadi aku yang pengen menitikkan air mata — terharu ternyata Arga udah gede dan bisa mandiri.

    Hari pertama yang mulus, belum tentu hari-hari berikutnya berjalan tanpa drama. Ada kalanya setiap hari dia nangis dari malam mau tidur sampai saat berangkat ke sekolah, sampai aku nggak tega  ninggalin dia di sekolah. Tapi ada kalanya juga sepulang sekolah dia semangat cerita keseruan di sekolah tadi. Dan ada juga momen gurunya bilang ”He was doing great today’‘.

    Entah sampai kapan akan ada drama tangisan dan pelukam erat di pagi hari. Yang jelas aku bersyukur Arga sudah memulai perjalanannya. Proses ibi mungkin ngga mudah buat Arga, tapi aku selalu berusaha untuk memvalidasi setiap bentuk perasaannya, apapun itu. Dan aku akan terus ada di sampingnya sebagai tempat pulang yang selalu siap mendengar semua ceritanya sepulang sekolah.

  • Salah satu hal yang paling aku pikirin waktu mau pindah ke UK adalah: Arga nanti sekolah di mana, ya? Sama halnya dengan di Indonesia, sekolah di UK umumnya dibagi jadi 2 kategori: State school (sekolah negeri) dan Independent School (sekolah swasta). Jika menyekolahkan anak di sekolah negeri, tidak akan dipungut biaya sepeser pun alias GRATIS. Kebijakan ini berlaku bagi semua warga Inggris baik yang berstatus citizen maupun pendatang. Asyik kan?

    Tahun ajaran di sini dimulai pada awal September dan pendaftarannya sendiri sudah dimulai dari September tahun sebelumnya dan ditutup di bulan Januari. Tapi bukan berarti setelah itu tidak bisa mendaftar sekolah ya, kami sendiri baru mendaftarkan Arga sekolah di pertengahan September 2025 (seminggu sebelum keberangkatan kami ke UK) untuk tahun ajaran 2025/2026. Karena seperti halnya di Indonesia, pendaftaran sekolah di sini menggunakan sistem zonasi, sehingga kami harus mempunyai tempat tinggal dulu di UK baru bisa mendaftar sekolah anak sesuai dengan catchment area-nya.

    Uniknya, pendaftaran sekolah di sini juga berdasarkan usia anak, cut off-nya adalah per 31 Agustus. Anak usia 5 tahun sudah masuk ke jenjang Primary School alias SD. Karena Arga sudah 5 tahun per Juni 2025, maka kami mendaftarkannya ke Primary School Year 1. Ini juga sempat membuatku sedikit khawatir, karena di Indonesia kan usia anak dianggap matang dan siap untuk masuk SD di usia 7 tahun.

    Tapi untungnya tidak ada test untuk masuk primary school di sini, background sekolah sebelumnya pun tidak jadi patokan. Sekali lagi, karena patokannya usia, jadi misal anak usia 9 tahun di Indonesia kelas 3 atau 4 SD, pindah ke UK akan langsung masuk ke Year 5 Primary School

    Administrasi pendaftaran sekolah juga cukup mudah. Setelah kami memiliki tempat tinggal pasti di Sheffield, kami langsung mendaftar sekolah melalui website Sheffield City Council. City Council (Dewan Kota), atau kalau di Indonesia disebut Pemda, mengatur layanan publik termasuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan lain-lain. Kami cukup mengisi formulir dan melengkapi data-data yang diperlukan. Kami juga bisa memilih sampai 3 sekolah yang menjadi preferensi, meskipun belum tentu penempatannya nanti di antara 3 pilihan tersebut karena bergantung pada ada tidaknya kursi kosong di kelas yang dituju. Namun waktu itu kami hanya memasukkan 2 pilihan: sekolah pertama berjarak sangat dekat dengan rumah kami (5 menit berjalan kaki) dan sekolah kedua berjarak 1,2 km dari rumah.

