Aku adalah seorang mama dari anak bernama Arga. Menulis adalah hobi lamaku yang sempat terhenti sejak kehidupan kecil tumbuh di dalam perutku (sepertinya Arga nggak suka aku nulis waktu itu 😄). Tapi sekarang, aku siap kembali membuka jendela yang baru—jendela tempat berbagai cerita tumbuh dan bermakna.
Akhir September lalu, akhirnya kami resmi pindah ke rumah baru. Arga yang tadinya sedih dan nggak mau pindah justru menjadi yang paling semangat ketika memasuki rumah baru kami. Sementara aku? Malah bengong, bingung, dan sedikit kecewa.
Saat pertama kali memasuki rumah lama, kondisinya memang kotor dan berdebu. Namun, rumah itu terasa baru karena temboknya baru dicat ulang dan karpetnya diganti sebelum kami datang. Sementara itu, saat memasuki rumah kedua ini, vibes-nya langsung terasa berbeda. Kesan pertama yang muncul adalah rumah lama dengan tembok berwarna agak kusam, beberapa noda, dan retakan kecil di sana-sini. Belum lagi karpet yang sudah terlihat tua serta furnitur kayu yang semakin menambah kesan jadul.
Semangatku semakin menguap ketika melihat kondisi rumah yang ternyata juga kotor dan berdebu, bahkan dipenuhi sarang laba-laba hampir di setiap sudutnya. Padahal, kami sudah meminta agar rumah dibersihkan secara menyeluruh sebelum ditempati. Pihak letting agent pun mengatakan bahwa rumah sudah dibersihkan sebelum serah terima kunci. Entah standar kebersihan mereka yang berbeda atau bagaimana. Yang jelas, kami akhirnya harus bersih-bersih terlebih dahulu sebelum mulai memindahkan barang-barang dari rumah lama.
Proses pindahan berlangsung selama tiga hari. Jarak antara rumah lama dan rumah baru yang hanya sekitar tiga menit berjalan kaki menjadi keuntungan tersendiri. Dalam sehari, kami bisa bolak-balik tiga sampai lima kali untuk mengangkut barang-barang. Syukurnya, Arga juga selalu bersemangat dan sangat membantu selama proses pindahan.
Walaupun punya banyak kekurangan, rumah baru ini tetap memiliki beberapa kelebihan dibandingkan rumah lama. Bukan lagi tinggal di flat, melainkan di rumah yang langsung di atas tanah (grounded house), tentu menjadi nilai tambah tersendiri. Kini kami tak perlu lagi naik tangga sampai lantai empat. Nggak perlu khawatir lagi ketika kalap berbelanja sampai satu troli penuh dan berat. Tinggal dorong masuk rumah tanpa harus berjibaku dengan tangga 😆
Kamar di rumah baru ini juga jauh lebih luas. Arga yang paling happy karena sekarang semua mainannya bisa disimpan rapi di dalam kamar, bahkan koleksi LEGO-nya pun bisa dipajang. Selain itu, kami juga punya halaman belakang yang cukup luas. Walaupun artinya ada pekerjaan tambahan untuk mengurus halaman, setidaknya sekarang aku bisa menjemur pakaian dengan leluasa di bawah sinar matahari (meski mungkin akan jarang juga langit UK cerah dengan terik matahari).
Backyard rumah kami yang membuat kami jadi punya kebiasaan baru: membersihkan daun yang berguguran, memotong rumput, menjemur pakaian, dan lain-lain
Rumah baru, kebiasaan baru. Tinggal di tempat yang berbeda berarti kami juga harus kembali belajar dan beradaptasi. Mulai dari mempelajari cara menggunakan kompor, oven, dan mesin cuci yang berbeda tipe dari rumah sebelumnya. Membiasakan diri dengan susunan barang di dapur karena lemari penyimpanannya lebih kecil. Sampai belajar menggunakan heater yang kini menggunakan gas, berbeda dengan electric heater di rumah lama.
Termasuk beradaptasi dengan kebiasaan baru Arga. Sekarang, setiap pulang sekolah, ia akan sibuk sendiri di kamarnya. Maklum, dulu kamar Arga sangat sempit, hanya cukup untuk kasur single dan meja kecil tempat menyimpan buku serta sedikit mainannya. Mainan yang lain terpaksa disimpan di ruang tamu sehingga ia lebih banyak bermain di ruang tamu. Sekarang, ketika semua barangnya sudah berada di dalam kamar, ia seperti punya dunia sendiri. Bisa bermain, berkreasi, dan menikmati ruang pribadinya dengan lebih leluasa.
Koleksi LEGO-nya Arga yang kini bisa dipajang di lemari di sudut kamarnya
Saat tulisan ini dibuat, kami baru sekitar dua minggu tinggal di rumah baru. Masih banyak hal yang perlu dibenahi dan masih banyak kebiasaan yang harus disesuaikan. Ternyata, pindah rumah bukan sekadar memindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga tentang belajar mengenal tempat baru dan menciptakan kenyamanan di dalamnya.
Tak pernah ada yang sempurna. Namun, belajar dari pengalaman saat pertama kali menempati rumah sebelumnya, aku yakin, pelan-pelan rumah ini juga akan terasa seperti rumah bagi kami. Bukan hanya tempat untuk pulang dan beristirahat, tetapi tempat di mana kami kembali membangun rutinitas, menyimpan cerita, dan menciptakan kenangan baru.
Belakangan ini Arga semakin suka bermain LEGO. Kebetulan, salah satu LEGOLAND Discovery Centre yang paling dekat dari Sheffield berada di Manchester. Jadi, kami sengaja menjadwalkan kunjungan ke sana saat summer holiday kemarin.
Perlu diketahui, ini bukan LEGOLAND outdoor yang luas dengan berbagai wahana permainan seperti taman hiburan pada umumnya. LEGOLAND Discovery Centre Manchester berlokasi di dalam gedung Trafford Palazzo. Meski begitu, tempat ini ternyata sangat membekas di hati Arga. Bahkan, belum selesai berkunjung saja dia sudah minta liburan ke sini lagi lain waktu! 😁
Karena kami berkunjung saat summerholiday, aku sudah melakukan booking tiket jauh-jauh hari. Saat itu, harga tiket yang aku bayarkan adalah £13.75 per orang untuk dewasa dan £11.50 untuk anak. Saat pemesanan, kita bisa langsung memilih jam kedatangan. Setiap pilihan jam memiliki harga yang berbeda-beda, kemungkinan menyesuaikan dengan waktu kunjungan dan tingkat keramaian.
Selain tiket masuk, aku juga membeli activity pack untuk Arga seharga £5 per pack. Isinya berupa activity book lengkap dengan lanyard LEGOLAND yang bisa digunakan selama beraktivitas di sana.
Activity pack yang unik berisi berbagai ide menyusun LEGO yang mudah untuk anak-anak
Kami tiba di LEGOLAND setelah makan siang. Saat itu, suasananya cukup padat karena sedang musim liburan sekolah. Aku sempat khawatir Arga tidak bisa puas menikmati petualangannya karena ramainya pengunjung. Untungnya, dia tetap excited dan penuh semangat menjelajahi setiap area!
