Aku adalah seorang mama dari anak bernama Arga. Menulis adalah hobi lamaku yang sempat terhenti sejak kehidupan kecil tumbuh di dalam perutku (sepertinya Arga nggak suka aku nulis waktu itu 😄). Tapi sekarang, aku siap kembali membuka jendela yang baru—jendela tempat berbagai cerita tumbuh dan bermakna.
Halo, kali ini aku bukan mau share cerita atau pengalaman keluarga kami. Tapi untuk menutup bulan yang spesial ini aku mau publish puisi buatanku di sini.
Menulis puisi adalah hobi lamaku yang udah aku jalani dari kelas 4 SD. Di blog lamaku dulu aku juga suka publish puisi-puisiku yang kebanyakan temanya dunia percintaan ala remaja. Setelah menikah, aku vacum menulis, termasuk menulis puisi. Rasanya seperti kehabisan inspirasi dan kata-kata. Tapi sekarang aku pengen mencoba berpuisi lagi, dengan aku yang lebih dewasa dan tentu dengan tema cerita hidup yang bukan remaja lagi.
Dan inilah salah satu puisi terbaruku, puisi dari perjalanan seorang ibu ❤️
Aku dan Juni
Juni dulu bukanlah bulan istimewa bagiku Juni 7 tahun silam dan Juni tahun-tahun sebelumnya Saat aku masih tentang diriku sendiri Dan tak tau setelah itu Juni akan membuatku berbeda
Satu hari di bulan Juni 6 tahun silam Di satu ruangan saat suara itu untuk pertama kali kudengar Suara yang mengubah caraku melihat diri dan dunia Suara yang mengajakku pada petualangan hidup yang baru
Sejak saat itu setiap Juni tak lagi sama Juni selalu membawaku pada perjalanan baru yang berbeda-beda Suara yang terdengar memang bukan lagi tangisan bayi yang mungil Kini suara itu berganti menjadi celoteh dan tanya tanpa henti
Sekarang setiap Juni adalah bersyukur Karna Juni telah membawaku pada petualangan tanpa batas ini Bersama seorang dengan hati yang kuharap selalu gembira Dan akan selalu bersinar di manapun ia berada
Salah satu hal yang paling membuatku kagum tentang tinggal di UK adalah mudahnya akses anak-anak terhadap buku dan ruang bermain yang nyaman. Perpustakaan bukan hanya tempat meminjam buku, tetapi juga menjadi ruang publik yang ramah keluarga. Karena itulah, salah satu tempat yang langsung kami datangi pada hari-hari pertama tiba di Sheffield adalah Sheffield Central Children’s Library.
Perpustakaan anak ini berlokasi di area city center, tepatnya di Surrey Street. Bangunannya khas bangunan tua di UK. Sheffield Central Children’s Library merupakan bagian dari Sheffield Central Library dan berada di lantai paling bawah. Selain library ada juga galeri yang letaknya di lantai atas bangunan ini.
Suasana di dalam Sheffield Central Children Library
Kami datang pertama kali untuk mendaftarkan keanggotaan Arga. Saat itu suasana children’s library tidak terlalu ramai, mungkin karena kami datang pada jam sekolah. Ruangannya sangat luas, bersih, rapi, dan tentu saja nyaman. Kami juga langsung disambut hangat oleh seorang petugas yang berjaga di sana. Kami diminta mengisi formulir pendaftaran yang berisi data diri Arga: nama lengkap, tanggal lahir, dan alamat tempat tinggal.
Sambil menunggu proses pendaftaran selesai, aku berkeliling melihat berbagai fasilitas yang tersedia di perpustakaan ini. Koleksi bukunya sangat lengkap, dari mulai soft book untuk baby, board book untuk anak usia dini, buku untuk anak-anak yang baru mulai bisa membaca yang dibagi sesuai tahapan usia, buku cerita, hingga novel untuk usia remaja. Buku tentang ilmu pengetahuan dan activity book seperti find and search book juga banyak tersedia. Tak hanya buku, Children’s Library ini juga menyediakan berbagai macam mainan. Ada banyak pilihan board game, lego, wooden train toys, dan boneka-boneka, serta puppet. Ada juga meja khusus yang disediakan untuk aktivitas mewarnai.
Salah satu bagian koleksi buku untuk pembaca usia lebih muda
Tak lama kemudian, petugas kembali menghampiri kami sambil menyerahkan kartu keanggotaan Arga. Cepat sekali prosesnya, dan yang lebih menyenangkan lagi, semuanya gratis! Ia juga menginformasikan username dan password Arga untuk mengakses komputer yang ada di library. Ia juga menyampaikan bahwa Arga sudah bisa langsung meminjam buku untuk dibawa pulang.
Jumlah buku yang boleh dipinjam untuk dibawa pulang maksimum adalah 20 buku dalam satu kali peminjaman. Masa pinjamnya adalah selama 3 minggu dan dapat diperpanjang. Karena Arga terbiasa membaca satu hingga dua buku sebelum tidur setiap malam, kunjungan ke children’s library pun menjadi agenda wajib keluarga kami, setidaknya sebulan sekali. Kadang tak hanya untuk menukar buku, children’s library juga menjadi tempat singgah jika Arga mulai capek jalan-jalan di luar atau ketika cuaca di luar sedang terlalu dingin atau panas.
