Jendela Cerita Mama Arga

Di balik jendela, banyak cerita tumbuh dan bermakna

  • Saat menyusun itinerary liburan, selain destinasi wisata yang dituju, masalah makan juga menjadi hal yang paling aku pikirkan. Sebagai muslim, awalnya aku sempat berpikir bakal susah mencari makanan halal di kota sebesar London. Ternyata sekarang pilihan makanan halal di sini cukup beragam dan mudah ditemukan. Dan yang paling bikin happy, beberapa tempat yang kami kunjungi ternyata cukup family-friendly dan nyaman untuk membawa anak kecil.

    Ini adalah beberapa rekomendasi tempat makan halal yang sempat kami coba selama di London:
    Warung Nusantara London

    Menu Warung Nusantara London, rasanya bingung mau pesan apa, pengen semuanya hihi

    Ini adalah tempat makan yang wajib masuk dalam itinerary-ku. Memang kami niat ke sini untuk mengobati rasa kangen masakan Indonesia. Tempat makannya tidak terlalu luas dan saat kami datang dalam kondisi yang ramai, sehingga kami harus menunggu antrian waiting list yang untungnya tidak terlalu lama.

    Menu pilihan kami. Nasi Tempong, Pecel Lele dan Sop Iga. Hati puas, perut kenyang

    Menu di sini cukup beragam, mulai dari ayam penyet, sop iga, sate, pempek, gado-gado, hingga aneka gorengan dan camilan khas Indonesia lainnya. Suasana restorannya juga terasa akrab karena waiters dan mayoritas pengunjungnya orang Indonesia. Rasanya seperti sedang pulang sebentar ke Indonesia di tengah sibuknya kota London. Dan perut juga terasa benar-benar tenang bisa menikmati nasi hangat lengkap dengan lauk khas Indonesia.

    Bali Bali Restaurant
    Berlokasi tak jauh dari Covent Garden, tempat ini juga jadi salah satu restoran Indonesia halal yang cukup populer di London. Kalau Warung Nusantara terasa seperti rumah makan rumahan, Bali Bali punya vibes resto otentik Indonesia. Tak hanya masakan khas Indonesia, resto ini juga menawarkan menu khas Malaysia dan Thailand.
    Menu yang kami coba waktu itu adalah Nasi Lemak dan Sate Ayam. Rasanya enak dan porsinya juga cukup mengenyangkan. Yang paling penting Arga doyan banget dan cukup untuk mengisi tenaga sebelum lanjut berkeliling museum lagi.

    Nasi Lemak komplit seharga £15 dan Sate Ayam seharga £11.5


    The Food District – Edgware Road

    Suasana di TheFood District, tempatnya bersih, nyaman dan tidak terlalu ramai pengunjung.

    Ini adalah satu tempat menarik untuk berburu makanan halal yang aku temukan lewat youtube. Lokasinya di Edgware Road, berupa foodcourt dengan semua tenant-nya sudah bersertifikasi halal. Pilihan juga sangat banyak, ada lebih dari 15 tenant. Tinggal pilih sesuai selera, mau masakan Western, Chinese, Japanese, Marocco, Arabian, Malaysian, Vietnamese, Italian, lengkap banget deh.

    Pilihan kami waktu itu jatuh pada Rice & Roast dengan menu andalan Roasted duck dan juga Hainan Chicken Rice. Bebeknya empuk, porsi nasinya pas, dan sausnya cocok di lidah.


    Borough Market
    Sebagai salah satu market paling terkenal di London, tentu saja Borough Market juga masuk daftar kunjungan kami. Tempat ini surganya pecinta kuliner karena pilihan makanannya benar-benar sangat banyak dari berbagai negara.
    Meski tidak semua tenant halal, ternyata cukup banyak pilihan halal atau seafood-based food yang aman untuk dicoba. Aku sempat berkeliling cukup lama sambil melihat berbagai makanan unik yang jarang ditemui sebelumnya.
    Yang paling seru dari Borough Market sebenarnya bukan cuma makanannya, tapi suasananya. Ramai, hidup, penuh aroma makanan dari berbagai penjuru dunia, dan rasanya benar-benar menggambarkan betapa multikulturalnya London.

    Waffle dengan topping saus coklat dan marsmallow seharga £7.5


    Dari pengalaman berburu makanan selama di London, aku jadi sadar kalau kota ini memang sangat ramah untuk muslim traveler. Pilihan makanan halal sekarang sudah mudah ditemukan dan variasinya juga luar biasa banyak. Bahkan rasanya perjalanan ke London belum lengkap tanpa mencoba kuliner dari berbagai budaya yang hidup berdampingan di kota ini.

  • Term break di pertengahan Februari lalu kami sekeluarga memutuskan untuk liburan ke London, sekalian aku ada keperluan mengurus paspor di KBRI. Karena ini adalah kunjungan pertama kami ke London, selain landmark-landmark kota London yang utama, museum juga wajib masuk dalam itinerary. Apalagi waktu itu masih musim dingin dan sering hujan, jadi destinasi indoor lebih jadi pilihan daripada outdoor seperti park dan playground.

    London memang terkenal punya banyak museum yang luar biasa. Museum-museum berkelas dunia tapi free tiket masuknya. Jadi pasti sayang banget kalo dilewatkan. Museum juga jadi destinasi yang pas dikunjungi apalagi untuk keluarga dengan anak kecil seusia Arga yang lagi hobi eksplor ini-itu.