Arga langsung larut bersama tumpukan balok LEGO
Menjelajahi Dunia LEGO
Petualangan kami dimulai dari area Factory yang menyimulasikan proses pembuatan balok LEGO. Di sini, anak-anak bisa mengenal bagaimana mainan favorit mereka dibuat. Aktivitas yang sederhana, tetapi menarik untuk menambah pengetahuan sekaligus menjawab rasa penasaran mereka.
Selanjutnya, kami menuju Miniland, yaitu area yang menampilkan replika miniatur wilayah North West England dan kota Manchester yang dibangun menggunakan lebih dari 1,5 juta balok LEGO. Pengunjung bisa melihat berbagai landmark terkenal, mulai dari stadion sepak bola hingga Manchester Cathedral, dalam bentuk miniatur yang detail.
Miniatur Manchester di area miniland, semua ini full dari balok LEGO lho
Namun, kalau ditanya area mana yang paling menjadi favorit Arga, jawabannya tentu saja Racers: Build & Test!
Arga sedang serius merakit mobil balap sesuai imajinasinya
Di zona ini, anak-anak bisa merakit mobil balap LEGO kreasi mereka sendiri, lalu langsung mengujinya di trek balap dengan lintasan menanjak. Begitu melihat tumpukan balok LEGO dengan berbagai bentuk dan warna, Arga langsung sibuk merakit mobil sesuai imajinasinya. Rasanya seperti masuk ke dunia LEGO sungguhan, tempat dia bebas berkreasi tanpa batas.
Area trek balap untuk menguji mobil balap yang sudah dirakit
Selain trek balap mobil, ada pula area untuk membangun gedung-gedung tinggi. Di sini tersedia Earthquake Tables, yaitu meja simulator gempa bumi untuk menguji seberapa kuat bangunan yang dibuat menggunakan balok LEGO. Anak-anak bisa merancang gedung sendiri, lalu melihat apakah bangunan tersebut mampu bertahan saat meja diguncang.
Menurutku, zona-zona seperti ini menjadi salah satu daya tarik utama LEGOLAND Discovery Centre. Anak-anak bukan hanya bermain, tetapi juga belajar tentang kreativitas, konstruksi, dan pemecahan masalah tanpa merasa sedang belajar.
Wahana dan Bioskop 4D
Harga tiket masuk yang kami bayarkan juga sudah termasuk akses ke dua wahana interaktif, yaitu Kingdom Quest dan Merlin’s Apprentice Ride.
Kingdom Quest merupakan wahana kereta di dalam ruangan yang mengajak pengunjung berpetualang sambil menggunakan pistol laser untuk menembak monster. Sementara itu, Merlin’s Apprentice Ride adalah wahana berputar yang mengharuskan pengunjung mengayuh pedal agar kursinya terangkat semakin tinggi.
Kami juga sempat menikmati LEGO 4D Cinema yang menayangkan film-film pendek dengan karakter LEGO. Durasi filmnya hanya sekitar 15 menit, tetapi pengalaman ini terasa spesial bagi Arga karena baru pertama kali menonton film dengan efek tambahan seperti hembusan angin, percikan air, hingga salju buatan.
Jadi, meskipun tempatnya tidak terlalu luas, ada cukup banyak variasi aktivitas yang bisa dicoba, mulai dari merakit LEGO hingga menikmati wahana dan menonton film.
Area Bermain untuk Anak yang Aktif
Kalau anak-anak mulai bosan duduk atau merakit LEGO, jangan khawatir. Ada beberapa area permainan fisik yang bisa menjadi alternatif.
Salah satunya LEGO Ninjago City Adventure, yaitu soft play area bertema ninja dengan berbagai rintangan, termasuk aktivitas memanjat dan melatih kelincahan.
Ada juga LEGO DUPLO Farm, area bermain bertema peternakan yang dirancang khusus untuk anak-anak di bawah usia lima tahun. Di sini tersedia balok LEGO DUPLO dan perosotan.
Sementara itu, Police Chase menawarkan area bermain dengan mobil-mobil polisi kecil yang bisa dikendarai anak-anak. Arga juga suka sekali bermain mobil-mobilan di sini sampai susah diajak pulang! 😂
Menurutku, variasi area bermain ini membuat LEGOLAND Discovery Centre cocok untuk anak-anak dengan minat yang berbeda. Ada yang lebih suka membangun sesuatu, ada yang senang mencoba wahana, dan ada pula yang ingin terus bergerak ke sana kemari.
Creative Workshop: Belajar Merakit LEGO Bersama Master Builder
Salah satu aktivitas tambahan yang sengaja aku booking untuk Arga adalah creative workshop. Harga tiketnya £5, dan kegiatan ini bisa diikuti anak berusia enam tahun ke atas dengan pendampingan satu orang dewasa secara gratis.
Workshop ini berupa kelas singkat bersama tutor yang merupakan master LEGO builder. Setiap anak mendapatkan satu paket LEGO beserta lembar petunjuk, kemudian merakitnya bersama-sama di dalam kelas.
Arga saat mengikuti creative workshop, mereka sedang membuat dragon karakter dari NinjaGO
Yang menyenangkan, LEGO yang sudah selesai dirakit boleh dibawa pulang!
Selain membawa pulang hasil rakitannya, Arga juga mendapatkan sertifikat Mini Master Model Builder dengan gelar Build Challenge Champion. Sertifikat ini menjadi kenang-kenangan tersendiri dari pengalaman bermain LEGO di Manchester.
Sertifikat Mini Master Model Builder, kenang-kenangan dari creative workshop yang Arga ikuti.
Menurutku, ini pengalaman yang menarik untuk anak yang memang sedang serius menyukai LEGO. Selain bisa merakit model baru, anak juga mendapat kesempatan mengikuti petunjuk dan belajar langsung dalam suasana kelas yang berbeda dari kegiatan bermain biasa.
Kalau berencana mengikuti workshop ini, sebaiknya cek ketersediaan dan jadwalnya saat melakukan pemesanan, karena aktivitas tambahan seperti ini bisa memiliki ketentuan tersendiri.
Space Mission dan LEGO Store
Menjelang pintu keluar, pengunjung akan melewati Space Mission, zona bertema luar angkasa tempat anak-anak bisa merakit roket dan menjelajahi pusat kendali interaktif.
Rasanya, perjalanan di dunia LEGO belum benar-benar selesai sampai kita melewati area ini.
Namun, ada satu tantangan terakhir yang harus dihadapi orang tua: LEGO Store! 😂
Sebelum keluar, kami melewati toko LEGO dengan berbagai pilihan set dan merchandise yang menarik. Bisa ditebak, Arga langsung merengek minta beli LEGO lagi. Sepertinya, setelah puas bermain LEGO selama berjam-jam, melihat deretan mainan yang bisa dibawa pulang memang menjadi godaan tersendiri bagi anak-anak.