    Kirain dengan daftar dari jauh hari, bahkan sebelum keberangkatan kami, semuanya bakal cepat. Ternyata prosesnya butuh waktu juga. Di akhir Oktober kami baru dapet kabar penempatannya, dikirim via email dan juga via surat fisik ke rumah. Arga diterima di sekolah pilihan kedua kami. Namun karena saat itu sedang masa libur sekolah term 1, jadi kami baru dikontak oleh pihak sekolah di awal November.

    Kami diundang pihak sekolah untuk datang dan ”berkenalan” dengan sekolah barunya Arga. Kami bertemu dengan teaching consultant untuk melakukan daftar ulang. Lagi-lagi proses administrasinya sangat simple, kami cuma melengkapi formulir yang berisi update data anak dan orangtua, dan dokumen yang perlu dibawa cuma paspor Arga aja (Beda ya sama di Indonesia yang perlu ada akte kelahiran dan KK?).

    Kami dijelaskan peraturan sekolah: seragam, jam masuk dan pulang, serta school meals alias MBG yang didapatkan free sampai dengan nanti di Year 2. Kami juga diajak berkeliling melihat ruang kelas Arga dan fasilitas sekolah lainnya. Kami juga berkenalan dengan teacher dan teaching assistant di Year 1. Kami juga menyampaikan kekhawatiran kami karena ini adalah sekolah pertamanya Arga, Arga yang cenderung pemalu, dan Arga yang belum bisa bahasa Inggris (baru mengenal beberapa kata basic). Tapi karena semuanya sangat welcome sekali, aku jadi merasa sedikit tenang. Dan kami boleh memilih kapan Arga akan memulai hari pertamanya sekolah kapanpun kami siap.

    Sekolahnya benar-benar gratis, tidak ada uang pangkal maupun SPP bulanan. Bahkan anak-anak tidak perlu membawa buku dan alat tulis apapun karena semua disediakan di sekolah. Satu-satunya pengeluaran kami untuk sekolah Arga adalah membeli seragam. Kami diinfokan website untuk melakukan pemesanan seragam secara online. Tapi karena seragamnya sangat general (polo shirt putih, celana panjang hitam/abu dan jumper/cardigan biru), jadi bisa dibeli di toko lain seperti Primark, H&M atau Next, bahkan di supermarket seperti Tesco Superstore juga ada. Untuk sepatu pun tidak ada aturan alias bebas model dan warna apa aja. Simple banget kan sekolah di sini?

    Menunggu hari pertama Arga sekolah perasaanku masih campur aduk: lega, excited, dan sedikit was-was juga. Tapi yang penting Arga sudah dapat sekolah dan kami siap untuk menyambut petualangan barunya.

  • Aku pengen bilang makasih.
    Tapi kali ini bukan ke orang lain, melainkan ke diriku sendiri.

    Terima kasih karena sudah berani keluar dari zona nyaman. Dari Jakarta yang serba tersedia, serba familiar—ke tempat baru yang awalnya terasa asing, penuh adaptasi, dan nggak selalu mudah.

    Sejak kecil, aku tumbuh di rumah yang selalu ada bantuan. Ada yang beresin, ada yang siapin, ada Mama yang selalu jadi tempat sandar. Bukan berarti aku manja, tapi aku memang nggak terbiasa melakukan semuanya sendiri.

    Tapi hidup berubah. Dan aku juga.

    Waktu pindah ke Baubau, lalu lanjut ke tempat yang sekarang, pelan-pelan aku sadar: ternyata aku bisa. Bisa bangun pagi sendiri, masak buat keluarga, beresin rumah, siapin keperluan sekolah Arga, bahkan cari arah di kota asing yang belum aku hafal betul.

    Ternyata aku mampu. Ternyata aku cukup kuat.

    Dan hari ini, aku mau berhenti sejenak… bukan buat mengeluh, tapi buat berterima kasih. Ke diri sendiri—yang nggak nyerah, yang terus belajar, yang pelan-pelan bertumbuh.

    Kadang kita terlalu sibuk bertahan sampai lupa ngasih pelukan buat diri sendiri. Padahal, setiap langkah kecil yang aku lakukan—dari bangun pagi sendiri sampai belajar masak lauk simple—itu semua perlu diapresiasi juga, kan?