    Natural History Museum

    Memasuki Natural History Museum disambut oleh bola dunia besar

    Berlokasi di South Kensington, museum bergaya arsitektur Romawi dengan sentuhan gotik ini merupakan salah satu museum terbesar di dunia dalam hal ukuran koleksi. Koleksinya ada lebih dari 80 juta spesimen botani, entomologi, mineralogi, paleontologi, dan zoologi. Yang ikonik di sini adalah kerangka paus biru berukuran 28,3m dan juga replika dinosaurus.

    Untuk mengunjungi museum ini sebaiknya booking dari jauh hari untuk dapat slot waktu yang sesuai dengan keinginan. Bisa datang on-the-spot tapi ada antrian yang tergolong sangat panjang. Museum ini tidak memungut biaya tiket alias gratis.

    Dari area pintu masuk yang lain, langsung disambut fosil dinosaurus yang sangat besar

    Saat kami berkunjung ke museum ini kondisinya sangat padat pengunjung. Mungkin karena sedang musim liburan sekolah. Tapi saking crowdednya malah jadi bikin Arga ngga nyaman dan rewel. Alhasil kami belum sempat eksplor ke semua zona pamerannya. Semoga suatu saat kami bisa balik lagi dengan kondisi yang lebih kondusif.

    British Museum

    Begitu masuk ke British Museum aku dan Arga langsung kompak bilang “wow” karena takjub akan desain museum ini

    Museum ini merupakan salah satu museum yang terbesar di Inggris. Museum ini menyimpan koleksi sejarah, seni, dan budaya manusia dari zaman ke zaman,dan dari seluruh belahan dunia. Sama seperti Natural History Museum, British Museum juga gratis untuk dikunjungi. Kita juga harus booking tiket dari jauh hari melalui website resminya.

    Antrian di pintu masuk mengular sangat panjang saat kami datang, tapi kondisi di dalam tidak sepenuh seperti saat di Natural History Museum. Mungkin karena museum ini lebih luas. Luas museum ini mencapai lebih dari 92.000 meter persegi.

    Langkah pertama memasuki museum ini, kami dibuat takjub oleh megahnya desain interior dengan sentuhan modern. Atap kaca mozaik raksasa menjadi daya tarik tersendiri yang mencuri perhatian pengunjung. Galei di museum ini dibagi menjadi beberapa zona berdasarkan wilayah geografisnya, seperti Mesir Kuno, Timur Tengah, Eropa, Amerika, dan Asia.

    Tak semua galleri kami kunjungi karena keterbatasan waktu dan tenaga. Kami hanya ke area mummy di Mesir Kuno serta ke Gallery Jepang di zona Asia. Kami juga sempat memasuki The Reading Room yang sangat menakjubkan.

    Science Museum

    Berada di satu area dengan Natural History Museum di South Kensington, museum ini juga jadi museum yang wajib dikunjungi tak hanya untuk anak-anak. Sesuai namanya, museum ini menampilkan koleksi ikonik kemajuan teknologi dan ilmiah dunia dengan berbagai pameran dan permainan interaktif.

    Ada area Mathematics, area Space yang menampilkan roket dan satelit asli, area Flight dengan koleksi pesawat terbang dan sejarahnya, dan banyak area lainnya. Pengunjung juga bisa melakukan percobaan sains pada alat-alat peraga interaktif di setiap gallery.

    Area Flight di Science Museum, selain menikmati pameran ada area art and craft di mana anak-anak bebas membuat prakarya

    Masuk ke museum ini gratis, tapi pengunjung harus melakukan pre-booking secara online melalui websitenya. Karena kami datang di musim liburan sekolah lagi-lagi kami haru menghadapi situasi yang super crowded. Untuk mencoba beberapa permainan interaktif kami harus antre cukup lama dan tentu saja ini membuat Arga bosan dan rewel.

    London Transport Museum

    Bus tingkat merah classic yang jadi ikon kota London

    Museum ini berlokasi di Covent Garden. Berbeda dengan museum-museum sebelumnya, kali ini yang gratis hanya tiket untuk anak-anak. Untuk usia di atas 17 tahun harus membeli tiket seharga £25. Pembelian tiket dilakukan secara online melalu website museum  sekaligus memilih tanggal dan jam kedatangan.

    Karena kami memilih kunjungan terpagi saat museum baru buka, kondisi masih sepi dan nyaman untuk Arga eksplor sepuasnya. Di pintu masuk Arga dibekali trail map di mana ia harus mengumpulkan stamp di setiap area pameran. Tentu saja ini aktivitas yang sangat menyenangkan dan membuatnya jadi semangat keliling museum.

    Sesuai namanya, museum ini memamerkan sejaran transportasi di London selama 200 tahun terakhir. Dari kereta kuda, kereta kayu, kereta uap bawah tanah pertama, dan tentu saja bus tingkat merah yang ikonik. Meski tidak terlalu besar tapi koleksi di dalamnya cukup banyak. Selain ada beberapa pameran interaktif, ada juga zona keluarga yang menyediakan tempat bermain untuk anak-anak. Pastinya ini jadi tepat favoritnya Arga. Anak bisa bermain peran menjadi pengemudi bus, pengemudi kapal, mekanik, dan lain-lain.