Di dalam area bermain juga terdapat kafe, jadi orang tua tidak perlu khawatir jika ingin membeli makanan atau minuman sambil menunggu anak bermain.
Apakah LEGOLAND Discovery Centre Manchester Worth It?
Menurutku, LEGOLAND Discovery Centre Manchester sangat layak dikunjungi, terutama jika anak memang menyukai LEGO.
Memang, tempat ini bukan taman hiburan outdoor yang luas dengan banyak wahana besar. Namun, aktivitas yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari merakit LEGO, menguji mobil balap, membangun gedung, bermain di soft play area, hingga menikmati bioskop 4D.
Bagi Arga, bagian paling menyenangkan tentu saja kesempatan bermain LEGO sepuasnya dan menciptakan berbagai bangunan sesuai imajinasinya. Bahkan, di tengah suasana yang cukup ramai saat summer holiday, dia tetap bisa menikmati kunjungan kami.
Dan buatku, indikator paling sederhana bahwa sebuah tempat wisata berhasil memberikan pengalaman menyenangkan adalah ketika anak belum pulang saja sudah ingin kembali lagi.
Itulah yang terjadi pada Arga. Sepanjang perjalanan pulang, rasanya pengalaman bermain LEGO hari itu masih terbawa dalam ceritanya. Aku jadi ikut senang melihat bagaimana sesuatu yang sederhana seperti balok-balok LEGO bisa memberinya ruang untuk berkreasi, bereksperimen, dan menghabiskan waktu dengan penuh antusias.
Jadi, kalau kamu sedang merencanakan liburan ke Manchester bersama anak yang suka LEGO, LEGOLAND Discovery Centre bisa menjadi pilihan yang menarik untuk dimasukkan ke dalam itinerary.
Siapa tahu, seperti Arga, anakmu juga akan pulang membawa banyak cerita dan justru meminta diajak kembali lagi lain waktu ❤️
Kunjungan ke museum udah pasti jadi agenda wajib kalo liburan bareng anak di UK. Sewaktu liburan ke Manchester aku memasukkan dua museum dalam itinerary perjalanan. Dan ternyata dua-duanya sukses meninggalkan kesan tersendiri dan melekat di memori Arga.
Science and Industry Museum
Science and Industry Museum Manchester berlokasi di Castlefield, tidak terlalu jauh dari area city centre. Tiket masuknya gratis tapi tetap harus melakukan booking tiket sebelumnya melalui website.
Ukurannya memang tidak seluas Science Museum di London. Pengunjungnya pun tidak sepadat di sana. Menurutku, ini justru menjadi nilai tambah, terutama untuk anak seusia Arga. Ia bisa lebih leluasa mengeksplorasi berbagai hal tanpa harus mengantre lama untuk mencoba setiap aktivitas.
Arga sedang belajar mengenal konsep kutub positif dan kutub negatif di area Experiment
Setibanya di sana kami langsung naik ke lantai atas menujuarea Experiment. Di sinilah pengunjung bisa mencoba langsung berbagai eksperimen seperti bermain dengan magnet, bayangan, dan mengenal konsep dasar fisika. Arga terlihat begitu antusias mencoba satu per satu eksperimen yang ada.
Di lantai atas ada pula area Power Up yang berbayar. Di dalamnya terdapat lebih dari 100 console games dari berbagai era yang bisa dimainkan sepuasnya, mulai dari Mario Bros, Sonic, sampai Minecraft. Ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para penyuka game.
Nggak cuma anak-anak, orangtuanya juga betah main game di sini, nostalgia game jaman kecil dulu
Menuju ke lantai bawah ada Revolution Manchester Gallery yang menampilkan berbagai ide dan penemuan dari kota Manchester serta Textiles Gallery dengan mesin-mesin tenun bersejarah. Ada pula Power Hall yang menyimpan koleksi mesin uap, lokomotif, dan mesin-mesin industri raksasa.
Sementara itu di lantai paling bawah ada Special Exhibition Gallery yang juga berbayar. Pameran yang sedang berlangsung saat kami datang adalah Horrible Science: Cosmic Chaos, cocok untuk anak-anak yang suka dengan dunia luar angkasa dan alien. Pameran ini juga masih berlangsung sampai tanggal 3 Januari 2027.
Belajar mengenal planet-planet di Special Exhibition Gallery
Menariknya tidak hanya di area Experiment, di setiap galeri juga terdapat berbagai aktivitas untuk anak-anak. Arga sempat membuat roket dari kertas dan mencoba meluncurkannya. Staff museum sangat ramah dan sigap membantu Arga membuat roket sesuai desain yang diinginkannya.
Arga lagi asyik bikin roket kertas, senangnya dia ketika roketnya berhasil meluncur dengan sempurna
Museum ini sangat aku rekomendasikan untuk keluarga yang berlibur ke Manchester. Anak-anak bisa belajar banyak hal tanpa merasa sedang belajar karena semuanya terasa seperti bermain. Tahu-tahu, kami sudah menghabiskan waktu berjam-jam di sana!
Imperial War Museum North
Selainbentuk gedungnya yang unik, ada tank di depan pintu masuk yang menjadi daya tarik buat para pengunjung
Imperial War Museum North (IWM North) adalah sebuah museum yang berlokasi di kawasan Trafford. Untuk menuju ke sini bisa naik Tram Trafford Centre line dari city centre dan turun tepat di depan museum.
Bentuk gedungnya saja dari luar sudah mencuri perhatian karena tampak unik. Ternyata gedungnya memang sengaja didesain dengan bentuk pecahan yang menggambarkan bumi yang hancur akibat perang.
Museum ini berisi berbagai pameran, artefak dan pengalaman tentang dampak perang terhadap kehidupan manusia dari sejak Perang Dunia I hingga saat ini. Di ruang pameran utama terdapat timeline sejarah konflik militer dan sipil yang melibatkan Inggris. Ada pula ribuan benda dan artefak bersejarah seperti tank, meriam, hingga sisa baja Gedung WTC dari tragedi 11 September.
Instalasi seni poppies menyambut saat memasuki IWM North
Di ruang utama pada jam-jam tertentu juga menampilkan pertunjukkan sinematik berupa video sejarah yang diproyeksikan ke seluruh dinding dan langit-langit museum.
Meski tema utamanya terkesan berat, museum ini tetap menyediakan aktivitas yang ramah anak. Ada family activities berupa misi-misi yang harus diselesaikan untuk mengumpulkan stempel. Anak-anak juga bisa mengenakan kostum agen dan berpose layaknya agen cilik.
Arga lagi serius menyelesaikan misi memecahkan sandi morse
Dengan begitu, anak-anak tetap punya kegiatan yang bisa dinikmati sambil menjelajahi museum. Mereka tidak hanya melihat benda-benda bersejarah, tetapi juga diajak berinteraksi dengan pameran melalui aktivitas yang lebih menyenangkan.
Sama seperti Science and Industry Museum, tiket masuk IWM North juga gratis. Jadi, menurutku, tidak ada salahnya memasukkan museum ini ke dalam itinerary saat berkunjung ke Manchester. Apalagi, merchandise store-nya cukup besar dengan koleksi yang menarik untuk dijadikan oleh-oleh.
