Jendela Cerita Mama Arga

Di balik jendela, banyak cerita tumbuh dan bermakna

Akhir September lalu, akhirnya kami resmi pindah ke rumah baru. Arga yang tadinya sedih dan nggak mau pindah justru menjadi yang paling semangat ketika memasuki rumah baru kami. Sementara aku? Malah bengong, bingung, dan sedikit kecewa.

Saat pertama kali memasuki rumah lama, kondisinya memang kotor dan berdebu. Namun, rumah itu terasa baru karena temboknya baru dicat ulang dan karpetnya diganti sebelum kami datang. Sementara itu, saat memasuki rumah kedua ini, vibes-nya langsung terasa berbeda. Kesan pertama yang muncul adalah rumah lama dengan tembok berwarna agak kusam, beberapa noda, dan retakan kecil di sana-sini. Belum lagi karpet yang sudah terlihat tua serta furnitur kayu yang semakin menambah kesan jadul.

Semangatku semakin menguap ketika melihat kondisi rumah yang ternyata juga kotor dan berdebu, bahkan dipenuhi sarang laba-laba hampir di setiap sudutnya. Padahal, kami sudah meminta agar rumah dibersihkan secara menyeluruh sebelum ditempati. Pihak letting agent pun mengatakan bahwa rumah sudah dibersihkan sebelum serah terima kunci. Entah standar kebersihan mereka yang berbeda atau bagaimana. Yang jelas, kami akhirnya harus bersih-bersih terlebih dahulu sebelum mulai memindahkan barang-barang dari rumah lama.

Proses pindahan berlangsung selama tiga hari. Jarak antara rumah lama dan rumah baru yang hanya sekitar tiga menit berjalan kaki menjadi keuntungan tersendiri. Dalam sehari, kami bisa bolak-balik tiga sampai lima kali untuk mengangkut barang-barang. Syukurnya, Arga juga selalu bersemangat dan sangat membantu selama proses pindahan.

Walaupun punya banyak kekurangan, rumah baru ini tetap memiliki beberapa kelebihan dibandingkan rumah lama. Bukan lagi tinggal di flat, melainkan di rumah yang langsung di atas tanah (grounded house), tentu menjadi nilai tambah tersendiri. Kini kami tak perlu lagi naik tangga sampai lantai empat. Nggak perlu khawatir lagi ketika kalap berbelanja sampai satu troli penuh dan berat. Tinggal dorong masuk rumah tanpa harus berjibaku dengan tangga ๐Ÿ˜†

Kamar di rumah baru ini juga jauh lebih luas. Arga yang paling happy karena sekarang semua mainannya bisa disimpan rapi di dalam kamar, bahkan koleksi LEGO-nya pun bisa dipajang. Selain itu, kami juga punya halaman belakang yang cukup luas. Walaupun artinya ada pekerjaan tambahan untuk mengurus halaman, setidaknya sekarang aku bisa menjemur pakaian dengan leluasa di bawah sinar matahari (meski mungkin akan jarang juga langit UK cerah dengan terik matahari).

Backyard rumah kami yang membuat kami jadi punya kebiasaan baru: membersihkan daun yang berguguran, memotong rumput, menjemur pakaian, dan lain-lain

Rumah baru, kebiasaan baru. Tinggal di tempat yang berbeda berarti kami juga harus kembali belajar dan beradaptasi. Mulai dari mempelajari cara menggunakan kompor, oven, dan mesin cuci yang berbeda tipe dari rumah sebelumnya. Membiasakan diri dengan susunan barang di dapur karena lemari penyimpanannya lebih kecil.  Sampai belajar menggunakan heater yang kini menggunakan gas, berbeda dengan electric heater di rumah lama.

Termasuk beradaptasi dengan kebiasaan baru Arga. Sekarang, setiap pulang sekolah, ia akan sibuk sendiri di kamarnya. Maklum, dulu kamar Arga sangat sempit, hanya cukup untuk kasur single dan meja kecil tempat menyimpan buku serta sedikit mainannya. Mainan yang lain terpaksa disimpan di ruang tamu sehingga ia lebih banyak bermain di ruang tamu. Sekarang, ketika semua barangnya sudah berada di dalam kamar, ia seperti punya dunia sendiri. Bisa bermain, berkreasi, dan menikmati ruang pribadinya dengan lebih leluasa.

Koleksi LEGO-nya Arga yang kini bisa dipajang di lemari di sudut kamarnya

Saat tulisan ini dibuat, kami baru sekitar dua minggu tinggal di rumah baru. Masih banyak hal yang perlu dibenahi dan masih banyak kebiasaan yang harus disesuaikan. Ternyata, pindah rumah bukan sekadar memindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga tentang belajar mengenal tempat baru dan menciptakan kenyamanan di dalamnya.

Tak pernah ada yang sempurna. Namun, belajar dari pengalaman saat pertama kali menempati rumah sebelumnya, aku yakin, pelan-pelan rumah ini juga akan terasa seperti rumah bagi kami. Bukan hanya tempat untuk pulang dan beristirahat, tetapi tempat di mana kami kembali membangun rutinitas, menyimpan cerita, dan menciptakan kenangan baru.

Posted in

Leave a Reply