    Dari perjalanan museum hopping selama beberapa hari di London ini, aku jadi belajar satu hal. Jalan-jalan bersama anak ternyata bukan lagi tentang seberapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi atau seberapa lengkap itinerary yang bisa dicentang. Ada kalanya kita harus mengalah pada kondisi, mengurangi ambisi eksplor, dan menyesuaikan ritme perjalanan dengan kenyamanan anak.

    Dulu mungkin aku akan memaksakan untuk tetap masuk ke semua galeri atau bertahan lebih lama demi “sayang sudah jauh-jauh datang”. Tapi sekarang rasanya yang paling penting justru melihat Arga tetap happy, nyaman, dan menikmati pengalamannya. Karena pada akhirnya, liburan keluarga bukan tentang mengejar sebanyak mungkin destinasi, melainkan tentang menciptakan kenangan yang menyenangkan untuk semua anggota keluarga — terutama si kecil yang sedang belajar mengenal dunia dengan caranya sendiri.

  • Salah satu hal yang paling aku pikirkan sejak pindah ke Sheffield adalah: soal makan. Bukan cuma soal selera, tapi juga soal halal.

    Di awal-awal tinggal di sini, aku belajar satu hal: hidup di UK itu soal adaptasi. Termasuk urusan kuliner halal. Pelan-pelan, sambil jalan, akhirnya ketemu juga tempat-tempat yang bisa jadi andalan kalo bosan sama masakan di rumah.


    Fast food halal di Sheffield jadi solusi paling realistis, terutama di hari-hari sibuk atau saat lagi di luar rumah bareng anak.
    Popeyes
    Ini juara dan paling sering kami datangi. Lokasinya ada di The Moor, jadi hampir selalu kelewatan kalau lagi ke city center. Tempatnya cukup nyaman buat makan bareng keluarga. Ayamnya crispy, porsinya pas, dan rasanya comfort food banget. Kalo favoritnya Arga ya pasti Oreo Shake-nya.
    KFC (Halal – Certain Branches)
    KFC tetap jadi opsi, walaupun nggak semua cabang halal. Yang sering kami datangi adalah KFC di Hay Market. Soal rasa pastinya udah familiar. Yang terpenting di sini ada menu nasi. Cocok sama perut Indonesia.
    German Doner Kebab (GDK)
    Yes, ini juga bisa jadi pilihan kalau lagi pengen selain ayam goreng. Tapi selain lebih pricey, ini agak kurang cocok juga di lidah Arga. Karena meski aku pesan kids menu tapi sausnya tetap terasa pedas.

    Munchies
    Kalo fast food yang satu ini tergolong masih cukup baru, lokasinya di London Road. Grilled wings-nya enak banget. Chicken Tenders-nya juga crispy banget dan uniknya ada rasa rempah yang surprisingly Arga malah doyan banget. Dia sampai berkali-kali bilang ”this is so yummy” (Gaya euy udah bisa pake bahasa Inggris).

    Subway
    Ini juga bisa jadi pilihan kalo pengen yang ngga terlalu berat. Lokasi Subway halal ada di Hay Market, sebelahan sama KFC. Selain roti-rotian sandwich ada juga menu jacket potato tapi belum pernah aku coba.

    Selain fast food, pelan-pelan kami mulai eksplor tempat lain, nyoba restoran baru, dan nemuin comfort zone sendiri.

    Uncle Lins
    Restoran Chinese ini jadi favorit keluarga kami, selalu jadi pilihan kalo lagi pengen makan di luar tapi ngga mau jauh dari rumah. Andalannya adalah dry pot, tapi menu wajib yang selalu kami pesan adalah Beef Brisket Soup with Hand Pulled Noodle. Ini comfort food banget apalagi kalo cuaca pas lagi dingin. Harganya juga terjangkau, £8.5 per porsi yang cukup untukku berdua dengan Arga karena porsinya cukup besar.

    Comfort food kami sekeluarga. Enak di lidah, nyaman di perut, super kenyang.

    Cambridge Street Collective
    Ini adalah food court yang berlokasi di city center. Pilihan halal stall-nya cukup banyak, mulai dari pasta, ramen, Thai food, Malaysian Food, Vietnamese sampai Korean Food juga ada. Kalo favoritnya Arga yang selalu dia pesan kalo ke sini yaitu Nasi Lemak dari Little Penang. Harganya £12an dan porsinya juga tergolong besar. Di sini juga ada area bermain anak berupa kolam pasir lengkap dengan berbagai peralatan bermainnya.

    Rassams Creamery
    Kalo ini adalah resto yang ngga mungkin ditolak Arga. Lokasinya di London Road dan menyajikan berbagai macam dessert. Ada gelato, cake, crepes, waffle, pancake, donat dan lain-lain. Yang unik dari tempat ini adalah pesanan kita diantar oleh robot.

    Nutella crepes with banana and strawberry plus ice cream pistachio

    Joomak
    Ini resto Korean Food yang baru kami coba. Lokasinya di dekat The Moor dan menawarkan berbagai macam hidangan khas korea, mulai dari ramyun, bulgogi, ayam goreng, dan lain-lain. Di sini porsinya juga sangat besar. Kami cuma pesan 2 menu untuk dimakan bertiga tapi tetap berakhir pulang dengan perut sesak kekenyangan.