Buatku, kedua museum ini menawarkan pengalaman yang berbeda, tetapi sama-sama menyenangkan untuk dikunjungi bersama anak.
Yang paling aku suka, keduanya memberi ruang bagi anak untuk mengeksplorasi rasa ingin tahunya sendiri. Tidak harus membaca semua informasi di setiap sudut museum atau memahami setiap detail sejarahnya. Kadang, cukup dengan mencoba sebuah eksperimen, membuat roket kertas, atau menyelesaikan sebuah misi, sudah ada pengalaman baru yang dibawa pulang.
Kalau kamu sedang merencanakan liburan ke Manchester bersama anak, dua museum ini layak masuk ke dalam daftar kunjungan. Selain tiket masuknya gratis, keduanya juga menawarkan pengalaman yang berbeda dari sekadar jalan-jalan atau bermain di playground.
Karena pada akhirnya, liburan bersama anak bukan cuma soal berapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi, tetapi juga tentang pengalaman apa yang membuat mereka antusias, penasaran, dan ingin bercerita lagi setelah pulang.
Dan untuk Arga, sepertinya dua museum ini berhasil melakukannya.
Aku masih ingat betul ketika Arga melontarkan keinginannya itu.
Beberapa bulan lalu, tepatnya Februari, saat kami sedang berada di area galeri lukisan di salah satu museum di London. Saat itu Arga sedang memperhatikan sebuah karya yang dipajang di sana dan meminta kertas serta pensil dariku lalu mencoba menirukan lukisan yang menarik perhatiannya.
Aku masih ingat kalimat itu. Sederhana sekali. Anak lima tahun melihat gambar-gambar yang dipajang di galeri, lalu membayangkan suatu hari gambarnya sendiri juga ada di sana.
Waktu itu aku hanya menjawab, “Iya, pasti bisa nanti tapi sekarang harus belajar dulu biar gambarnya semakin bagus.”
Dan sejak itulah akhirnya dia setuju untuk ikut les lukis.
Aku tidak menyangka ternyata hanya beberapa bulan kemudian, aku benar-benar berdiri di depan karya-karyanya yang sedang dipajang. Bukan di museum. Bukan di galeri besar. Bukan pula exhibition yang melalui proses open call dan kurasi. Tapi tetap saja, untuk kami, hari itu terasa spesial.
Arga’s First Exhibition Bulan lalu, empat karya Arga menjadi bagian dari exhibition yang diselenggarakan oleh tempat les lukisnya. Saat summer holiday, tempat lesnya mengadakan Art Summer Camp. Dan setiap anak yang mengikuti kegiatan tersebut mendapat kesempatan untuk mengikutsertakan karyanya pada Children’s Art Exhibition.
Jadi memang bukan exhibition yang karya-karyanya dipilih melalui proses seleksi. Dan justru karena tahu konteksnya, awalnya aku sempat berpikir, “Ah, ini kan sebenarnya karena Arga ikut summer camp dan semua karya anak-anak lain juga dipajang.”
Tapi begitu datang dan melihat sendiri… Tetap saja hati mama ini rasanya 🥹🥹🥹 Karena di sana ada nama Arga. Dan ada lukisan yang dibuat oleh tangannya sendiri. Dipajang. Dilihat orang lain. Untuk pertama kalinya.
Yang membuatku semakin terharu, ternyata Arga adalah peserta termuda dalam exhibition tersebut. Gurunya bahkan bercerita bahwa ada yang melihat karya Arga dan tidak percaya bahwa lukisan itu dibuat oleh anak berusia enam tahun.
Aku cuma bisa senyum mendengarnya. Bukan karena aku menganggap Arga sudah menjadi seniman kecil yang luar biasa. Tapi karena aku tahu bagaimana perjalanan kecilnya sampai ke titik ini.
Beberapa waktu lalu gurunya di tempat les juga mengatakan bahwa Arga berprogress dengan baik. Sebagai orang tua, tentu saja rasanya menyenangkan mendengar hal seperti itu. Tapi yang paling membuatku bahagia sebenarnya bukan soal apakah gambarnya lebih bagus daripada gambar anak lain.
Aku justru bahagia melihat dia menikmati proses membuatnya. Karena mungkin, untuk anak seusianya, itu jauh lebih penting.
Dan sekarang, dia punya satu pengalaman baru. Pengalaman melihat sesuatu yang ia buat sendiri dipajang di depan orang lain. Mungkin bagi orang lain ini hanyalah sebuah exhibition kecil di tempat les. Tapi bagi Arga, mungkin ini adalah pertama kalinya ia bisa melihat sendiri: “Oh… ternyata gambar yang aku buat bisa dipajang juga.”
Aku kembali teringat percakapan kami di museum London beberapa bulan lalu. Waktu itu Arga hanya melihat karya orang lain dan berkata ingin suatu hari melihat gambarnya sendiri di galeri.
Dan ini memang belum galeri seperti yang ia bayangkan. Belum ada proses kurasi. Belum ada kompetisi. Belum ada juri yang memilih karyanya.
Tapi ada empat lukisan dengan namanya di sana. Dan menurutku, itu sudah menjadi satu langkah kecil yang besar untuk seorang anak berusia enam tahun.
Mungkin nanti akan ada banyak sekali langkah berikutnya. Mungkin suatu hari ia akan mengikuti kompetisi dan tidak menang. Mungkin ia akan mengirim karya ke sebuah open call dan tidak terpilih. Mungkin minatnya pada seni akan berubah ketika ia semakin besar.
Aku tidak tahu. Untuk sekarang, aku hanya ingin menikmati momen ini. Menikmati melihat anak kecilku berdiri di depan karya yang dibuatnya sendiri. Dan mungkin nanti, bertahun-tahun dari sekarang, ketika ia sudah jauh lebih besar, aku akan menunjukkan foto ini kepadanya dan berkata, “Do you remember your first exhibition?”
Arga dan empat karyanya dalam Children’s Art Exhibition
Dan aku akan bercerita bahwa dulu, ketika usianya baru lima tahun, ia pernah berkata ingin gambarnya dipajang di galeri. Lalu beberapa bulan kemudian… gambar itu benar-benar dipajang. 🎨🥹
Beberapa bulan lalu, aku melihat sebuah postingan open call yang lewat di grup WhatsApp. Sebuah komunitas bernama IBUK—Ibu Berdaya di UK—sedang membuka kesempatan bagi ibu-ibu Indonesia di UK untuk ikut berkontribusi dalam sebuah buku kolaboratif tentang peran ibu sebagai perantau.
Tentu saja aku langsung tertarik.
Selama ini aku memang senang menulis. Sejak tinggal di Sheffield, menulis di blog menjadi salah satu caraku mendokumentasikan perjalanan keluarga kecil kami. Ada cerita tentang pindah ke UK, kehidupan sehari-hari, perjalanan liburan bersama Arga, sampai berbagai hal kecil yang mungkin terlihat sederhana, tetapi terasa berarti ketika dijalani jauh dari rumah.