Sheffield Central Library buka dari hari Senin-Sabtu. Kalau berkunjung di hari Sabtu atau musim liburan sekolah, children’s library sangat ramai. Bisa-bisa sampai nggak kebagian spot untuk duduk dan bermain. Senang sekali budaya berkunjung ke perpustakaan masih sangat hidup di sini.
Buat kami, children’s library bukan hanya menjadi tempat meminjam buku, tetapi juga ruang yang menemani tumbuh kembang Arga. Di sini ia bebas memilih buku yang disukainya, bermain, sekaligus belajar mencintai kegiatan membaca sejak dini. Rasanya, inilah salah satu fasilitas publik yang paling akan kami rindukan ketika nanti kembali ke Indonesia. Semoga suatu hari nanti semakin banyak perpustakaan ramah anak di Indonesia yang mudah diakses secara gratis, sehingga semakin banyak pula anak-anak yang bisa tumbuh bersama buku.
Mengunjungi kota besar di UK, tak lengkap rasanya bila tak berkunjung ke museumnya. Makanya waktu liburan ke Liverpool, kami menyempatkan waktu untuk berkunjung ke dua museum yang terkenal di sana.
Museum of Liverpool
Bangunan Museum of Liverpool yang tampak mencolok dan langsung menarik perhatian
Bangunan Museum of Liverpool ini langsung mencuri perhatianku karena bentuknya yang unik. Bangunannya berdesain modern dibandingkan dengan bangunan-bangunan khas UK di sekitarnya. Lokasinya berada di tepi dermaga, dekat Royal Albert Dock.
Seperti banyak museum UK lainnya, tempat ini juga tidak memungut biaya untuk tiket masuk. Pengunjung juga tidak perlu melakukan booking seperti kebanyakan museum di London.
Kami datang tepat jam 10 saat museum baru buka, suasana masih sepi. Kami jadi punya lebih banyak waktu untuk eksplor setiap pamerannya.
Museum ini berisi tentang kisah Liverpool dan penduduknya. Di lantai dasar, pameran menyoroti evolusi perkotaan dan teknologi kota, baik lokal maupun nasional, termasuk Revolusi Industri dan perubahan di Kekaisaran Inggris. Ada pula galeri berbagai macam alat transportasi yang pasti jadi kesukaan anak-anak. Sementara di lantai atas menyoroti identitas Liverpool yang khas dan kuat melalui sejarah sosial kota, mulai dari pemukiman di daerah tersebut sejak zaman Neolitik hingga saat ini, migrasi, dan berbagai komunitas dan budaya yang berkontribusi pada keragaman kota. Ada pula area sejarah musik, yaitu galeri yang mengupas sejarah musik pop lokal, termasuk kisah band legendaris The Beatles (kalo yang ini sih bagian favoritku).
Sebagian dari koleksi The Beatles di Museum of Liverpool
Museum ini juga memiliki: Little Liverpool, sebuah galeri untuk anak-anak di bawah usia enam tahun. Untuk galeri ini berbayar dan harus sesuai dengan jadwal waktu bermain. Ukuran galeri tidak terlalu besar tapi permainan yang ditawarkan cukup lengkap. Ada water-play interactive, role-playing, puzzle jigsaw, dan area sensory untuk anak di bawah 2 tahun. Tentu saja yang bikin Arga paling betah lama-lama adalah main air, apalagi ada kapal-kapal kecil yang gemesin.
Di Little Liverpool anak juga bisa menggambar sepuasnya dengan peralatan yang disediakan
World Museum Liverpool
Museum ini adalah museum yang tertua di Liverpool. Berbeda dengan Museum of Liverpool, tipe bangunannya adalah bangunan tua khas Inggris. Tiket masuknya juga gratis, tapi kalau mau nonton film di planetariumnya baru berbayar dan sebaiknya booking dari jauh hari.
Kalau Museum of Liverpool lebih banyak bercerita tentang sejarah kotanya, World Museum menawarkan pengalaman yang jauh lebih beragam. Mulai dari luar angkasa, dinosaurus, budaya dunia, serangga, hingga akuarium, semuanya bisa dijelajahi dalam satu gedung.
Lantai 5
Space and Time: Galeri yang menampilkan benda-benda luar angkasa seperti batuan bulan dan teleskop, serta dilengkapi dengan fasilitas Planetarium interaktif. Karena di dalam planetarium nyaman dan adem, apalagi sambil dengerin cerita tentang planet, Arga malah ketiduran. Berasa didongengin mungkin yaa.
Lantai 4
Wild World: Dinosaurs and Natural History. Area ini menampilkan berbagai pameran sejarah alam dan kehidupan di Bumi. Ada juga replika dinosaurus dan area interaktif yang menarik untuk anak. Pengunjung bisa mewarnai worksheet bergambar dinosaurus lalu memunculkannya di layar interaktif. Arga excited banget pas dinonya muncul di layar.
Arga dan stegosaurus yang dia warnai
Lantai 3
World Cultures: Area ini menyimpan artefak dan benda bersejarah yang mencerminkan status Liverpool sebagai pelabuhan Kerajaan Inggris. Di lantai ini juga ada area Ancient Egypt lengkap dengan berbagai koleksi mummy.
Zona favorit Arga yaitu Mesir Kuno dengan koleksi mummy
Lantai 2
The Bug House: Area yang menampilkan berbagai macam koleksi serangga dari seluruh dunia, mulai dari yang berukuran kecil hingga spesimen yang sangat besar.
