Jendela Cerita Mama Arga

Di balik jendela, banyak cerita tumbuh dan bermakna

Beberapa bulan lalu, aku melihat sebuah postingan open call yang lewat di grup WhatsApp. Sebuah komunitas bernama IBUK—Ibu Berdaya di UK—sedang membuka kesempatan bagi ibu-ibu Indonesia di UK untuk ikut berkontribusi dalam sebuah buku kolaboratif tentang peran ibu sebagai perantau.

Tentu saja aku langsung tertarik.

Selama ini aku memang senang menulis. Sejak tinggal di Sheffield, menulis di blog menjadi salah satu caraku mendokumentasikan perjalanan keluarga kecil kami. Ada cerita tentang pindah ke UK, kehidupan sehari-hari, perjalanan liburan bersama Arga, sampai berbagai hal kecil yang mungkin terlihat sederhana, tetapi terasa berarti ketika dijalani jauh dari rumah.

Tapi menulis untuk sebuah buku kolaboratif tentu terasa berbeda.

Ada rasa penasaran, tapi juga sedikit ragu. Tapi nggak ada salahnya kan untuk dicoba?

Setelah berpikir beberapa waktu, akhirnya aku memutuskan untuk ikut.

Tentang Sekolah Pertama Arga

Dari beberapa pengalaman yang bisa kuceritakan, aku memilih menulis tentang salah satu perjalanan yang paling membekas selama kami tinggal di UK: pengalaman Arga memulai sekolah untuk pertama kalinya.

Bukan sekadar pindah sekolah.

Arga justru belum pernah bersekolah sebelumnya di Indonesia.

Ia pertama kali mengenal dunia sekolah justru setelah kami pindah ke UK. Di usia lima tahun, ia langsung masuk Year 1 di sebuah primary school di Sheffield. Bahasa Inggris pun masih menjadi bahasa yang baru baginya.

Sebagai ibu, tentu saja ada banyak kekhawatiran.

Dan benar saja, perjalanan itu tidaklah pernah benar-benar mulus.

Ada banyak tangis, takut, sedih, tawa, bangga, haru, dan bahagia yang mewarnai perjalanan sekolah Arga.

Dan yang pasti ada proses belajar dan bertumbuh yang tak hanya untuk Arga, tapi juga untukku.

Dari perjalanan itulah lahir judul tulisanku “Sekolah Pertama di Tanah yang Asing: Sampai UK Langsung Jadi Anak SD.”

Sebuah cerita tentang sekolah pertama Arga, tetapi sebenarnya juga tentang perjalanan belajarku sebagai seorang ibu.

Ketika Tulisan Menjadi Bagian dari Sebuah Buku

Saat pendaftaran sebagai penulis hanya diminta menuliskan rencana judul cerita dan alasan kenapa layak dipilih sebagai kontributor.

Baru setelah itu para penulis terpilih dibekali dengan pelatihan kepenulisan dari MomGuides IBUK sebelum memulai menuliskan draft cerita masing-masing.

Setelah aku submit form pendaftaran tentu ada rasa deg-degan menunggu kabar.

Dan ketika akhirnya mendapat kabar bahwa aku terpilih untuk menjadi salah satu bagian dari buku kolaboratif ini, rasanya senang sekali.

Mungkin bagi orang lain ini terlihat sederhana. Hanya satu tulisan dari sekian banyak tulisan.

Tapi bagiku, ada rasa haru tersendiri ketika sebuah cerita yang awalnya hanya tersimpan sebagai pengalaman keluarga kecil kami, kini bisa menjadi bagian dari cerita yang lebih besar.

Cerita tentang para ibu Indonesia yang menjalani kehidupan di tanah rantau.

Ada yang menjadi ibu sambil menjalani PhD. Ada yang melanjutkan pendidikan. Ada yang membangun kembali kariernya. Ada yang menjadi ibu rumah tangga. Ada yang melewati kehamilan dan persalinan di UK. Ada yang mendampingi anak-anaknya tumbuh di negeri yang berbeda. Ada pula yang sedang belajar menemukan dirinya kembali.

Masing-masing punya cerita yang berbeda.

Namun mungkin ada satu hal yang sama: kami sama-sama sedang belajar menjadi ibu, sambil belajar menjalani kehidupan di negeri orang.

Dan dari situlah lahir buku Rumah di Rantau.

Rumah yang Dibangun dari Banyak Cerita.

Menurutku, judul Rumah di Rantau terasa sangat tepat.

Karena ketika tinggal jauh dari Indonesia, rumah ternyata bukan hanya soal tempat kita pulang.

Rumah bisa berupa keluarga yang kita bangun di negeri baru. Teman-teman yang menjadi tempat berbagi. Komunitas yang membuat kita merasa tidak sendirian. Dan juga cerita-cerita yang mengingatkan bahwa ternyata ada banyak ibu lain yang sedang menjalani perjuangan yang sama.

Buku ini berisi 30 cerita dari ibu-ibu Indonesia di UK dengan pengalaman yang beragam. Ada cerita tentang motherhood, pendidikan, karier, keluarga, kesehatan, adaptasi, sampai perjalanan menemukan kembali diri sendiri.

Dan sekarang, salah satu ceritanya adalah cerita kami.

Cerita tentang seorang anak bernama Arga yang untuk pertama kalinya mengenal sekolah bukan di tanah kelahirannya, tetapi di tanah yang saat itu masih asing bagi kami.

Pintu Rumah di Rantau Sudah Dibuka

Mulai hari ini, 16 September 2026, Rumah di Rantau resmi membuka pre-order.

Jujur, aku sendiri masih merasa agak tidak percaya bisa menjadi bagian dari buku ini. Sebuah pengalaman kecil yang awalnya hanya dimulai dari melihat sebuah open call, akhirnya membawa satu cerita dari keluarga kecil kami masuk ke dalam sebuah buku.

Kalau kamu penasaran dengan cerita para ibu Indonesia yang menjalani kehidupan di UK, buku ini mungkin bisa menjadi teman membaca yang hangat.

Dan kalau kamu ingin membaca cerita Arga tentang pengalaman pertamanya bersekolah di UK, tentu aku akan sangat senang kalau kamu menemukan ceritaku di dalamnya. 🤍

📖 Rumah di Rantau — Kumpulan cerita ibu Indonesia di UK

Pre-order dibuka mulai 16-30 September 2026 melalui bit.ly/Pre-orderRumahDiRantau

Atau kalo mau pesan lewat aku silahkan comment di bawah yaa.

Semoga buku ini bisa menjadi pengingat bahwa meskipun kita sedang jauh dari rumah, kita tidak pernah benar-benar sendirian.

Karena mungkin, tanpa kita sadari, di tanah rantau pun kita sedang membangun rumah—dari keluarga, persahabatan, pengalaman, dan cerita-cerita yang kelak akan kita kenang. 🌿

Posted in ,

Leave a Reply