Tapi menulis untuk sebuah buku kolaboratif tentu terasa berbeda.
Ada rasa penasaran, tapi juga sedikit ragu. Tapi nggak ada salahnya kan untuk dicoba?
Setelah berpikir beberapa waktu, akhirnya aku memutuskan untuk ikut.
Tentang Sekolah Pertama Arga
Dari beberapa pengalaman yang bisa kuceritakan, aku memilih menulis tentang salah satu perjalanan yang paling membekas selama kami tinggal di UK: pengalaman Arga memulai sekolah untuk pertama kalinya.
Bukan sekadar pindah sekolah.
Arga justru belum pernah bersekolah sebelumnya di Indonesia.
Ia pertama kali mengenal dunia sekolah justru setelah kami pindah ke UK. Di usia lima tahun, ia langsung masuk Year 1 di sebuah primaryschool di Sheffield. Bahasa Inggris pun masih menjadi bahasa yang baru baginya.
Sebagai ibu, tentu saja ada banyak kekhawatiran.
Dan benar saja, perjalanan itu tidaklah pernah benar-benar mulus.
Ada banyak tangis, takut, sedih, tawa, bangga, haru, dan bahagia yang mewarnai perjalanan sekolah Arga.
Dan yang pasti ada proses belajar dan bertumbuh yang tak hanya untuk Arga, tapi juga untukku.
Dari perjalanan itulah lahir judul tulisanku “Sekolah Pertama di Tanah yang Asing: Sampai UK Langsung Jadi Anak SD.”
Sebuah cerita tentang sekolah pertama Arga, tetapi sebenarnya juga tentang perjalanan belajarku sebagai seorang ibu.
Ketika Tulisan Menjadi Bagian dari Sebuah Buku
Saat pendaftaran sebagai penulis hanya diminta menuliskan rencana judul cerita dan alasan kenapa layak dipilih sebagai kontributor.
Baru setelah itu para penulis terpilih dibekali dengan pelatihan kepenulisan dari MomGuides IBUK sebelum memulai menuliskan draft cerita masing-masing.
Setelah aku submitform pendaftaran tentu ada rasa deg-degan menunggu kabar.
Dan ketika akhirnya mendapat kabar bahwa aku terpilih untuk menjadi salah satu bagian dari buku kolaboratif ini, rasanya senang sekali.
Mungkin bagi orang lain ini terlihat sederhana. Hanya satu tulisan dari sekian banyak tulisan.
Tapi bagiku, ada rasa haru tersendiri ketika sebuah cerita yang awalnya hanya tersimpan sebagai pengalaman keluarga kecil kami, kini bisa menjadi bagian dari cerita yang lebih besar.
Cerita tentang para ibu Indonesia yang menjalani kehidupan di tanah rantau.
Ada yang menjadi ibu sambil menjalani PhD. Ada yang melanjutkan pendidikan. Ada yang membangun kembali kariernya. Ada yang menjadi ibu rumah tangga. Ada yang melewati kehamilan dan persalinan di UK. Ada yang mendampingi anak-anaknya tumbuh di negeri yang berbeda. Ada pula yang sedang belajar menemukan dirinya kembali.
Masing-masing punya cerita yang berbeda.
Namun mungkin ada satu hal yang sama: kami sama-sama sedang belajar menjadi ibu, sambil belajar menjalani kehidupan di negeri orang.
Dan dari situlah lahir buku Rumah di Rantau.
Rumah yang Dibangun dari Banyak Cerita.
Menurutku, judul Rumah di Rantau terasa sangat tepat.
Karena ketika tinggal jauh dari Indonesia, rumah ternyata bukan hanya soal tempat kita pulang.
Rumah bisa berupa keluarga yang kita bangun di negeri baru. Teman-teman yang menjadi tempat berbagi. Komunitas yang membuat kita merasa tidak sendirian. Dan juga cerita-cerita yang mengingatkan bahwa ternyata ada banyak ibu lain yang sedang menjalani perjuangan yang sama.
Buku ini berisi 30 cerita dari ibu-ibu Indonesia di UK dengan pengalaman yang beragam. Ada cerita tentang motherhood, pendidikan, karier, keluarga, kesehatan, adaptasi, sampai perjalanan menemukan kembali diri sendiri.
Dan sekarang, salah satu ceritanya adalah cerita kami.
Cerita tentang seorang anak bernama Arga yang untuk pertama kalinya mengenal sekolah bukan di tanah kelahirannya, tetapi di tanah yang saat itu masih asing bagi kami.
Pintu Rumah di Rantau Sudah Dibuka
Mulai hari ini, 16 September 2026, Rumah di Rantau resmi membuka pre-order.
Jujur, aku sendiri masih merasa agak tidak percaya bisa menjadi bagian dari buku ini. Sebuah pengalaman kecil yang awalnya hanya dimulai dari melihat sebuah open call, akhirnya membawa satu cerita dari keluarga kecil kami masuk ke dalam sebuah buku.
Kalau kamu penasaran dengan cerita para ibu Indonesia yang menjalani kehidupan di UK, buku ini mungkin bisa menjadi teman membaca yang hangat.
Dan kalau kamu ingin membaca cerita Arga tentang pengalaman pertamanya bersekolah di UK, tentu aku akan sangat senang kalau kamu menemukan ceritaku di dalamnya. 🤍
📖 Rumah di Rantau — Kumpulan cerita ibu Indonesia di UK
Pre-order dibuka mulai 16-30 September 2026 melalui bit.ly/Pre-orderRumahDiRantau
Atau kalo mau pesan lewat aku silahkan comment di bawah yaa.
Semoga buku ini bisa menjadi pengingat bahwa meskipun kita sedang jauh dari rumah, kita tidak pernah benar-benar sendirian.
Karena mungkin, tanpa kita sadari, di tanah rantau pun kita sedang membangun rumah—dari keluarga, persahabatan, pengalaman, dan cerita-cerita yang kelak akan kita kenang. 🌿
Nah setelah melakukan beberapa kali viewing, kami akhirnya menemukan satu rumah yang rasanya paling mendekati apa yang kami cari.
Rumah itu sebenarnya tidak jauh-jauh dari rumah kami sekarang. Masih di area yang sama, bahkan letaknya seperti hanya di seberang jalan. Hanya saja, karena terhalang pepohonan, rumah tersebut tidak terlihat dari tempat kami tinggal sekarang.
Setelah selesai viewing, untuk pertama kalinya kami bertiga langsung sepakat.
Rasanya seperti, “Oke, ini rumahnya.”
Dan ternyata, menemukan rumah baru bukanlah akhir dari cerita.
Kami pun mulai memproses semuanya dan bersiap untuk membayar deposit. Tapi ternyata, drama sebenarnya baru dimulai.
Begitu proses pindah rumah mulai terasa nyata, Arga malah menangis dan bilang tidak mau pindah. Dia bilang sangat menyukai rumah kami sekarang.
