Jendela Cerita Mama Arga

Di balik jendela, banyak cerita tumbuh dan bermakna

Perjalanan mencari rumah baru belum selesai.

Bagi yang belum ngikutin awal ceritanya bisa dibaca di sini yaa https://mamaarga.com/2026/08/17/mencari-rumah-kedua-di-sheffield/

Nah setelah melakukan beberapa kali viewing, kami akhirnya menemukan satu rumah yang rasanya paling mendekati apa yang kami cari.

Rumah itu sebenarnya tidak jauh-jauh dari rumah kami sekarang. Masih di area yang sama, bahkan letaknya seperti hanya di seberang jalan. Hanya saja, karena terhalang pepohonan, rumah tersebut tidak terlihat dari tempat kami tinggal sekarang.

Setelah selesai viewing, untuk pertama kalinya kami bertiga langsung sepakat.

Rasanya seperti, “Oke, ini rumahnya.”

Dan ternyata, menemukan rumah baru bukanlah akhir dari cerita.

Kami pun mulai memproses semuanya dan bersiap untuk membayar deposit.
Tapi ternyata, drama sebenarnya baru dimulai.

Begitu proses pindah rumah mulai terasa nyata, Arga malah menangis dan bilang tidak mau pindah.
Dia bilang sangat menyukai rumah kami sekarang.

Sementara kami sibuk membujuk Arga dan meyakinkannya bahwa rumah baru juga akan menyenangkan, diam-diam aku sendiri mulai ikut galau.

Bagaimana kalau setelah pindah nanti ternyata rumah baru tidak senyaman rumah yang sekarang?

Bagaimana kalau kami justru menyesal?

Bagaimana kalau ternyata kami baru sadar bahwa rumah pertama ini memang sudah menjadi rumah yang paling cocok untuk kami?

Lucu juga ya.

Awalnya kami mencari rumah baru karena merasa rumah yang sekarang punya beberapa kekurangan. Tapi setelah hampir satu tahun tinggal di sini, ternyata rumah ini sudah punya terlalu banyak hal yang membuat kami nyaman—dan terlalu banyak kenangan yang membuat kami berat untuk meninggalkannya.

Jadi, ketika akhirnya kami menemukan rumah yang cocok, muncul satu masalah baru yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya:
Bagaimana rasanya meninggalkan rumah pertama kami yang sudah menyimpan begitu banyak kenangan?

Yaa, ternyata memilih rumah baru tidak sesederhana yang kami kira.

Meski begitu, kami akhirnya tetap melanjutkan proses rumah baru itu dengan Bismillah.

Pelan-pelan, Arga pun mulai excited dengan rencana pindahan. Bahkan dia mulai sering bertanya,

“Kapan kita ke rumah baru?”

“Berapa hari lagi kita tinggal di sini?”

Dan setiap kali aku menyebutkan jumlah sisa hari kami sebelum pindahan, rasanya baru benar-benar sadar bahwa waktunya semakin dekat.

Satu per satu barang mulai kubereskan.

Dinding putih yang sempat penuh warna dengan tempelan karya Arga kini kembali putih.

Kosong dan bersih, seperti saat kami pertama kali datang.

Sementara di lantai, bertumpuk aneka karya Arga dengan berbagai bentuk dan warna. Ternyata dalam setahun sudah banyak sekali.

Rumah ini, tepatnya dinding ruang tamunya, pernah menjadi saksi bertumbuhnya Arga.

Dari yang baru bisa menggambar mobil hingga bisa menggambar pemandangan indah.

Dari yang hanya membuat coretan pensil di atas kertas hingga berani mencoba berbagai macam media lukis.

Rumah ini pernah menjadi galeri karya Arga.

Waktu itu Arga pernah bilang kalau dia pengen gambarnya bisa dipajang di galeri. Karena menunggu sampai bisa masuk pameran butuh proses dan waktu, kenapa nggak dipajang aja di rumah sendiri? Jadilah dinding ruang tamu disulap jadi mini gallery

Dan meskipun sebentar lagi kami akan meninggalkannya, rasanya bagian dari perjalanan kami di Sheffield akan selalu tinggal di sini.

Rumah pertama kami di Sheffield.

Rumah yang bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi saksi bagaimana kami bertiga belajar memulai kehidupan baru di tempat yang asing.

Dan mungkin, itu sebabnya meninggalkannya terasa jauh lebih berat dari yang kami kira.

Posted in ,

Leave a Reply