Tidak terasa sudah hampir satu tahun kami tinggal di Sheffield. Rasanya baru kemarin kami sibuk mencari rumah pertama, dan sekarang sudah waktunya bagi kami untuk mencari rumah yang baru.
Awalnya aku pikir mencari rumah kedua akan jauh lebih mudah.
Kami sudah mengenal Sheffield. Kami sudah tahu area mana yang menurut kami ideal, sudah tahu lokasi mana yang ingin dihindari, dan yang paling penting, kali ini kami bisa melakukan viewing rumah secara langsung.
Berbeda dengan saat mencari rumah pertama. Waktu itu kami hanya bermodalkan rekomendasi dari teman-teman Indonesia yang sudah lebih dulu tinggal di sini tentang lokasi mana yang paling oke. Viewing rumah pun dibantu oleh teman kami, sementara kami hanya bisa melihatnya melalui videocall.
Ternyata, mencari rumah kedua justru lebih sulit dari yang kubayangkan.
Bukan karena kami tidak tahu mau tinggal di mana, tetapi karena sekarang kami punya rumah pertama sebagai pembanding.
Rumah pertama kami bisa dibilang berada di lokasi premium. Letaknya sangat dekat dengan area city centre, hanya saja memang agak jauh dari sekolah Arga. Rumahnya juga terbilang sangat nyaman. Living room-nya cukup luas dan area dapurnya terpisah.
Kebanyakan rumah di sini memiliki dapur yang menyatu dengan dining room dan ruang tamu. Jadi, memiliki ruang dapur yang terpisah menurutku adalah salah satu privilege tersendiri.
Lantas, kenapa kami ingin pindah?
Alasan utamanya adalah karena rumah kami sekarang berada di flat lantai 4 tanpa lift.

Sebetulnya kami sudah terbiasa. Naik turun tangga setiap hari juga bukan masalah besar. Hanya saja, kalau habis belanja, baru terasa beratnya naik sampai lantai 4.
Apalagi kalau belanjaannya lengkap: beras, telur, minyak, susu, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Rasanya baru setengah perjalanan sudah ingin menyerah dan berharap ada yang bisa membawakan belanjaan sampai atas 😅
Tapi ternyata tinggal di lantai 4 juga punya sisi menyenangkan.

Pencahayaan dan sirkulasi udara di rumah kami sangat baik sepanjang hari. Dari pagi sampai sore, kami masih mendapatkan cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Membuka semua jendela juga membuat rumah terasa adem karena angin sepoi-sepoi bisa masuk dengan leluasa.
Jadi, meskipun ada alasan yang membuat kami ingin pindah, semakin kami mencari rumah baru, semakin kami sadar bahwa rumah yang sekarang ternyata punya banyak kelebihan.
Dan di situlah masalahnya.
Ada rumah yang berada di lantai bawah, tetapi terasa gelap karena kurang mendapatkan cahaya matahari.
Ada yang berada di lantai atas dengan fasilitas lift, tetapi bangunannya terasa cukup tua.
Ada yang lokasinya dekat dengan sekolah Arga, tetapi menurutku areanya terlalu sepi dan cukup jauh berjalan kaki ke city center.
Ada yang hanya berada di lantai 1, tetapi living room-nya sangat sempit.
Ada juga rumah yang berupa satu rumah utuh, bukan flat, tetapi kamar Arga dan kamar kami berada di lantai yang berbeda.
Pokoknya, selalu saja ada satu hal yang membuat kami merasa kurang cocok.
Belum lagi kami bertiga punya sudut pandang yang berbeda.
Ayahnya Arga suka, aku dan Arga tidak.
Arga suka, aku dan ayahnya tidak.
Aku suka, yang lain tidak.
Begitu terus.
Mungkin inilah salah satu perbedaan mencari rumah sekarang dibandingkan saat pertama kali datang ke Sheffield. Dulu, kami hanya punya satu tujuan: yang penting dapat rumah dan bisa segera tinggal.
Sekarang, kami sudah tahu seperti apa rasanya tinggal di Sheffield. Kami sudah tahu rumah seperti apa yang membuat kami nyaman, lokasi seperti apa yang kami sukai, dan hal-hal kecil apa yang ternyata penting untuk kehidupan sehari-hari.
Akhirnya, mencari rumah kedua bukan lagi sekadar mencari tempat untuk tinggal.
Kami sedang mencari rumah yang bisa menggantikan kenyamanan rumah pertama—dan ternyata, itu tidak mudah.
Bahkan setelah beberapa kali viewing, aku sendiri jadi mulai bertanya-tanya: apakah kami benar-benar harus pindah?
Leave a comment