    Aku nggak bilang semuanya lancar. Ada kalanya aku lelah. Ada momen aku kangen Jakarta, kangen Mama, kangen jadi ‘anak’ lagi yang tinggal duduk manis dan ditanya, “Mau makan apa?”

    Tapi justru di tempat baru ini, aku menemukan versi diriku yang lain. Yang lebih mandiri, lebih tangguh, dan lebih tau apa yang dia mampu lakukan.

    Jadi ya, thanks to myself.
    Udah mau tetap melangkah walaupun pelan.

    Karena ternyata… aku bisa

    “Ada aku yang dulu menuliskan cerita di buku ini. Ada aku yang hari ini duduk tenang di tepi jendela. Dan ada aku yang terus belajar dari hari ke hari. Terima kasih untuk setiap versi diriku yang sudah membawaku sampai sini”

  • Morning view dari jendela ruang makan kami — “breakfast with a view” banget ngga sih judulnya?

    Waktu pertama kali masuk ke rumah baru, yang terasa bukan haru… tapi pusing. Kamar tidur belum ada kasurnya, dapur masih kosong melompong, sementara di ruang tamu bertumpuk meja dan sofa yang tampak usang. Debu tebal menyelimuti hampir setiap sudut ruangan. Aku sampai bingung mau naruh koper dan tas bawaan kami di mana.

    Kesal? Pasti. Apalagi kondisi kami yang lelah selepas long flight, ditambah jetlag. Rasanya pengen langsung rebahan — tapi sayangnya belum ada tempat yang layak sekadar buat meluruskan badan.

    Untungnya kami sudah kenal beberapa orang Indonesia di sini. Dan bersyukur banget, mereka begitu baik, bahkan meminjamkan barang-barang penting yang kami butuhkan untuk bertahan beberapa hari, sambil pelan-pelan mulai belanja keperluan rumah.

    Kepalaku langsung menghitung-hitung berapa dana yang akan keluar untuk semua kebutuhan dasar. Tentu tak harus lengkap apalagi mewah, yang penting fungsional. Untung ada toko-toko terjangkau seperti B&M, Super Pound World, diskonan IKEA, hingga charity shop British Heart Foundation — yang jadi penyelamat di minggu-minggu awal.

    Hari-hari awal kami sibuk menyulap rumah ini jadi benar-benar rumah. Membuang perabot yang sudah tak layak, membersihkan jendela, menata ulang ruangan. Arga pun semangat ikut membantu, bahkan sibuk memikirkan konsep interior kamarnya sendiri.

    Salah satu sudut rumah yang disulap Arga jadi tempat pajangan lego bikinannya

    Pelan-pelan, rumah ini tak lagi terasa asing.
    Pelan-pelan, rumah ini mulai terasa rumah.
    Bukan karena dindingnya cantik, bukan karena perabotnya lengkap — tapi karena kami bertiga ada di sini. Berbagi tawa, pelukan, dan cerita baru di petualangan kami yang belum selesai.


    Sunrise dari jendela dapur — warna kecil yang nyelip di hari-hari baru
  • Kalau Part 1 kemarin isinya kejutan besar soal mall tutup jam 5 sore dan harga bus yang bikin mikir dua kali, kali ini aku mau cerita tentang hal-hal kecil yang kelihatannya sepele—tapi ternyata cukup bikin aku bergumam: “Oh… beda banget ya di sini.”