    Indonesian Cafe
    Baru beberapa bulan buka di Sheffield, tempat ini tentu saja jadi andalan warga Indonesia yang kangen masakan Indonesia. Andalannya adalan Nasi Padang, tapi pilihan makanan lainnya juga ngga kalah enak. Mau Pempek? Ada. Mau Batagor? Ada. Mau mie ayam bakso? Ada juga. Mau gado-gado? Ada juga. Cemilan kayak tempe mendoan, tahu isi, bakwan, bahkan kue cubit juga ada lho. Beneran obat kangen Indonesia.

    Seporsi nasi Padang dengan rendang dan telur dadar, rasanya asli Minang

    Makan halal di Sheffield itu mungkin nggak semudah di Indonesia. Walaupun halal, kadang ngga sesuai juga sama cita rasa lidah Indonesia.
    Tapi yang terpenting buatku, selama Arga mau makan tanpa complain itu sudah lebih dari cukup.

  • Tahun ini jadi pengalaman pertama kami menjalani Ramadhan sekaligus merayakan Idul Fitri di UK. Aku pribadi rasanya excited banget bakal dapat banyak pengalaman baru yang ternyata begitu berkesan.
    Alhamdulillah, dari segi durasi puasa sedang tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Jadi secara ritme masih terasa familiar. Tapi karena tidak ada terdengar adzan dari masjid, jadi harus ingat cek waktu buka puasa sendiri yang tentu setiap harinya berubah. Tantangan terbesar saat menjalani puasa datang dari cuaca. Karena masih masuk akhir musim dingin, setiap sore saat menjemput Arga dari sekolah dengan perut kosong rasanya dinginnya jadi “double” dibanding hari biasa. Angin sore khas UK itu memang terasa lebih menusuk kalau lagi puasa 😄
    Yang paling dikangenin tentu saja suasana war takjil. Jalanan ramai menjelang maghrib, pilihan makanan banyak, tinggal pilih sesuai selera. Di sini suasana seperti itu tentu tidak ada. Tapi alhamdulillah sempat terobati karena ada dua kali bazaar makanan Malaysia selama Ramadhan. Lumayan banget bisa jajan menu hangat khas Asia Tenggara yang rasanya dekat dengan suasana rumah.

    Sebelum sholat Ied di Ponderosa


    Sholat Ied di Ponderosa: Banyak Culture Shock-nya
    Pengalaman sholat Ied tahun ini juga terasa sangat berbeda.
    Biasanya kalau di Indonesia, jam 6 pagi sudah siap berangkat ke lapangan. Di sini justru sholat Ied dimulai lebih siang. Sesi pertama sekitar jam 8.30 pagi, bahkan ada sampai sesi jam 10.30. Rasanya agak unik juga menunggu waktu sholat Ied sampai pagi menjelang siang seperti itu.
    Hal lain yang cukup bikin surprise adalah kebiasaan jamaah perempuan. Tidak ada yang memakai mukena seperti di Indonesia. Semua datang dengan pakaian masing-masing, lalu langsung menggelar alas sholat di lapangan. Karena cuaca masih dingin, banyak juga yang tetap pakai jaket selama sholat.
    Yang paling menyenangkan justru suasana setelah sholat selesai. Kalau di Indonesia biasanya ada kotak amal berkeliling, di sini justru anak-anak yang berkeliling membagikan snack ke sesama anak. Arga pulang membawa banyak coklat dan biskuit — senang sekali rasanya melihat tradisi kecil yang hangat seperti ini 🥰

    Suasana saat selesai sholat Ied

    Warga Indonesia juga cukup banyak di sini, jadi selesai sholat Ied kami berkumpul untuk berfoto-foto. Ada juga beberapa teman yang mengundang open house di rumahnya, jadi alhamdulilah tetap berasa suasana Lebarannya bisa bersilaturahmi dengan keluarga baru di sini.

    Oh iya, kalo di Indonesia saat Idul Fitri anak-anak sekolah sudah pasti libur panjang bahkan dari beberapa hari sebelumnya, di sini tentu saja Arga nggak libur. Tapi untuk siswa muslim diperkenankan izin pada saat hari H saja, sisanya ya tetap bersekolah seperti biasa. Dan setelahnya ada Eid Celebration juga di sekolah, jadi anak-anak bisa belajar toleransi beragama.


    Lebaran Pertama Masak Sendiri
    Tahun ini juga jadi pengalaman pertama menyiapkan masakan Lebaran sendiri. Biasanya tinggal makan, sekarang harus mulai mengatur menu sendiri.
    Alhamdulillah cukup terbantu karena ada yang menjual lontong dan sayur ketupat, jadi tidak perlu repot membuat dari nol. Aku hanya menyiapkan beberapa menu pelengkap seperti: opor ayam dan kering kentang.
    Sederhana, tapi rasanya tetap menghadirkan suasana Lebaran di rumah.

    Menghadirkan masakan khas Lebaran Indonesia di UK

    Ternyata meskipun jauh dari Indonesia, suasana hangat Lebaran tetap bisa terasa. Mungkin bentuknya berbeda, tradisinya tidak sama persis, tapi maknanya tetap sama — berkumpul, berbagi cerita, dan mensyukuri momen bersama keluarga 🤍

  • Melanjutkan misi dari Galeri Karya Arga —sebagai dokumentasi dan apresiasi atas proses kreatif Arga— kali ini kita akan melihat perjalanan imajinasinya yang semakin berkembang. Sebelumnya boleh dilihat-lihat lagi karyanya di Gallery Part 1..