Lantai 1
Aquarium: Area yang menampilkan berbagai spesies ikan dan biota air tawar dari seluruh dunia. Arga paling gemas pas lihat bintang laut pada nempel di kaca akuarium.
Dari dua museum yang kami kunjungi, masing-masing punya daya tarik yang berbeda. Museum of Liverpool cocok untuk mengenal sejarah dan identitas kota, sementara World Museum menawarkan koleksi yang lebih beragam dan banyak area interaktif yang membuat anak-anak betah berlama-lama.
Yang paling kami sukai tentu saja karena keduanya bisa dinikmati secara gratis. Rasanya menyenangkan melihat bagaimana museum di UK bukan hanya menjadi tempat menyimpan sejarah, tetapi juga ruang belajar dan bermain yang ramah untuk semua usia. Jadi, kalau suatu saat berkunjung ke Liverpool, sempatkan mampir ke kedua museum ini. Siapa tahu, seperti Arga, anak-anak justru pulang dengan cerita favoritnya sendiri—entah tentang kapal kecil yang mengapung di Little Liverpool, dinosaurus yang “hidup” di layar, atau malah… tertidur nyenyak di planetarium.
Summer mungkin musim yang ditunggu-tunggu banyak orang. Hadirnya matahari lebih sering, bebas pergi tanpa baju berlapis, dan siang hari lebih panjang yang membuat orang tak tergesa menjalani hari. Summer juga mungkin lebih cocok untuk para perantau asal Indonesia dan sekitarnya. Tapi kalo aku tanya Arga apa musim favoritnya di antara 4 musim yang sudah kami jalani, dia menjawab WINTER!
Aku pribadi suka semua musim, KECUALI SUMMER! Wkwkwk. Yaa, karena buat orang yang gampang pusing tiap habis kena terik matahari, summer itu sedikit menyiksa. Apalagi kalo harus menghadapi heatwave yang panasnya sangat menyengat dan udara rasanya engap. Jujur, aku sih lebih mending kedinginan daripada kepanasan. Kepanasan bikin aku cranky. Kalo di Jakarta lagi panas bisa naik TransJakarta sekalian ngadem. Kalo di sini naik bus atau tram yang ada malah berasa masuk oven.
Tapi tentu masih ada yang bisa disyukuri dari musim panas ini: cucian yang lebih cepat kering tanpa perlu menyalakan jemuran electricheat, bisa punya alasan untuk sering-sering jajan es krim, dan cuci piring yang jadi kegiatan favorit karena bisa sambil main air. Biasanya males banget urusan cuci piring karena kedinginan tiap kena air.
21 Juni 2026 jadi hari dengan siang terpanjang di UK. Di Sheffield sunrise-nya jam 4.36 dan sunset pada jam 21.38. Dan tentu saja ini berdampak pada jam shalat kami. Subuh di jam 02.29, Dzuhur di jam 13.09, Ashar jam 17.36, Maghrib jam 21.41, dan Isya jam 23.11. Arga yang biasanya bisa ikut shalat Maghrib/Isya berjamaah, jadi absen dulu selama summer karena sudah lewat dari jam tidurnya.
Langit Sheffield bulan Juni di jam 21.10
Nah menariknya saat banyak orang tua lain mengeluhkan drama menyuruh anak tidur karena jawabnya selalu “kan belum malam,” Arga justru sebaliknya. Jam tidur Arga tidak terpengaruh meskipun siang hari yang lebih panjang. Mungkin karena sudah terbiasa konsisten dengan rutinitas yang kami jalanin dari dia kecil. Sekitar jam 19.00, selesai makan malam dan bersih-bersih diri, kami sudah langsung masuk kamar. Rata-rata Arga tidur jam 19.30. Jam 20.00 saja sudah telat katanya, ngga peduli langit masih terang benderang dan ramai suara anak-anak yang masih bermain di luar. Sementara aku berusaha sekuat tenaga menahan ngantuk sampai waktu Maghrib tiba. Syukurlah ada fatwa ulama yang membolehkan Isya dijamak di waktu Maghrib selama summer.
Tapi yang namanya UK, summer aja masih banyak hujannya. Jadi ngga selalu panas dan terik sepanjang musim. Bisa seminggu tiada hari tanpa hujan, lalu seminggu kemudian heatwave, lalu berikutnya hujan kembali. Benar-benar daya tahan tubuh harus kuat untuk menghadapi anehnya cuaca UK.
Menjalani summer pertama di UK membuatku sadar bahwa beradaptasi bukan hanya soal bahasa, budaya, atau makanan. Bahkan hal sesederhana panjangnya siang hari dan waktu shalat pun membutuhkan penyesuaian. Ada rutinitas yang berubah, ada kebiasaan yang harus diatur ulang, dan ada rasa kagum setiap kali menyadari bahwa kami sedang menjalani sesuatu yang dulu hanya dibaca dari cerita orang lain.
Meski masih sering mengeluh saat heatwave datang, aku tahu suatu hari nanti masa-masa ini akan menjadi bagian dari kenangan yang dirindukan. Tentang Arga yang tetap tidur nyenyak saat matahari belum benar-benar tenggelam, tentang menunggu waktu maghrib sambil menahan kantuk, dan tentang belajar menikmati setiap musim dengan segala keunikannya. Karena pada akhirnya, setiap musim di perantauan selalu membawa cerita yang layak disimpan.