Sementara kami sibuk membujuk Arga dan meyakinkannya bahwa rumah baru juga akan menyenangkan, diam-diam aku sendiri mulai ikut galau.
Bagaimana kalau setelah pindah nanti ternyata rumah baru tidak senyaman rumah yang sekarang?
Bagaimana kalau kami justru menyesal?
Bagaimana kalau ternyata kami baru sadar bahwa rumah pertama ini memang sudah menjadi rumah yang paling cocok untuk kami?
Lucu juga ya.
Awalnya kami mencari rumah baru karena merasa rumah yang sekarang punya beberapa kekurangan. Tapi setelah hampir satu tahun tinggal di sini, ternyata rumah ini sudah punya terlalu banyak hal yang membuat kami nyaman—dan terlalu banyak kenangan yang membuat kami berat untuk meninggalkannya.
Jadi, ketika akhirnya kami menemukan rumah yang cocok, muncul satu masalah baru yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya: Bagaimana rasanya meninggalkan rumah pertama kami yang sudah menyimpan begitu banyak kenangan?
Yaa, ternyata memilih rumah baru tidak sesederhana yang kami kira.
Meski begitu, kami akhirnya tetap melanjutkan proses rumah baru itu dengan Bismillah.
Pelan-pelan, Arga pun mulai excited dengan rencana pindahan. Bahkan dia mulai sering bertanya,
“Kapan kita ke rumah baru?”
“Berapa hari lagi kita tinggal di sini?”
Dan setiap kali aku menyebutkan jumlah sisa hari kami sebelum pindahan, rasanya baru benar-benar sadar bahwa waktunya semakin dekat.
Satu per satu barang mulai kubereskan.
Dinding putih yang sempat penuh warna dengan tempelan karya Arga kini kembali putih.
Kosong dan bersih, seperti saat kami pertama kali datang.
Sementara di lantai, bertumpuk aneka karya Arga dengan berbagai bentuk dan warna. Ternyata dalam setahun sudah banyak sekali.
Rumah ini, tepatnya dinding ruang tamunya, pernah menjadi saksi bertumbuhnya Arga.
Dari yang baru bisa menggambar mobil hingga bisa menggambar pemandangan indah.
Dari yang hanya membuat coretan pensil di atas kertas hingga berani mencoba berbagai macam media lukis.
Rumah ini pernah menjadi galeri karya Arga.
Waktu itu Arga pernah bilang kalau dia pengen gambarnya bisa dipajang di galeri. Karena menunggu sampai bisa masuk pameran butuh proses dan waktu, kenapa nggak dipajang aja di rumah sendiri? Jadilah dinding ruang tamu disulap jadi minigallery
Dan meskipun sebentar lagi kami akan meninggalkannya, rasanya bagian dari perjalanan kami di Sheffield akan selalu tinggal di sini.
Rumah pertama kami di Sheffield.
Rumah yang bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi saksi bagaimana kami bertiga belajar memulai kehidupan baru di tempat yang asing.
Dan mungkin, itu sebabnya meninggalkannya terasa jauh lebih berat dari yang kami kira.
Salah satu destinasi yang dari awal langsung aku masukkan ke dalam itinerary Manchester adalah John Rylands Library.
John Rylands Library merupakan sebuah perpustakaan bersejarah dengan gaya arsitektur neo-Gothic. Lokasinya berada di Deansgate dan kebetulan tidak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap.
Di antara gedung-gedung modern di sekitarnya, bangunan perpustakaan ini memang langsung menyita perhatian. Dari luar saja sudah terlihat megah dan rasanya langsung mengundang kita untuk masuk ke dalamnya.
Gedung perpustakaan ini dibangun pada tahun 1890 sebagai bentuk kenangan dan penghormatan dari Enriqueta Augustina Rylands untuk suaminya, John Rylands.
Meskipun kini menjadi bagian dari University of Manchester, perpustakaan ini tetap dibuka untuk umum sehingga siapa pun bisa datang dan menikmati keindahan bangunannya.
Antre Sebelum Perpustakaan Dibuka
John Rylands Library buka dari hari Rabu sampai Sabtu mulai pukul 10.00.
Waktu itu kami datang beberapa menit sebelum jam 10 dan ternyata sudah cukup banyak wisatawan yang antre menunggu pintu dibuka. Syukurlah kami datang lebih awal karena antreannya belum terlalu panjang.
Semakin mendekati jam 10, antrean mulai mengular dan bahkan sudah mendekati jalan raya.
Jadi kalau kamu ingin datang ke sini, menurutku datang sedikit lebih awal adalah pilihan yang bagus, terutama kalau ingin menghindari antrean panjang.
Berasa Masuk Hogwarts
Begitu memasuki perpustakaan ini, kesan pertama yang muncul dalam benakku adalah:
“Ini seperti masuk Hogwarts!” 😂
Tangga dan atap kubah memberi kesan megah, indah dan sakral
Interiornya benar-benar punya nuansa seperti sekolah sihir. Langit-langitnya tinggi dengan atap berbentuk kubah, sementara dinding dan pilarnya dihiasi berbagai ukiran batu dengan detail yang rumit.
Tangga dengan ornamen klasik, jendela kaca patri, serta rak-rak buku kayu berukuran besar semakin membuat suasananya terasa seperti berada di dalam film Harry Potter.
Area ruang bacanya juga sangat luas dengan desain interior yang menurutku lebih mirip sebuah Cathedral daripada perpustakaan biasa.
Area ruang baca, terlalu cantik untuk disebut perpustakaan
Di beberapa sudut terdapat patung-patung yang ikut menghiasi ruangan, salah satunya adalah patung Beethoven.
Patung John Rylands di sudut ruang baca John Rylands Library
Buat yang membawa anak-anak, jangan khawatir mereka akan cepat bosan. Arga sendiri sama sekali nggak terlihat bosan selama berada di sini. Dia malah sibuk melihat-lihat berbagai macam benda di sekitarnya, mencoba duduk di beberapa bangku yang ada di area duduk, dan tentu saja sibuk bertanya,
Namanya juga anak-anak, rasa penasarannya memang nggak ada habisnya. Tapi justru menurutku itu yang membuat kunjungan ke tempat seperti ini menarik. Anak bisa melihat bangunan dan benda-benda bersejarah secara langsung, sambil belajar dari rasa ingin tahunya sendiri.
Meskipun kami datang bersama anak, kami tetap bisa menikmati keindahan perpustakaan ini dengan santai.
Mesin cetak jaman dulu yang dipajang di salah satu sudut perpustakaan
Menyimpan Naskah yang Sangat Langka
Selain memiliki bangunan yang luar biasa indah, John Rylands Library juga menyimpan koleksi naskah dan buku-buku bersejarah yang sangat berharga.
Salah satu koleksi yang terkenal adalah St John Fragment, yaitu potongan naskah yang dianggap sebagai salah satu fragmen Perjanjian Baru tertua yang masih ada.