    Coin 1p, 2p, 5p, 20p dan £1. Coba liat ukurannya, yang paling besar malah 2p
    1. Koin Segambreng dan Bingungnya Ngitung
      Di awal-awal tinggal di sini, karena belum ngurus rekening bank, aku selalu belanja dengan uang cash yang sudah aku tukar dan bawa dari Indonesia. Dan aku butuh waktu beberapa detik lebih lama tiap kali terima kembalian atau bayar pakai uang koin. Soalnya jenisnya banyak banget! Ada 1p, 2p, 5p, 10p, 20p, 50p, £1, dan £2—dan semuanya beda ukuran, warna, dan berat. Lebih keselnya lagi, ukuran koin 2p malah lebih besar dari 5p, kan jadi bikin tambah bingung. Bisa dikira ngulur waktu nanti pas di kasir 😅
    2. Maghrib Jam 4 Sore?
      Memasuki bulan November, aku beneran shock pas buka jadwal sholat: Maghrib jam 4 sore!
      Sholat 5 waktu di musim gugur dan dingin itu terasa ngebut, karena jaraknya berdekatan banget. Dhuhr jam 12 kurang dikit, Ashar jam setengah 2-an, Maghrib jam 4, lalu jam setengah 6 lewat dikit udah masuk Isya.
      Bener-bener harus pinter bagi waktu, dan jadi reminder juga buat lebih disiplin. Tapi ini juga jadi menyenangkan buat puasa. Subuhnya baru jam 6 pagi, jadi puasa cuma sekitar 10 jam aja deh.
    3. Dunia Per-Telur-an yang Ribet tapi Serius
      Kalo di Indonesia paling kita cuma milih: ayam kampung vs ayam negeri, atau telur biasa vs telur omega. Di sini? Pilihannya banyak banget.
      Ada telur dari ayam free-range, barn, organic, corn-fed, bahkan yang punya sertifikasi animal welfare khusus. Udah dipisah juga sesuai ukuran: medium, large, extra large, tapi ada juga yang mixed-size. Harganya beda-beda bahkan bisa signifikan banget, dan rasanya… yaa mirip-miriplah 😅
      Pertama kali beli telur aku bengong lama banget di depan rak telur. Mencoba meneliti apa beda dari masing-masing telur walaupun ujung-ujungnya tetap ambil yang harganya termurah.
      Tapi aku jadi belajar: orang sini peduli banget sama proses produksi makanan, bukan cuma hasil akhirnya.
    4. Anak Sekolah Pakai Piyama? Iya, Serius!
      Suatu pagi, di kelasnya Arga, aku liat ada anak yang datang ke sekolah masih pakai piyama. Kayaknya baru bangun tidur langsung digotong ayahnya masuk kelas 🤣
      Dan ternyata, itu bukan hal aneh di sini. Banyak keluarga lebih fleksibel soal penampilan anak, apalagi musim dingin. Selama anaknya datang dan happy, semuanya oke. Kalo Arga gimana? Yaa walaupun masih pagi-pagi buta dan dingin banget tetap aku mandiin dan dandanin rapi dengan seragam sekolahnya dong.
    5. Ada Kasur di Pinggir Jalan, Siapa Aja Boleh Ambil
      Kalo di Indonesia ada barang di rumah yang ngga terpakai, biasanya langsung aja disumbangin atau kasih ke pengelolaan barang bekas. Kalo di sini, langsung aja taro di pinggir jalan dan siapapun yang mau boleh ambil. Jadi jangan kaget kalo di pinggir jalan suka ada kasur,  karpet, duvet, sepatu, rak atau meja, bahkan mainan anak-anak. Tak jarang yang kondisinya masih bagus, bolehlah dibawa pulang.
    Karpet, bed, dan kayu lemari yang ditinggalkan di pinggir jalan – malah bikin kesan kumuh karena berhari-hari belum ada yang ambil

    Yang awalnya bikin heran, sekarang malah sering bikin senyum sendiri. Ternyata memang butuh waktu buat ngerti dan nerima bahwa tiap tempat punya cara hidup yang beda, dan nggak semuanya harus “masuk akal” menurut versi kita dulu.


    Adaptasi itu proses. Kadang kita kaget, kadang bingung, tapi pelan-pelan kita belajar buat terbuka, fleksibel, dan nggak buru-buru menghakimi hal baru yang kita temui.


    Dan dari hal-hal kecil kaya gini, aku jadi makin sadar: pindah ke tempat baru itu bukan cuma soal menyesuaikan diri dengan lingkungan… tapi juga tentang mengenali versi baru dari diri sendiri 🤍