Memasuki musim panas memang menjadi waktu yang pas untuk mengajak anak berpetualang. Waktu siang yang lebih panjang membuat perjalanan terasa lebih santai dan tidak terburu-buru. Ditambah lagi cuaca yang cenderung cerah, sehingga lebih banyak aktivitas luar ruang yang bisa dinikmati bersama keluarga.
Sabtu lalu, aku mengajak Arga ke Eastfield Farm di Doncaster untuk mencoba pengalaman petik stroberi langsung dari kebunnya. Sejak diberi tahu rencana itu, Arga sudah terlihat sangat antusias. Ia terus bertanya seperti apa pohon stroberi dan bagaimana cara memetik buahnya.
Dari Sheffield, kami naik kereta menuju Doncaster. Perjalanan hanya melewati dua stasiun dan memakan waktu sekitar 20 menit. Dari Stasiun Doncaster, kami berjalan ke Doncaster Interchange untuk melanjutkan perjalanan dengan bus nomor 22. Setelah kurang lebih 20 menit di perjalanan, sampailah kami di pintu masuk Eastfield Farm.
Hari itu suasananya cukup ramai. Mungkin karena musim petik stroberi baru saja dimulai. Arga langsung mengambil ember yang disediakan dan bergegas menuju area perkebunan. Menariknya, masuk ke Eastfield Farm tidak dipungut biaya. Pengunjung hanya perlu membayar stroberi yang berhasil dipetik dengan harga £4,9 per kilogram. Perjalanan menuju area kebun stroberi ternyata cukup jauh dari pintu masuk. Kami harus melewati ladang gandum dengan jalur yang tidak terlalu lebar sambil berpapasan dengan banyak pengunjung yang sudah selesai memetik. Melihat ember-ember mereka yang penuh berisi stroberi, Arga jadi semakin tidak sabar. Katanya takut kehabisan 😆
Dan ternyata kekhawatirannya ada benarnya juga. Area yang paling dekat dengan pintu masuk sudah hampir tidak menyisakan buah matang. Kami pun berjalan lebih jauh ke bagian tengah kebun yang masih dipenuhi stroberi merah segar.
Arga dan ayahnya semangat mencari stroberi yang paling besar dan merah
Begitu menemukan lokasi yang tepat, Arga langsung berlarian ke sana kemari mencari stroberi yang paling merah dan paling besar. Kami bahkan sempat berlomba menemukan stroberi dengan ukuran terbesar. Saking serunya kami sampai tidak terasa sedang berjalan di bawah terik matahari. Tahu-tahu ember kami sudah penuh, sementara Arga masih ingin memetik beberapa buah lagi yang menurutnya “terlalu sayang kalau ditinggal”.
Setelah puas berkeliling, kami kembali dengan seember stroberi yang cukup berat untuk dibawa. Rasanya manis sekali, bahkan beberapa yang warnanya belum sepenuhnya merah pun tetap terasa manis dan segar. Saat ditimbang, hasil panen kami mencapai 2,5 kilogram dan total yang harus dibayar sekitar £12,2. Melihat jumlahnya sebanyak itu, aku langsung berpikir bagaimana cara menghabiskannya sebelum keburu matang semua.
Arga dengan hasil panennya yang sudah penuh tapi masih ditambah terus
Sebelum pulang, kami sempat mampir ke kafe yang ada di area farm. Kami memesan cake, minuman dingin, dan tentu saja es krim. Sementara aku menikmati makanan dan beristirahat sejenak, Arga kembali bermain di hamparan rumput yang luas. Mulai dari berlari, bermain lempar tangkap, petak umpet, hingga menerbangkan pesawat kertas. Energi anak-anak memang seolah tidak ada habisnya, bahkan di tengah cuaca panas sekalipun.
Menjelang sore, kami bersiap kembali ke Sheffield. Perjalanan pulang diawali dengan menunggu bus nomor 22 menuju Doncaster Interchange, lalu dilanjutkan dengan kereta menuju Sheffield.
Perjalanan hari itu sebenarnya sederhana. Tidak ada wahana besar, tidak ada pertunjukan khusus, bahkan tujuan utamanya hanya memetik stroberi. Namun justru dari kegiatan sesederhana itulah tercipta banyak momen yang berkesan.
Melihat Arga bersemangat mencari stroberi terbesar, berjalan menyusuri kebun, lalu bermain bebas di rerumputan luas mengingatkanku bahwa kebahagiaan anak sering kali hadir dari pengalaman-pengalaman sederhana yang memberi mereka ruang untuk bereksplorasi. Dan mungkin, itulah salah satu hal yang membuat musim panas terasa begitu istimewa: lebih banyak waktu untuk keluar rumah, menikmati alam, dan menciptakan kenangan bersama.
Kalau sedang mencari ide aktivitas keluarga saat summer di Yorkshire dan sekitarnya, petik stroberi bisa menjadi salah satu pilihan yang layak dicoba.
Siapa yang baru tau kalo 11 Juni diperingati sebagai Hari Bermain Internasional? Jujur aja, aku ☝️Yaa aku sendiri juga baru tau ada yang namanya Hari Bermain Internasional. Kenapa sih bermain pakai dibikin hari peringatannya segala? Bukannya bermain itu setiap hari dilakukan? Nah, menarik nih..
Jadi International Day of Play ini baru ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada Maret 2024. Hal ini dimaksudkan untuk memperjuangkan dan melindungi hak anak untuk bermain. Adanya hari ini adalah untuk meningkatkan kesadaran kita tentang betapa pentingnya bermain bagi perkembangan dan kesejahteraan setiap anak. Peringatan ini adalah momentum yang tepat untuk mengajak orangtua, masyarakat, sekolah, serta pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, serta mendukung anak-anak belajar dan berkembang melalui kegiatan bermain.
