Sekolah di UK ternyata punya banyak kegiatan sepanjang tahun. Hampir di setiap term selalu ada acara yang diselenggarakan. Mulai dari perayaan keagamaan seperti Eid Party dan Nativity saat Christmas, acara musiman seperti Winter Fayre dan Summer Sports Day, hingga peringatan seperti World Book Day dan perayaan 100 tahun kelahiran Sir David Attenborough, seorang ahli biologi ternama. Selain itu, setiap kelas juga biasanya memiliki beberapa field trip selama satu tahun ajaran.
Yang membuatku senang, orang tua juga diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sekolah. Mulai dari diundang menonton penampilan anak, menghadiri Winter maupun Summer Fayre, hingga menjadi parent volunteer saat field trip. Selama Arga duduk di Year 1, aku sudah tiga kali menjadi parent volunteer.
Mendampingi Trip ke Library
Pengalaman pertamaku menjadi parent volunteer adalah saat mendampingi anak-anak Year 1 berkunjung ke library. Tujuan kegiatan ini adalah mengenalkan library sebagai tempat yang menyenangkan sekaligus menumbuhkan minat baca sejak dini.
Saat itu hanya ada tiga guru yang mendampingi hampir 30 murid. Karena itulah beberapa orang tua diminta ikut membantu. Lokasi library tidak jauh dari sekolah, hanya sekitar 15 menit berjalan kaki.
Ternyata mengatur hampir 30 anak di jalan umum bukanlah hal yang mudah, apalagi harus beberapa kali menyeberang jalan. Selalu ada saja anak yang usil, berbicara terlalu keras hingga instruksi guru tidak terdengar, atau tidak mau tetap berada di barisan.
Lucunya, begitu sampai di library mereka langsung bisa duduk dengan rapi dan mendengarkan penjelasan dengan sangat tenang. Setelah itu, mereka diberi kesempatan memilih satu buku untuk dipinjam. Aku membantu anak-anak melakukan peminjaman mandiri menggunakan mesin self-service dengan bantuan staf library. Sebagai penutup, setiap anak mendapatkan stiker sebelum kembali berbaris menuju sekolah.
Trip ini berlangsung saat Arga baru mulai bersekolah. Dari pengalaman itu aku jadi lebih mengenal teman-teman sekelasnya. Sejak saat itu mereka jadi sering mengajakku bercanda setiap bertemu di kelas, meskipun terkadang aku masih harus menebak-nebak apa yang mereka katakan karena logat bahasa Inggris mereka yang masih khas anak-anak.
Membacakan Buku saat World Book Day
Pengalaman berikutnya adalah saat peringatan World Book Day. Karena murid-murid di kelas Arga berasal dari berbagai negara, tema tahun itu adalah mengenalkan berbagai bahasa di dunia. Beberapa orang tua diundang untuk membacakan buku cerita dari negara asal masing-masing.
Untungnya aku membawa beberapa buku cerita dari Indonesia. Aku memilih buku berjudul “Monster Semut” untuk kubacakan di kelas Arga. Ceritanya kubacakan dalam bahasa Indonesia, kemudian kusampaikan ringkasan singkatnya dalam bahasa Inggris sambil menunjukkan ilustrasi di setiap halaman agar anak-anak tetap bisa mengikuti jalan ceritanya.
Meski hanya tampil di depan anak-anak berusia lima hingga enam tahun, ternyata rasa gugup dan deg-degan tetap ada. Syukurlah semuanya berjalan lancar. Teman-teman Arga terlihat antusias mendengarkan cerita dan bahkan mampu menjawab beberapa pertanyaan sederhana tentang isi buku. Saat ada pertanyaan dari anak-anak yang membuatku kebingungan, guru Arga juga dengan sigap membantu menjelaskannya.
Selain aku, ada orang tua lain yang membacakan cerita dalam bahasa Malaysia dan bahasa Kurdistan. Aku bahkan sempat terkejut melihat buku dari Kurdistan yang menggunakan tulisan Arab tanpa harakat.
Menurutku, kegiatan seperti ini sangat berkesan, bukan hanya untuk orang tua, tetapi juga untuk anak-anak. Mereka bisa mengenal bahasa dan budaya dari berbagai negara sekaligus belajar menghargai perbedaan sejak usia dini.
Mendampingi Field Trip ke Cathedral
Pengalaman terakhirku sebagai parent volunteer di Year 1 adalah saat mendampingi field trip ke Cathedral. Meskipun mayoritas murid di kelas Arga beragama Islam, pelajaran Religious Education tetap mengajak mereka mengunjungi Cathedral. Bukan semata-mata sebagai tempat ibadah umat Kristiani, tetapi juga sebagai salah satu bangunan bersejarah di Sheffield.
Trip ini diikuti oleh 20 anak dengan tiga guru pendamping dan empat orang tua volunteer. Perjalanan menuju Cathedral ditempuh menggunakan tram karena halte berada tidak jauh dari sekolah dan berhenti tepat di depan Cathedral.
Mengingat pengalaman saat berjalan kaki ke library, awalnya aku membayangkan akan sangat sulit membawa anak-anak naik transportasi umum. Namun ternyata mereka cukup kooperatif dan selalu mendengarkan arahan guru. Walaupun, tentu saja, tetap ada beberapa anak yang harus diawasi lebih ekstra.
Sesampainya di Cathedral, mereka tampak sangat antusias mendengarkan penjelasan dari guide. Anak-anak juga begitu kritis dan tidak ragu mengajukan banyak pertanyaan.
Setelah berkeliling, mereka mengikuti kegiatan arts and crafts. Nah, ini tentu menjadi bagian favorit Arga. Mereka membuat souvenir dari tanah liat yang dicetak berbentuk kerang, lalu menghiasnya sesuai kreativitas masing-masing.
Bagiku sendiri, perjalanan ke Cathedral juga menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Seandainya tidak ikut sebagai parent volunteer, mungkin aku tidak akan pernah memiliki kesempatan menjelajahi seluruh bagian Cathedral sambil mendengarkan penjelasan lengkap dari pemandunya.
Sayangnya, sekolah di UK sangat menjaga privasi anak-anak sehingga aku tidak bisa mengabadikan momen saat menjadi parent volunteer. Meski begitu, pengalaman ini memberiku kesempatan belajar banyak hal. Aku melihat langsung bagaimana guru menangani karakter setiap anak yang berbeda, sekaligus merasakan sendiri bahwa mendampingi puluhan anak dalam sebuah perjalanan ternyata membutuhkan kesabaran, kerja sama, dan perhatian yang luar biasa.
Menjadi parent volunteer mungkin terlihat sederhana, tetapi bagiku ini adalah salah satu pengalaman paling berharga selama tinggal di UK. Bukan hanya karena bisa lebih dekat dengan kehidupan sekolah Arga, tetapi juga karena aku mendapat kesempatan belajar dari sistem pendidikan di sini sekaligus menciptakan kenangan yang akan selalu kami ingat.
Leave a comment