Jendela Cerita Mama Arga

Di balik jendela, banyak cerita tumbuh dan bermakna

Pertengahan Oktober, kami menghabiskan akhir pekan dengan suasana yang berbeda. Kami berlibur ke Blackpool, sebuah kota resor di tepi Laut Irlandia yang berjarak sekitar tiga jam perjalanan kereta dari Sheffield, dengan satu kali transit di Manchester.

Blackpool terkenal dengan pantainya dan beragam tempat hiburan keluarga, mulai dari amusement park, arcade, SEA LIFE hingga Madame Tussauds.

Saat tiba di stasiun Blackpool, kami langsung disambut angin kencang. Ramalan cuaca memang menunjukkan langit cerah, tetapi angin akan bertiup kencang sepanjang hari. Baru saja berjalan keluar stasiun, topiku sudah terbang terbawa angin.

Di tengah angin yang membuat kami harus berjuang setiap kali berjalan melawannya, Arga justru terlihat begitu menikmati suasana. Baginya, angin yang membuat kami kesulitan berjalan itu malah menjadi bagian dari keseruan liburan.

“I love it. It’s so much fun!”

Kata-kata itu berkali-kali ia ucapkan.

Tak jauh berjalan dari stasiun, kami sudah bisa melihat laut. Angin yang kencang ternyata juga membuat ombak begitu besar. Air laut sedang pasang, tidak terlihat hamparan pasir pantai, bahkan sesekali air laut menyiprat hingga ke jalanan dan membuat kami sedikit basah.

Pemandangan yang sempat membuatku bengong dan berpikir telah memilih waktu yang salah untuk berkunjung ke Blackpool karena cuaca yang tidak bersahabat

Aku sempat kecewa karena kupikir kami tidak akan bisa bermain di pantai hari itu.

Namun, ternyata menjelang sore, air laut mulai surut dan hamparan pasir terbentang luas. Ombak pun mulai tenang, meskipun hembusan angin masih tetap dahsyat.

One fine afternoon in Blackpool

Arga berlari ke sana kemari dengan begitu bahagia. Seolah-olah pantai itu adalah taman bermain raksasa miliknya. Bahkan, ketika sempat dikejar anjing yang juga sedang bermain di pantai, ia tetap tidak kapok. Tak lama kemudian, ia kembali berlarian seperti sebelumnya.

Anak kecil super happy berlari dan melompat ke sana ke mari. Air lautnya terlalu dingin untuk bermain air.

Hari itu, di tengah angin yang begitu kencang dan pantai yang berubah wajah dari siang ke sore, Arga sempat mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat.

“This is one of the best days in my life.”

Setelah menunggu di pantai sampai matahari terbenam, kami memutuskan mencoba fish and chips untuk makan malam. Kebetulan, kami sempat melewati sebuah restoran fish and chips halal yang ramai pengunjung.

Tak lengkap rasanya ke Blackpool tanpa menikmati fish and chips, kan? Walaupun, menurutku, rasanya standar-standar saja.

Kami melanjutkan perjalanan malam itu dengan menyusuri jalan di sepanjang tepian pantai, dari Central Pier menuju North Pier. Angin masih bertiup kencang, tetapi kami tetap menikmati hiasan lampu warna-warni dari festival Blackpool Illuminations yang sedang berlangsung.

Malam itu seharusnya juga ada pertunjukan kembang api di Blackpool. Aku sudah memberi tahu Arga tentang acara ini sejak jauh-jauh hari. Jadi, ketika mengetahui pertunjukannya dibatalkan karena angin kencang, aku sempat khawatir dia akan kecewa.

Ternyata, jawabannya justru membuatku terdiam.

“Begini aja udah bagus kok, Ma. I am happy.”

Sesederhana itu.

Blackpool Tower saat Blackpool Illumination berhiaskan lampu yang berganti-gamti warna

Tidak ada kembang api, tetapi dia sudah bahagia. Tidak semua yang kami rencanakan berjalan sesuai harapan, tetapi hari itu tetap menjadi salah satu hari terbaik dalam hidupnya.

Dan mungkin, di antara semua tempat yang kami kunjungi dan pengalaman yang kami coba selama tinggal di UK, Blackpool mengajarkanku satu hal sederhana: terkadang, kenangan terbaik justru lahir dari hal-hal yang tidak pernah kita rencanakan.

Hari itu, Arga tidak membutuhkan kembang api untuk merasa bahagia.

Dan aku? Pulang dengan satu kenangan yang rasanya akan kusimpan lama sekali.

Mungkin, inilah yang membuat Blackpool begitu spesial bagi Arga.

Berbeda dari kota-kota yang sebelumnya kami kunjungi, kali ini tidak ada museum yang kami jelajahi atau bangunan tua yang kami kagumi. Sebagian besar keseruannya justru datang dari hal-hal sederhana: berlari di pantai, bermain pasir, mengumpulkan kerang, dan menikmati angin kencang yang bagi kami orang dewasa terkadang terasa merepotkan.

Tapi mungkin memang sesederhana itu cara anak-anak menikmati liburan.

Mereka tidak selalu membutuhkan tempat wisata yang megah atau aktivitas yang sudah direncanakan. Terkadang, cukup dengan diberi ruang untuk berlari, bermain, dan menikmati apa yang ada di hadapan mereka, sebuah perjalanan bisa berubah menjadi kenangan yang luar biasa.

Dan ketika Arga mengatakan bahwa hari itu adalah salah satu hari terbaik dalam hidupnya, aku jadi sadar bahwa pengalaman yang paling berkesan tidak selalu harus menjadi pengalaman yang paling istimewa menurut ukuran orang dewasa.

Kadang, kebahagiaan justru hadir dari hal-hal sederhana yang bahkan tidak pernah kita rencanakan.

Sepulang dari Blackpool, Arga mencoba melukis Blackpool Tower. Mungkin baginya, perjalanan itu terlalu berkesan untuk sekadar menjadi kenangan. Ia ingin mengabadikannya dengan caranya sendiri.
Posted in

Leave a Reply