Nah tema Hari Bermain Internasional tahun ini adalah “Protect play, protect childhood”. Tema ini menjadi pengingat bahwa masa kanak-kanak yang bahagia dan sehat didasarkan atas kesempatan anak untuk bermain.
Sayangnya di Indonesia sendiri kadang kesempatan anak untuk bermain masih terbatas. Di kota besar, ruang terbuka untuk anak bebas bermain masih sangat terbatas. Ada playground di mall-mall yang mungkin tidak semua lapisan masyarakat bisa menikmati karena harganya yang tidak terjangkau. Sementara itu, di daerah yang lebih terpencil mungkin masih tersedia ruang terbuka yang luas untuk bermain. Namun, fasilitas pendukung dan area bermain yang aman belum tentu tersedia.
Arga sedang bermain di salah satu playground di Sheffield. Hampir setiap minggu kami mengunjungi taman atau area bermain seperti ini karena lokasinya mudah dijangkau dan gratis.
Bersyukurnya kami sekarang tinggal di Sheffield, kota yang sangat ramah keluarga. Hampir di setiap area pemukiman terdapat taman, lapangan, atau playground yang bisa diakses gratis. Bahkan fasilitas bermain untuk anak-anak dengan disabilitas juga banyak tersedia sehingga lebih banyak anak bisa menikmati hak mereka untuk bermain. Kendalanya cuma di cuaca aja sih, yang lebih sering hujan daripada cerah jadi bikin males main di playground.
Arga bermain di Norfolk ParkPlayground, salah satu playground yang cukup besar di Sheffield
Tak usah bergerak jauh ke sekolah maupun pemerintah, coba yuk kita mulai dari rumah. Sebagai orangtua dari anak-anak kita, sudahkan kita memenuhi hak mereka untuk bermain? Sudahkah kita memfasilitasi mereka untuk bermain? Sudahkah kita memberikan kesempatan dan waktu untuk mereka bermain? Jangan-jangan kita terlalu fokus pada nilai, prestasi, dan berbagai keterampilan yang harus dikuasai anak. Sampai lupa bahwa pada dasarnya mereka masih anak-anak. Dan salah satu hak terpenting mereka adalah bermain.
Coba yuk kita flashback sebentar, dulu waktu kita kecil seusia anak kita sekarang, apa sih yang sering kita mainin? Mungkin permainan sederhana seperti kelereng, congklak, layangan, galasin. Sementara anak kita sekarang lebih sering mainnya PS, roblox, minecraft atau malah cuma nonton Youtube. Nah, kenapa ngga sesekali kita ajak anak-anak memainkan permainan yang dulu kita sukai? Sederhana, tapi aku yakin akan berkesan buat mereka, setidaknya memperkuat bonding antara orangtua dan anak.
Zaman emang semakin maju dan berkembang, tapi hak anak untuk bermain tetap harus diwujudkan.
Di era sekarang di mana gadget semakin dekat dengan kehidupan anak-anak, mengajak mereka bermain sejenak di alam bisa menjadi cara sederhana untuk memberikan pengalaman yang berbeda. Bermain di alam bukan hanya membuat anak sekedar lebih aktif bergerak, tetapi juga mengembangkan rasa ingin tahu, kemampuan observasi, kreativitas, hingga kepercayaan diri mereka.
Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan di alam dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi, dan mendukung perkembangan fisik maupun emosional anak. Alam juga memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar langsung dari lingkungan sekitarnya tanpa harus merasa sedang “belajar”.
Salah satu hal yang aku syukuri sejak tinggal di Sheffield adalah banyaknya ruang hijau dan destinasi alam yang ramah keluarga. Nggak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membuat anak senang. Justru beberapa momen paling berkesan bersama Arga terjadi saat kami sekedar berjalan-jalan dan bermain di alam.
Endcliffe Park
Salah satu tempat favorit yang tak jauh dari rumah kami adalah Endcliffe Park. Di sana terdapat sungai kecil yang langsung menarik perhatian Arga. Begitu mendengar suara gemericik air, dia langsung bersemangat dan ingin mendekat.
Main air di tepian sungai Endcliffe Park sambil mencari-cari batu untuk dilempar ke air
Aku memintanya memilih ranting dan daun dan mengajaknya ke atas jembatan. Dari sana kami melemparkan ranting dan daun ke sungai, lalu mengamati bagaimana benda-benda itu terbawa arus. Aktivitas yang sangat sederhana, tapi ternyata bisa bikin Arga begitu antusias. Dia berlarian mengikuti ranting dan daun sampai ke ujung sungai di gerbang taman.
Karena saat itu cuaca dan air sungai masih cukup dingin, kami tidak bermain air secara langsung. Kami menyebrangi sungai melalui batu-batu sebagai pijakan lalu duduk di batu besar di tepian sungai. Arga mulai mengumpulkan batu-batu kecil dan mencoba melemparkannya ke sungai. Karena penasaran dia terus mencoba melemparkan batu sampai yang berukuran besar sambil memperhatikan percikan yang dihasilkan. Dari kegiatan sederhana itu dia jadi belajar tentang batu yang ringan dan berat, berbagai ukuran batu, serta kenapa percikannya bisa berbeda-beda.