Buatku, bagian ini membuat kunjungan ke John Rylands terasa lebih dari sekadar melihat bangunan cantik. Di balik interiornya yang terlihat seperti Hogwarts, ternyata perpustakaan ini juga menyimpan sejarah yang sangat panjang.
Jangan Lupa Mampir ke Souvenir Shop
Sebelum keluar kami juga sempat mampir ke souvenir shop. Ada banyak barang unik yang menarik untuk dibeli, mulai dari postcard, pin, sampai berbagai merchandise bertema John Rylands Library.
Dan ternyata pilihan souvenir kali ini sepenuhnya ditentukan oleh Arga😂 Dia memilih sebuah pin berbentuk gedung John Rylands Library dan postcard unik dari The Manchester Odyssey.
Souvenir pilihan Arga
Postcard-nya menurutku lucu banget karena dibuat menyerupai potongan naskah kuno lengkap dengan bagian-bagian yang terlihat seperti sobekan. Di bagian belakangnya juga ada penjelasan mengenai The Manchester Odyssey.
Sedangkan pin berbentuk gedung John Rylands langsung dipilih Arga karena katanya “ini yang paling bagus.” 😆 Kecil memang, tapi justru souvenir seperti ini yang nanti akan mengingatkan kami pada perjalanan ke Manchester dan kunjungan pertama kami ke perpustakaan yang berasa seperti Hogwarts ini. ❤️
John Rylands Library menurutku adalah salah satu tempat yang wajib masuk itinerary kalau sedang jalan-jalan ke Manchester, bahkan kalau kamu bukan seorang book lover.
Bangunannya saja sudah cukup menjadi alasan untuk datang. Arsitektur neo-Gothic yang megah, ruang baca yang terasa seperti berada di dalam cathedral, dan koleksi sejarahnya membuat tempat ini punya pengalaman yang berbeda dari destinasi wisata lainnya.
Dan buat penggemar Harry Potter, bonusnya adalah bisa merasakan sedikit sensasi “jalan-jalan ke Hogwarts.”
Kalau sedang berada di Manchester, jangan cuma lewat Deansgate. Sempatkan masuk ke sini dan lihat sendiri betapa cantiknya John Rylands Library ❤️
Liburan di sebuah kota di UK rasanya belum lengkap kalau belum mengunjungi taman. Apalagi kalau liburan bersama anak, taman hampir selalu masuk dalam list destinasi yang akan kami kunjungi.
Selain bisa menjadi tempat anak bermain dan menghabiskan energi, taman juga biasanya menjadi pilihan yang menyenangkan untuk menikmati suasana kota tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.
Selama berlibur di Manchester, kami mengunjungi dua taman yang punya karakter cukup berbeda, yaitu Mayfield Park dan Heaton Park.
1. Mayfield Park
Sampai di Mayfield Park disambut langit cerah, padahal sebelumnya sempat turun hujan
Mayfield Park terletak tidak terlalu jauh dari pusat kota Manchester. Dari Manchester Piccadilly Station, taman ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 menit.
Aku memilih taman ini setelah melihat-lihat hasil pencarian Google. Dari foto-fotonya, playground-nya terlihat menarik dan sepertinya cocok untuk Arga.
Dan ternyata benar!
Beberapa permainan di playground yang bikin Arga super happy
Playground di Mayfield Park memang seru banget. Areanya cukup luas dengan banyak pilihan permainan, mulai dari jungkat-jungkit, ayunan, trampoline, berbagai macam perosotan, dan masih banyak lagi.
Tapi ada satu permainan yang menjadi highlight kami di sini.
Untuk mencoba perosotan ini, kita harus terlebih dahulu menyeberangi sungai melalui jembatan tali. Setelah sampai di seberang, perosotannya akan meluncur melewati sungai.
Perosotan lintas sungai yang wajib dicoba kalo main ke sini
Awalnya Arga takut mencoba. Tapi begitu berhasil turun sekali, malah ketagihan dan ingin mencoba lagi 😂
Selain bermain di playground, kami juga sempat berjalan-jalan ke area lain di taman, termasuk turun sampai ke pinggiran sungai.
Arga dan ayahnya turun ke area pinggiran sungai
Oh ya, Mayfield Park juga memiliki fasilitas toilet umum dan café kecil yang lokasinya dekat dengan playground. Jadi kalau datang bersama anak, kita bisa cukup nyaman menghabiskan waktu beberapa jam di sini.
Menurutku, Mayfield Park cocok banget untuk keluarga yang ingin mencari taman dengan playground seru tapi lokasinya masih cukup dekat dengan city centre.
2. Heaton Park
Kalau Heaton Park, lokasinya cukup jauh dari city centre. Kalau ditempuh menggunakan tram, perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit.
Katanya, Heaton Park merupakan taman terbesar di Manchester. Dan setelah kami datang langsung, ternyata memang besar banget!
Peta Heaton Park, beneran seluas itu dan banyak banget yang bisa dieksplor
Dari pintu masuk, Arga sudah langsung merengek minta pergi ke playground. Jadi kami pun langsung mengikuti petunjuk arah menuju North Playground.
Sudah cukup jauh kaki melangkah, tapi playground-nya tak kunjung terlihat.
Yang ada malah… kawanan highland cows 😂
Sapi-sapi lagi pada santai
Berkali-kali Arga bertanya,
“Mana sih, Ma, playground-nya?”
Dan aku terus menjawab,
“Itu mungkin di depan.”
Tapi ternyata… masih belum sampai juga 🤣
Kami malah melewati Animal Centre terlebih dahulu. Karena sudah sampai di sana, akhirnya kami sekalian masuk dan melihat-lihat hewan yang ada.
Ada ayam, keledai, domba, alpaca, burung merak, bebek, kambing, dan babi.
Pas baca fun fact reflek langsung bilang ke Arga “Bebeknya sama kaya kita dari Indonesia juga”
Setelah puas melihat hewan, kami kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari playground.
Sempat salah arah dan mengikuti petunjuk yang ternyata malah membuat kami semakin jauh, akhirnya kami berhasil sampai juga di NorthPlayground. Yeay! 😂
Walaupun permainannya tak sebanyak di Mayfield Park tapi cukup seru juga untuk dicoba
Playground-nya sangat luas, walaupun menurutku pilihan permainannya tidak sebanyak Mayfield Park.
Sayangnya, cuaca Manchester lagi-lagi kurang bersahabat. Hujan membuat beberapa permainan menjadi basah sehingga Arga tidak bisa mencoba semuanya.
Belum puas bermain, hujan malah semakin deras.
Akhirnya kami terpaksa menyudahi sesi bermain dan mencari tempat berteduh di café. Kami pun menikmati coklat hangat sambil menunggu hujan reda.
Pas banget untuk menghangatkan badan setelah jalan kaki jauh dan kehujanan. ☕️🌧️
Mayfield Park atau Heaton Park?
Kalau hanya punya waktu singkat dan ingin taman yang mudah dijangkau dari city centre, menurutku Mayfield Park lebih praktis. Lokasinya dekat, playground-nya seru, dan fasilitasnya juga cukup lengkap.