    Kalo di Gallery Part 1 semua koleksinya adalah mobil, karya-karya Arga di Part 2 ini mulai terasa berbeda. Masih banyak kendaraan—karena itu memang dunianya—tapi imajinasinya mulai melebar. Bentuknya mulai riil, ceritanya lebih jelas, dan alhamdulilah udah bisa gambar objek selain mobil.

    Arga terlihat mulai menuangkan cerita pada beberapa gambarnya. Arga juga mulai eksplorasi bentuk gambar pola dan dia terlihat sangat enjoy bermain warna. Setiap gambar bercerita tentang dunia yang hanya bisa ditembus oleh imajinasi seorang anak.

    Semoga Gallery Arga Part 2 ini bisa menginspirasi kita semua untuk melihat dunia dengan mata penuh rasa ingin tahu dan kebebasan berkreasi, sama seperti Arga.

    Gambar Kendaraan

    Mobil, truk, dan kendaraan versinya Arga. Bukan sekedar bentuk, tapi lengkap dengan detail, fungsi, dan cerita. Setiap garis punya maksudnya sendiri.

    Mobil Toyota rancangan Arga
    Tiga mobil balap, mana yang paling keren?
    Mobil sedannya rusak, harus ke bengkel dulu deh
    Truk camping, lengkap dengan berbagai peralatan camping dan api unggun
    Jeep membawa trailer tapi lagi mogok, jadi diderek sama pick up deh
    POV start line balap mobil
    Dari luar mobil, sekarang sampai ke dalamnya. Imajinasi Arga makin jauh

    Gambar Repetition dan Permainan Warna

    Kadang aku liat Arga sekedar corat-coret nggak jelas, tapi begitu udah jadi ”wow” juga. Mungkin dia lagi eksplor pola berulang, kebetulan di sekolahnya memang baru diajarin macam-macam garis. Dan selalu, pilihan warnanya nggak pernah gagal.

    Kata Arga ini ”Bukit Hati”
    Ketika imajinasi mulai menemukan warnanya sendiri 🎨 Gemasnya pake ditandatangan segala lagi 😁

    Gambar Bangunan, Hewan, dan Objek Lainnya

    Semakin ke sini dunianya Arga nggak cuma kendaraan aja. Dia mulai bisa menggambar apapun yang dilihatnya entah dari buku, film atau sesuatu yang menarik yang baru dia temui di jalan.

    Snowman on a snowy night☃️
    Kantor Polisi dan Rumah Susun
    Ruang pameran di dalam museum
    Siang itu ada pelangi, flaminggo, dan imajinasi penuh warna🌈

    LEGO Rakitan

    Seiring waktu, ide-ide Arga nggak cuma berhenti di kertas. Mobil-mobil yang dulu digambar, kini mulai dibangun sendiri dalam bentuk lego, lengkap dengan detail dan ceritanya masing-masing.

    Kata Arga ini mobil pencuri. Tanpa ada instruksi, hanya mengikuti imajinasi
    Ketika imajinasinya mulai punya sayap, Pesawat Luar Angkasa

    Melihat karya-karyanya disusun seperti ini,
    berasa sekali perkembangannya—padahal belum sampai setahun. Kemampuan Arga dalam mengekspresikan ide dan detailnya sudah terlihat begitu menakjubkan.

    Bukan soal hasil akhirnya,
    tapi tentang bagaimana imajinasinya tumbuh,
    pelan-pelan, dengan caranya sendiri ✨

  • Suasana Pounds Park di malam hari, tetap terasa aman dan nyaman untuk anak bermain

    Dari sekian banyak taman dan playground di Sheffield, Pounds Park jadi salah satu favorit Arga—dan aku juga suka banget tempat ini. Lokasinya strategis, tepat di dekat city center, bikin taman ini gampang dijangkau bahkan kalau cuma punya waktu sebentar.
    Pounds Park sering disebut sebagai salah satu playground andalan Sheffield. Nggak heran, karena taman ini memang dirancang ramah untuk anak-anak berbagai usia. Area mainnya luas, bersih, dan terasa aman. Anak-anak bisa bebas bermain, sementara orang tua bisa mengawasi dengan tenang dari bangku-bangku yang banyak tersedia di sekeliling taman.

    Area sandpit yang cukup luas untuk anak eksplorasi

    Playground-nya cukup lengkap: ada dua menara piramida besar yang dihubungkan dengan jembatan tali, jungkat-jungkit, perosotan baja, area panjat, area bermain pasir, area lantai yang merupakan lonceng musik, batu besar untuk panjat tebing, serta area bermain air yang mengalir di seluruh taman dengan pompa, semprotan, kincir air, dan bendungan. Anak nggak cuma sekedar basah main air tapi juga bisa sambil belajar. Sayangnya kalo musim dingin gini aliran airnya dimatikan, padahal main air jadi favoritnya Arga banget, ngga peduli basah ataupun kedinginan. Oh ya, yang paling penting juga tersedia toilet di taman ini.

    Main air jadi list wajibnya Arga kalo ke Pounds Park

    Yang bikin Pounds Park terasa spesial adalah suasananya. Karena lokasinya benar-benar di jantung kota—dikelilingi gedung-gedung tinggi yang modern, taman ini hidup tapi nggak berisik. Banyak keluarga datang ke sini, ada yang bawa stroller, ada juga anak-anak yang main sepulang sekolah. Rasanya hangat dan “hidup”, tapi tetap nyaman.