Rivelin Valley Park
Kami berkunjung ke Rivelin Valley Park saat Sheffield sedang mengalami heatwave. Arga yang tadinya ngga mau basah-basahan akhirnya tergoda untuk bermain di sungai.
Saat cuaca lagi panas terik dengan suhu tertinggi hingga 32° rasanya adem banget bisa main di sungai
Rasanya menyenangkan sekali berjalan di air yang dingin sambil mencari batu mana yang aman untuk dipijak dan mana yang licin. Aktivitas sederhana seperti ini ternyata cukup menantang dan membuat Arga fokus memperhatikan langkahnya sendiri.
Setelah puas bermain air, kami melanjutkan perjalanan menyusuri area hutan. Agar lebih semangat berjalan, aku memberi Arga tantangan kecil: mencari objek atau pemandangan yang menurutnya menarik untuk difoto dan dia boleh meminjam hpku untuk mengabadikannya.
Hasilnya cukup mengejutkan. Dari sudut pandang anak seusianya, ternyata dia bisa memilih mana yang layak diabadikan dan bagaimana angle pengambilan fotonya. Selain membuat perjalanan lebih seru, kegiatan ini juga melatih kemampuan observasi dan kreativitasnya.
Salah satu foto hasil jepretan Arga
Graves Park
Banyak orang mengenal Graves Park karena animal farm-nya yang populer untuk anak-anak. Namun, area hutannya juga tidak kalah menarik untuk coba dijelajahi.
Meskipun tidak seluas Rivelin Valley, jalur hutannya tetap menawarkan petualangan kecil yang menyenangkan. Beberapa bagian jalan ada yang berlumpur sehingga membuat perjalanan terasa lebih seru bagi anak-anak.
Ayah Arga dan Arga dengan tongkat petualangannya menyusuri hutan di dalam Graves Park
Di sini Arga sangat bersemangat mencari batang kayu yang bisa dijadikan tongkat petualangannya. Sepanjang perjalanan, dia juga terus mengamati dan mengomentari berbagai hal yang ditemuinya. Mulai dari batang pohon dengan ukuran berbeda, bunga berwarna-warni, sarang laba-laba, hingga suara burung yang bersahutan.
Mendengarkan komentar dan pertanyaan anak saat berada di alam sering kali membuatku sadar bahwa mereka memperhatikan jauh lebih banyak hal daripada yang kita kira.
Pengalaman mengajak Arga bermain di alam mengingatkanku bahwa membuat anak bahagia tidak selalu membutuhkan tiket masuk mahal atau tempat bermain yang mewah.
Terkadang, sungai kecil, beberapa batu, ranting pohon, jalan setapak di hutan, dan waktu yang dihabiskan bersama orang tua sudah lebih dari cukup. Di balik aktivitas yang terlihat sederhana itu, anak sebenarnya sedang belajar banyak hal: mengamati, bertanya, memecahkan masalah, mengenal lingkungan, dan menggunakan imajinasinya.
Yang terpenting, mereka mendapatkan kesempatan untuk merasakan dunia secara langsung, bukan hanya melalui layar.
Jadi kalau sedang mencari aktivitas akhir pekan bersama anak, mungkin bisa dicoba mengunjungi taman, hutan kota, atau area alam terdekat. Siapa tahu, petualangan sederhana itu justru menjadi kenangan yang paling berkesan bagi mereka.
Jujur, dulu waktu pertama aku dengar summer di UK suhunya bisa mencapai 30°C, yang ada dalam pikiranku, “di Indonesia juga segitu bahkan lebih panas tiap hari, aman dong ya berarti?” Ternyata di UK ada yang namanya heatwave, dan akhirnya aku merasakan sendiri bagaimana panasnya.
Heatwave di UK secara teknis ditetapkan saat suhu harian mencapai atau melebihi 25-28°C selama tiga hari berturut-turut. Dan panasnya heatwave ini ternyata memang beda rasanya 😭 Padahal bulan Mei harusnya belum masuk summer kan ya?
Minggu lalu memang cuaca di Sheffield cerah tanpa hujan sama sekali. Dan itu terjadi tepat saat liburan sekolah. Wah, harusnya cuaca cerah jadi menyenangkan dong ya buat ajak anak piknik di taman dan jalan-jalan? Namun sayangnya suhu udara terus naik bahkan mencapai 32°C. Mungkin kalau dibandingkan Indonesia angka itu masih terasa normal. Tapi entah kenapa, panasnya di sini benar-benar bikin tidak nyaman.
Di rumah Arga rewel kepanasan, apalagi saat waktunya tidur. Yang biasanya dia udah tidur sebelum jam 9, beberapa hari sampai hampir jam 10 dia masih gelisah kepanasan. Bahkan akhirnya dia sampai tidur tanpa baju, sesuatu yang nggak pernah dia lakukan sebelumnya 🤣 Aku juga berkali-kali terbangun karena udara terasa pengap sekali padahal pintu kamar sudah sengaja dibuka biar sirkulasi udara lebih lancar.
Diajak jalan-jalan ke luar rumahpun Arga tak semangat seperti biasanya. Baru jalan sebentar udah mengeluh capek dan berujung rewel. Aku yang kepanasan ditambah harus menghadapi rengekan Arga berujung jadi sakit kepala. Kliyengan bahkan sampai agak mual yang udah jarang banget aku rasakan sejak pindah ke sini. Kesalnya lagi, begitu masuk rumah bukannya terasa adem, malah seperti masuk oven. Baru aku sadar ternyata ada beberapa alasan kenapa heatwave di sini terasa lebih menyiksa dibanding panas tropis di Indonesia. 1. Rumah di UK Memang Dibuat untuk Menahan Panas Salah satu penyebab utamanya ternyata desain rumah di UK sendiri. Karena sebagian besar waktu di sini cuacanya dingin, rumah-rumah dibangun supaya hangat saat winter: dinding tebal, insulation di mana-mana, jendela double glazing, ventilasi minim agar udara dingin tidak masuk, dan lantai juga full karpet. Tapi masalahnya, saat summer datang, panas jadi terjebak di dalam rumah. Apalagi rumah di UK tidak memakai AC. Jadi walaupun di luar “hanya” 30 derajat, di dalam rumah rasanya bisa jauh lebih gerah.
Kalo waktu di Indo lagi kegerahan di luar ya langsung aja masuk rumah setel AC. Tapi disiningga bisa begitu 😭
2. Udara di UK Lebih Kering Hal lain yang baru aku rasakan adalah udara kering saat heatwave. Selama semingguan kemarin ini hidungku terasa kering banget dan jadi banyak “upil” bahkan sampai ada darahnya. Aku pikir cuma cuaca dingin yang bisa bikin hidung kering dan berdarah, ternyata heatwave ini justru lebih parah keringnya. Di Indonesia walaupun panas, udaranya lebih lembap, jadi tubuh rasanya tidak sekering ini.
3. Tubuh Kita Memang Terbiasa dengan Panas Tropis Kurasa tubuh kita yang besar di Indonesia juga sudah terbiasa dengan cuaca panas yang stabil sejak kecil. Sedangkan di UK, mayoritas waktu justru dingin atau sejuk. Jadi begitu suhu tiba-tiba naik drastis, badan terasa “kaget”. Makanya banyak orang UK sudah mulai kepanasan di suhu 28–30°C, sementara orang Indonesia awalnya mungkin mikir, “Ah cuma segitu.” Sampai akhirnya merasakan sendiri 🤣
Sekarang aku baru paham kenapa setiap ada heatwave, berita di UK langsung heboh. Karena memang infrastrukturnya, rumahnya, bahkan tubuh orang-orangnya tidak terlalu siap menghadapi panas ekstrem.
Eh tapi ada juga yang bisa disyukuri saat heatwave kemarin. Jemuranku jadi cepat kering meski dijemur dalam rumah tanpa nyalain heater jemuran. Dan aku juga manfaatin cuaca panas buat bikin tempe homemade. Waktu itu pernah coba bikin sampai 5 hari belum jadi, kemarin 2 hari aja udah terfermentasi sempurna deh..
Dan minggu ini UK kembali ke setelan dasar, mendung dan hujan dengan suhu belasan derajat. Alhamdulilah adeeeemm….
Bulan lalu akhirnya kami berkesempatan mewujudkan salah satu bucket listnya Arga: Menonton live monster truck show. Yaa, Arga waktu 4 tahunan memang suka banget sama monster truck. Jadi waktu tau kami akan pindah ke UK, salah satu hal yang langsung aku bilang ke Arga adalah “Nanti kita bisa nonton monster truck beneran di sana.” Dan tentu aja Arga jadi makin excited buat ke UK, nggak sabar mau lihat apa yang biasa ditontonnya cuma lewat video YouTube.
Sebenarnya kami menantikan untuk bisa nonton langsung Monster Jam show, tapi ternyata di tahun ini cuma ada di Cardiff (lumayan jauh dari Sheffield). Waktunya juga kurang pas karena ngga bertepatan dengan liburan sekolah. Tapi ternyata selain Monster Jam ada juga monster truck show dari Hot Wheels. Tahun ini temanya Glow and Fire dan ada beberapa kali show sepanjang tahun di beberapa kota. Akhirnya kami memilih show di M&S Bank Arena Liverpool yang bertepatan dengan libur Paskah bulan lalu.
Suasana saat kami memasuki arena, semua monster truck sudah siap terparkir di posisinya
Kami mengambil show terakhir di Minggu malam. Kebetulan waktu itu kami dapat harga promo dari ticketmaster sehingga hanya membayar seharga £58 untuk bertiga. Tidak ada antrian saat memasuki stadium. Kami langsung dibantu petugas untuk menemukan kursi yang sesuai dengan tiket kami. Memasuki arena suasananya langsung heboh. Musik keras ditambah anak-anak yang teriak excited di mana-mana. Monster Truck-nya Beneran Besar! Kalau lihat di YouTube rasanya sudah keren, tapi pas lihat langsung ternyata monster truck-nya BESAR banget. Ban-nya aja hampir setinggi orang dewasa. Yang paling bikin seru tentu pas mereka mulai atraksi: loncat, drifting, muter-muter membentuk donat dan menghancurkan mobil-mobil. Dan suara mesinnya benar-benar menderu kencang (jangan lupa bawa earmuff untuk anak-anak).
Ada 6 monster truck yang beraksi malam itu: Rhinomite, Bone Shaker, Gunkster, Tiger Shark, Mega Wrex, dan Skelasaurus. Favoritnya Arga adalah Tiger Shark, sementara favoritku, Bigfoot, tidak bisa ikut beraksi karena ada problem mesin. Aksi yang paling ditunggu-tunggu Arga adalah waktu monster truck menghancurkan mobil-mobil. Seru banget!