    Pounds Park juga pernah mendapat penghargaan “Green Public Space” . Taman ini bukan cuma sekadar tempat main, tapi ruang aman untuk anak-anak tumbuh, bersosialisasi, dan belajar berbagi ruang dengan orang lain.

    Kadang, kebahagiaan itu sesederhana sore di taman—anak bermain tanpa beban, dan orang tua merasa cukup.

  • Salah satu hal yang paling bikin aku bersyukur pindah ke Sheffield adalah julukannya yang bukan sekadar slogan: The Outdoor City.
    Sheffield itu kota yang ramah keluarga, terutama buat yang punya anak kecil seusia Arga. Ruang terbuka hijau ada di mana-mana. Playground bukan sesuatu yang harus dicari jauh-jauh, tapi justru sering muncul di tengah perumahan, seperti bonus kecil yang bikin hari anak-anak (dan orang tuanya) jadi lebih ringan. Tinggal di sini bikin main di luar bukan lagi agenda khusus, tapi bagian dari keseharian.

    Ada beberapa taman dan open space yang sering jadi tujuan untuk mampir main atau sekedar duduk istirahat sambil membuka cemilan. Senangnya semua masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki.


    Headford Garden
    Taman kecil yang tenang dan rapi. Mainan playground-nya nggak banyak. Mungkin karena itu taman ini jadi nggak ramai, tapi justru itu yang bikin nyaman. Aku dan Arga sering banget main ayunan berdua sambil ngobrol dan liatin burung-burung berterbangan.


    Gell Street Park
    Taman ini yang setiap hari kelewatan pulang pergi ke sekolah Arga. Playgroundnya luas dan permainannya pun lengkap banget. Ayunan, perosotan, trampoline, dan ruang terbuka yang cukup bikin anak-anak bisa lepas lari-larian.


    Holberry Open Space (Upper Hanover)

    Area taman memang tidak seluas Gell Street Park, tapi playgroundnya memiliki permainan yang cukup beragam. Dan di sini ada lapangan basketnya juga.


    Pounds Park
    Ini adalah taman favoritnya Arga. Lokasinya di area city centre. Salah satu taman yang terasa “hidup”. Banyak keluarga, anak-anak, dan anjing-anjing lucu yang lalu-lalang. Playground-nya juga cukup lengkap dan seru. Ada area bermain pasir dan main air juga.


    Crookes Valley Park
    Ini salah satu favoritku. Ada danau kecil dengan banyak bebek berenang. Pemandangan yang bikin lupa kalau ini masih di tengah kota. Rasanya seperti kabur sebentar dari rutinitas. Sehabis menemani Arga bermain di playground biasanya kami duduk-duduk di pinggir danau sambil makan bekal cemilan kami.


    The Ponderosa

    Area hijau yang sangat luas di tengah-tengah kota. Tempat yang pas buat piknik sederhana, main bola, atau berkejar-kejaran. Permainan playgroundnya juga beragam. Di sebelah playground ada juga area dengan peralatan gym untuk dewasa.

    Winter Garden

    Rumah kaca beriklim sedang yang merupakan salah satu rumah kaca terbesar di Inggris. Dipenuhi tanaman hijau abadi yang tetap tumbuh subur meski di musim dingin menjadikan Winter Garden seperti oase di tengah hiruk pikuk kota. Lokasinya di city centre, terkoneksi dengan Millenium Gallery. Di kala musim dingin seperti ini Winter Garden jadi tempatku dan Arga menghangatkan diri kalo lagi kedinginan jalan-jalan di luar.


    Yang aku suka dari taman-taman di Sheffield adalah kesederhanaannya. Nggak berlebihan, tapi fungsional. Aman, bersih, dan benar-benar dipakai. Anak-anak bebas main, orang tua duduk santai tanpa harus terus waswas.

    Pindah ke kota baru tentu penuh tantangan. Tapi tinggal di Sheffield mengajarkanku bahwa kualitas hidup itu sering datang dari hal-hal sederhana: udara segar, ruang terbuka, dan waktu luang untuk anak bermain tanpa layar.

    Dan melihat Arga tumbuh di lingkungan seperti ini—bisa lari, jatuh, bangun lagi, dan tertawa di ruang terbuka—rasanya aku membuat keputusan yang tepat. Sheffield mungkin bukan kota yang gemerlap. Tapi buat kami, ini kota yang memberi ruang. Untuk bernapas dan untuk bertumbuh dengan lebih bahagia.

  • Bangunan Chatsworth House dengan area garden yang sangat luas

    Liburan musim dingin kali ini kami memilih main agak jauh dari kota: ke Chatsworth House, salah satu destinasi wisata keluarga yang cukup populer. Kami berangkat dari Sheffield naik bus 218, cukup sekali jalan dengan waktu tempuh sekitar 50 menit. Pemandangan sepanjang jalan pun cantik banget, apalagi pas udah mendekati area Peak District.

    Interior megah dengan dekorasi Natal yang memberi kesan festive

    Begitu sampai, kami langsung menuju Chatsworth House, yang masih didekorasi dengan tema Natal. Interiornya yang megah membuat kami terpukau, elegan khas bangunan bersejarah Inggris. Ditambah dengan ornamen khas musim liburan jadi benar-benar terasa suasana festive-nya.