Di tengah pertunjukkan ada break untuk penonton yang ingin ke toilet atau membeli makanan dulu. Aksi monster truck juga diselingi dengan atraksi motor yang unjuk kebolehan melompat tinggi ke udara. Tambah seru deh..
Arga berpose saat break persiapan atraksi motor
Kalau anaknya suka mobil, Hot Wheels, atau kendaraan besar, menurutku ini worth it banget minimal sekali dicoba. Pengalamannya beda dibanding sekadar nonton video di rumah. Atmosfer live show, suara mesin, lampu, dan reaksi penonton bikin semuanya terasa jauh lebih seru. Yang excited bukan cuma anak-anak 🤣 Orang dewasa juga ikut kebawa hype pas lihat monster truck loncat-loncat di arena. Kalau nanti mereka tour lagi ke kota lain di UK, katanya sih Arga mau nonton lagi 😄
Sebelum menyusun itinerary liburan ke London, aku sempat mencari-cari referensi dari berbagai guidebook dan artikel wisata. Di situlah aku menemukan Hamleys Toy Store. Toko mainan yang berada di Regent Street ini diakui sebagai toko mainan tertua dan terbesar di dunia. Aku langsung membayangkan toko mainan seperti yang ada di film Home Alone dan tanpa pikir panjang langsung memasukkannya ke dalam itinerary liburan kami.
Hamleys Toy Store didirikan oleh William Hamley pada tahun 1760. Toko mainan ini memiliki tujuh lantai dengan luas total mencapai sekitar 54.000 meter persegi. Tapi Hamleys bukan sekadar toko mainan biasa. Tempat ini menawarkan pengalaman interaktif lewat demonstrasi mainan, pertunjukan kecil, dan berbagai aktivitas seru di hampir setiap lantainya. Bahkan sejak masuk pintu utama saja suasananya sudah terasa sangat meriah dan magical, terutama untuk anak-anak.
Ada Parade Badut Hamleys yang mengajak semua pengunjung bernyanyi dan bergoyang
Basement Hamleys Di lantai paling bawah ini pengunjung akan dibawa masuk ke dunia magis Harry Potter. Dari boneka, LEGO, hingga berbagai merchandise Harry Potter tersedia lengkap di sini. Selain itu ada juga section Pop Mart dengan aneka collectible toys dan merchandise bertema game maupun film yang sedang populer.
Lego Harry Potter seukuran Arga
Ground Floor Hamleys Di lantai dasar ini kita akan menemukan berbagai produk eksklusif Hamleys, souvenir, dan aneka mainan bertema London. Selain sambutan hangat dari beruang Hamleys yang ikonik, section Paddington Bear juga langsung mencuri perhatianku. Gemas banget dan rasanya khas London sekali.
Section Paddington Bear di dekat pintu masuk
First Floor Hamleys Lantai ini dikhususkan untuk bayi dan balita. Ada berbagai mainan preschool, buku anak, perlengkapan bayi, hingga permainan edukatif usia dini. Beberapa brand yang tersedia antara lain Fisher Price, Tomy, Number Blocks, dan lain-lain.
Second Floor Hamleys Lantai ini bisa jadi surga bagi para pecinta disney. Rasanya seperti ada di dalam Disney Store, koleksinya super lengkap. Selain itu ada juga boneka Barbie, LOL Surprise, Frozen yang lengkap dengan berbagai aksesorisnya, sampai Sylvanian Families. Ada juga Polly Pockets yang bikin aku nostalgia sama mainan masa kecilku dulu.
Third Floor Hamleys Di lantai ini tersedia berbagai board game dan puzzle untuk segala usia, serta berbagai macam perlengkapan untuk permainan outdoor. Ada juga section science dengan berbagai learning kit dan experiments tools, animal figures, dan juga art and craft. Yang menarik, di sini juga terdapat Build-A-Bear Workshop, tempat pengunjung bisa membuat boneka sesuai keinginan sendiri.
Fourth Floor Hamleys Lantai ini dipenuhi berbagai koleksi hobi dan collectible items, mulai dari model kit, mobil remote control, Star Wars, action figure superhero, hingga Pokémon. Rasanya lantai ini bakal jadi favorit bukan cuma anak-anak, tapi juga para ayah.
Arga betah banget main mobil remote controlnya
Fifth Floor Hamleys Lantai paling atas ini benar-benar surganya Arga: LEGO. Koleksinya besar banget dan lengkap sekali. Dari Lego Duplo, Lego classic, Lego City, Lego Disney, Lego Marvel, dan masih banyak lagi. Selain area LEGO, di lantai ini juga ada café yang jadi tempat sempurna untuk beristirahat setelah puas berkeliling dan eksplor seluruh isi Hamleys.
Pada akhirnya, Hamleys bukan cuma tentang belanja mainan. Tempat ini lebih terasa seperti playground raksasa yang penuh warna dan imajinasi. Bahkan untuk orang dewasa pun rasanya sulit untuk tidak ikut excited melihat semua koleksi dan suasana di dalamnya.
Dan buatku pribadi, melihat Arga begitu antusias mencoba berbagai mainan, berlari dari satu lantai ke lantai lain, sampai bingung memilih apa yang paling ia suka, justru jadi bagian paling menyenangkan dari kunjungan ini. Kadang memang sesederhana itu definisi liburan keluarga yang menyenangkan — bukan tentang tempat yang paling mewah atau itinerary yang paling padat, tapi tentang melihat anak merasa benar-benar bahagia.