    Salah satu koridor di dalam Chatsworth House yang penuh dengan lukisan dan beberapa patung

    Setelah puas berkeliling di dalam rumah, kami lanjut ke farm yard. Arga happy banget bisa lihat banyak hewan, mulai dari guinea pig, kuda, keledai, ayam, domba, sapi, bahkan babi yang berukuran sangat besar. Di sana Arga juga sempat cobain naik traktor.

    Arga full happy — main sama guinea pig, naik traktor beneran, naik traktor mainan, lihat domba yang ngegemesin

    Selanjutnya kami ke Adventure Playground. Ini bagian yang paling Arga tunggu-tunggu. Playgroundnya luas banget, suasananya juga sejuk karena berada di dekat hutan. Walaupun dekat hutan tapi ngga menakutkan kok karena ramah keluarga banget. Waktu itu tergolong masih pagi dan masih sepi jadi Arga bisa bebas bermain sepuasnya. Ada area bermain pasir lengkap dengan peralatan mainnya, bisa main air juga (sayangnya waktu itu lagi membeku), area bermain toddler dan area bermain untuk anak dengan usia lebih besar —lebih seru dan penuh tantangan.

    Area playground yang bikin betah karena pemandangannya indah banget

    Setelah puas bermain kami kembali ke area Chatsworth House untuk mencari tempat makan siang. Cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba berubah jadi hujan salju. Kami pun menikmati salju pertama kami dulu sebelum akhirnya makan siang. Kami mencoba vegan roll dan pumpkin soup yang terasa nikmat banget disantap hangat-hangat di cuaca dingin. Arga juga jajan marshmallow panggang dan aku jajan hot chocolate, perfect banget dinikmati setelah bermain salju.

    Area garden dan pond yang memutih karena tertutup salju

    Bagian paling magis dari hari itu adalah saat kami menyusuri Chatsworth Garden yang sudah memutih karena salju yang baru saja turun. Kami sempat lihat fountain, main di area maze, dan lanjut jalan santai melewati waterfall kecil yang tersembunyi. Rasanya damai banget, seperti masuk ke dunia dongeng.

    Meski belum sempat explore semua sudut Chatsworth (karena ternyata luas banget!), hari itu jadi salah satu hari libur musim dingin yang berkesan. Next time, pengen balik lagi pas musim semi atau summer untuk lihat suasana berbeda — kebun penuh bunga warna-warni dan langit cerah pastinya bakal bikin vibes-nya lain lagi.

    Area garden yang belum sempat tereksplor di liburan kemaren, maybe next time

    Info Tiket & Tips
    Untuk masuk ke Chatsworth, kita perlu booking tiket secara online terlebih dahulu, terutama kalau mau masuk ke area house karena jam kunjungan juga harus dipilih saat pemesanan. Pastikan datang sesuai waktu yang tertera di tiket. Harga tiket bergantung pada paket yang dipilih apakah house saja, house dan garden, atau farmyard dan adventure playground.

    Kalau berencana ke Chatsworth bareng anak-anak, bawa bekal bisa jadi pilihan bijak. Di sekitar area farm yard dan adventure playground ada banyak spot meja dan kursi untuk piknik. Jadi sambil nunggu anak main, orangtua bisa santai ngemil atau ngopi. Meskipun ada beberapa pilihan food stall dan café, tapi bawa bekal sendiri tetap menyenangkan — lebih hemat dan praktis!

  • Satu hal yang mungkin tak terpikir sebelumnya saat pindah ke negara baru adalah… betapa susahnya cari toilet umum! Aku pikir, tinggal di negara maju seperti UK akan memudahkan akses ke fasilitas umum, termasuk toilet. Tapi ternyata, realitanya tak seindah bayanganku.

    Pengalaman buruk pertamaku terjadi saat hari pertama sampai di Sheffield. Waktu itu kami belum bisa masuk flat karena masih menunggu serah terima kunci. Di tengah udara dingin dan kelelahan setelah perjalanan panjang, Arga tiba-tiba kebelet pipis, BANGET. Karena nggak ada tempat yang bisa dimasuki, kami memutuskan lari ke arah The Moor—pusat perbelanjaan yang jaraknya cuma sekitar 10 menit jalan kaki.

    Di sana aku lihat ada penunjuk arah bertuliskan “Public Toilet”. Lega dong, akhirnya bisa juga. Tapi pas kami sampai, ternyata toiletnya sudah tidak terpakai. Pintu terkunci, berdebu, gelap, bahkan banyak sarang laba-labanya. Niat pipis malah berubah jadi ngeri! Karena panik, kami coba masuk ke gedung terdekat, gedung besar yang aku kira city council. Tapi stafnya bilang tidak ada toilet dan malah menyuruh kami ke Moor Market. Kami pun lari lagi ke sana, dan ternyata toiletnya ada di bagian paling belakang… dan sedang maintenance. Benar-benar ujian!

    Sampai akhirnya kami nanya ke petugas kebersihan jalan, dan dia bilang: “There’s no public toilet around here.” Hah?? Untung akhirnya ada orang baik yang mengarahkan kami ke Atkinsons Department Store. Dan… finally, berhasil juga ketemu toilet yang bersih dan bisa dipakai! Lega banget, dan syukurnya Arga nggak keburu ngompol.

    Kalau di Indonesia, kita bisa dengan sangat mudah menemukan toilet umum di berbagai tempat—Indomaret, Alfamart, SPBU—bahkan di tempat makan sederhana pun biasanya ada toilet yang bisa diakses. Tapi di UK, fasilitas ini lebih terbatas dan kadang juga tidak jelas arahnya. Bahkan supermarket besar seperti Aldi dan Lidl pun nggak menyediakan toilet untuk umum. Ini tentu jadi tantangan tersendiri, apalagi kalau bepergian dengan anak kecil. Meskipun sudah ke toilet dulu sebelum keluar rumah, kadang udara dingin bikin jadi cepat kebelet lagi.

    Setelah tinggal di sini beberapa bulan, aku mulai hafal beberapa tempat lain yang bisa diandalkan kalau butuh toilet umum, misalnya:
    – Moor Market
    – Popeyes Moor
    – Ponds Park
    – KFC & McDonald’s
    – Subway (beberapa outlet)
    – Tesco Superstore


    Jadi, buat yang baru pindah atau sedang traveling dengan anak kecil, penting banget tahu spot-spot ini. Atau minimal, siapkan rencana darurat. Karena ternyata, cari toilet di UK bisa jadi petualangan tersendiri!

  • Dalam rangka mengisi liburan sekolah yang lalu, kami mengajak Arga untuk eksplor ke luar kota. Kami memilih York sebagai destinasi liburan pertama kami—dekat dan bisa day trip dari Sheffield.

    Kami berangkat naik kereta pukul 08.22 dan tiba di York sekitar satu jam kemudian. Kota kecil yang cantik ini langsung menyambut dengan suasana tenang dan udara pagi yang terasa agak menggigit.

    Reruntuhan St. Mary’s Abbey di York Museum Garden

    Destinasi pertama: Memorial Gardens, taman hijau tak jauh dari stasiun, jadi spot yang pas buat pemanasan. Lanjut jalan kaki ke Museum Gardens, menikmati reruntuhan St. Mary’s Abbey dan suasana klasik khas York. Kami juga sempat berjalan menyusuri pinggiran Ouse River dan selanjutnya mampir sebentar ke York Library. Sebenarnya ini nggak ada dalam itinerary kami, tapi Arga minta ke library, ya sudahlah kami turuti sekalian numpang istirahat sebentar. Ternyata dia betah mewarnai beberapa colouring worksheet yang disediakan dan susah diajak udahan.

    York Minster, bangunan katedral yang berarsitektur Gotik megah di mana setiap detailnya adalah hasil ukiran tangan manusia

    Tak jauh dari situ, kami tiba di York Minster—ikon kota York yang megah dan bikin kagum. Kalo Arga justru excited karena melihat ada patung Paddington Bear di area tamannya. Setelah puas foto-foto, kami lanjut ke York’s Chocolate Story. Sebenarnya ada tour untuk melihat pembuatan cokelat bahkan mencoba membuatnya sendiri, tapi ternyata sudah full dan baru ada slot sore hari. Sebaiknya memang booking dari hari sebelumnya. Akhirnya aku cuma beli hot chocolate-nya, dan serius, seenak itu! Aku juga beli beberapa cokelat dan ternyata enak-enak semua, jadi nyesel cuma beli sedikit.

    Pecinta cokelat wajib ke York’s Chocolate Story. Barisan coklat ini terlihat begitu menggoda, jadi bingung pilih yang mana

    Dari sana tinggal jalan kaki sebentar sampailah ke The Shambles, area jalanan kuno yang jadi inspirasi Diagon Alley-nya Harry Potter. Kami makan siang Nana Noodles di Shambles Market Food Court dengan menu Padthai dan Chicken Satay—simple dan cocok buat isi energi.

    Lorong jalan The Shambles yang padat pengunjung. Fans Harry Potter harus ke sini, ada The Shop That Must Not Be Named yang merupakan official store merchandise Harry Potter

    Setelah kenyang, kami naik City Sightseeing Bus, muterin kota sambil dengerin cerita sejarah York. Arga memilih duduk di atas dengan atap terbuka, rasanya? Super dingin. Tapi dia malah tertidur pulas, mungkin kecapean juga.

    Bus City Sightseeing York yang membawa kami berkeliling menikmati pemandangan dan cerita sejarah kota York

    Destinasi terakhir kami adalah National Railway Museum. Ini adalah museum kereta api terbesar di dunia, dibagi menjadi dua area: Great Hall dan Station Hall. Karena waktu terbatas, kami hanya sempat eksplor Great Hall aja. Di Great Hall terdapat berbagai macam koleksi lokomotif dari yang paling tua usianya sampai shinkansen juga ada lho. Ada juga ruang bermain anak, library kecil, cafe dan toko souvenir. Walapun bukan fans kereta api tapi Arga cukup menikmati kunjungan ke museum ini. Oh ya, yang paling penting tiket masuk ke museum ini GRATIS!!!

    Area Great Hall di National Railway Museum yang memamerkan beraneka macam lokomotif kereta

    Kami kembali ke Sheffield dengan kereta jam 6 sore. Liburan singkat yang cukup berkesan buat kami walaupun masih banyak tempat di York yang belum sempat kami kunjungi, maklum travelling bawa anak kecil jadi nggak bisa ambisius ke sana ke mari. Boleh jadi alasan buat balik lagi kan?