Sementara itu, Heaton Park cocok untuk yang punya lebih banyak waktu dan ingin mengeksplor taman yang jauh lebih luas. Selain ada dua playground, ada banyak area lain yang bisa dikunjungi, seperti Animal Centre, danau, dan jalur trail.
Jadi kalau datang bersama anak, jangan hanya mengalokasikan waktu satu atau dua jam untuk Heaton Park. Taman ini benar-benar luas dan cukup banyak yang bisa dieksplor.
Dan satu lagi: jangan lupa cek cuaca sebelum berangkat! 😂
Manchester, kota terbesar ketiga di UK, menjadi pilihan kami untuk mengisi sisa summer holiday kali ini. Jarak dari Sheffield ke Manchester hanya sekitar 60-an km dan bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 50 menit menggunakan kereta.
Kami memutuskan untuk menghabiskan 3 hari 2 malam di Manchester supaya bisa lebih santai mengeksplor kota ini. Lagi-lagi, kami memilih menginap di Travelodge yang masih sesuai dengan budget kami.
Day 1
Legoland Discovery Centre
Highlight utama liburan kali ini tentu saja adalah Legoland Discovery Centre. Kebetulan Arga memang sedang suka banget dengan Lego, jadi kami ingin mengajaknya mencoba pengalaman bermain di sini.
Mini Manchester yang semuanya terbuat dari lego ini bisa ditemui di Legoland Discovery Centre
Legoland Discovery Centre berlokasi di dalam Trafford Palazzo, sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Trafford. Tapi perlu dicatat, Legoland di sini berbeda dengan Legoland Malaysia yang konsepnya merupakan taman hiburan besar dengan banyak wahana outdoor. Jadi, jangan berharap akan menemukan banyak sekali wahana seperti di theme park yaa.
Walaupun begitu, Arga tetap super happy! Bahkan sebelum pulang dia sudah minta untuk datang ke sini lagi. 😂
Mumpung sudah berada di kawasan Trafford yang cukup jauh dari city centre, kami sekalian jalan-jalan di Trafford Centre.
Trafford Centre merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Manchester. Desain interiornya cukup klasik dan menurutku malah memberikan kesan agak jadul.
Yang menyenangkan, pilihan makanan halalnya juga cukup banyak, jadi kami nggak perlu bingung mencari makanan setelah puas jalan-jalan.
Day 2
Manchester Cathedral & National Football Museum
Pagi hari setelah sarapan di hotel, kami langsung jalan-jalan sekaligus foto-foto di sekitar Manchester Cathedral. Kebetulan lokasinya sangat dekat dengan hotel kami.
Manchester Cathedral dengan background langit biru cerah
Setelah itu kami berjalan menuju National Football Museum. Karena keluarga kami bukan pecinta sepak bola, kami memutuskan untuk tidak masuk ke dalam museum. Kami hanya foto-foto dan bermain di area luarnya.
Ternyata area di sekitar museum cukup menyenangkan untuk anak karena ada mini playground dan taman dengan kolam. Jadi walaupun tidak masuk museum, Arga tetap bisa menikmati waktunya di sini.
Cuma main di halaman National Football Museum ternyata udah cukup bikin Arga happy
John Rylands Library
Perjalanan berikutnya adalah mengunjungi John Rylands Library.
Memasuki area reading room di John Rylands Library, cantik dan megah
Perpustakaan ini terkenal dengan arsitektur neo-Gothic-nya yang megah dan koleksi naskah kuno yang sangat langka. Dari luar saja bangunannya sudah cantik, tapi begitu masuk ke dalam, suasananya benar-benar bikin terpukau.
Vibes-nya seperti masuk ke Hogwarts! 😍
Buat kami, tempat ini menjadi salah satu spot yang paling memorable selama jalan-jalan di Manchester.
Selanjutnya kami mengunjungi Science and Industry Museum.
Arga lagi nyoba mengangkat mobil dengan katrol, kuat nggak ya?
Kalau dibandingkan dengan Science Museum di London, museum yang ada di Manchester ini memang jauh lebih kecil. Tapi justru menurutku ukurannya pas untuk mengajak anak seusia Arga bereksplorasi tanpa membuatnya terlalu cepat capek.
Museum ini juga gratis dan menawarkan berbagai macam eksperimen sains yang bisa dicoba langsung oleh anak-anak. Jadi mereka bisa belajar banyak hal, tapi rasanya seperti sedang bermain.
Arga pun betah mencoba berbagai aktivitas yang ada di sana.
Hari terakhir di Manchester kami awali dengan mengunjungi Heaton Park, taman terbesar di Manchester. Saking luasnya, kami sampai kecapekan jalan, tapi masih belum sampai juga ke playground. 😂
Selain playground, di Heaton Park juga ada mini zoo. Arga langsung excited melihat berbagai macam hewan seperti alpaca, burung merak, babi, kambing, dan masih banyak lagi.
North Playground di Heaton Park
Sayangnya, begitu kami sampai di playground, cuaca malah tidak bersahabat. Hujan langsung turun dengan derasnya. Alhasil, Arga yang sebenarnya masih belum puas bermain terpaksa kami tarik ke café dulu untuk berteduh. 😅
Biar sah ke Manchester harus foto di depan stadion Old Trafford
Rasanya tak lengkap berlibur ke Manchester tanpa mengunjungi kandang Manchester United. Jadi, perjalanan kami selanjutnya adalah mampir ke Old Trafford Stadium.
Kami tidak masuk untuk mengikuti stadium tour dan hanya mengunjungi merchandise store. Pulang-pulang, Arga sudah membawa teman baru, Fred the Red, untuk menemani boneka capybara kesayangannya. 😂
Capybara-nya Arga sekarang udah punya teman, Fred The Red
The Quays
Jembatan cantik untuk menyeberang ke The Quays
Dari Old Trafford, kami berjalan-jalan sebentar di The Quays, kawasan di pinggir kanal yang cukup cantik dan menjadi salah satu area Manchester River Cruise.
IWM North
Salah satu ruang galeri di IWM North Museum
Liburan kami di Manchester akhirnya ditutup dengan mengunjungi IWM North.
Museum perang dunia ini masih berada di sekitar kawasan Old Trafford. Menurutku, museum ini termasuk salah satu tempat yang wajib dikunjungi kalau sedang berada di Manchester.
Yang paling menyenangkan untuk keluarga dengan anak, ada banyak aktivitas interaktif yang membuat museum ini tidak terasa membosankan. Arga bahkan sempat menjalankan misi sebagai little secret agent di dalam museum. 🕵️♂️
Tiga hari dua malam ternyata cukup untuk membuat kami jatuh cinta dengan Manchester. Kota ini punya kombinasi yang pas untuk liburan keluarga: ada museum gratis, taman yang luas, tempat bermain anak, bangunan bersejarah, sampai tentu saja jejak sepak bola yang begitu kuat.
Dan yang paling menyenangkan, sebagian besar tempat yang kami kunjungi juga bisa dinikmati tanpa harus mengeluarkan budget besar.
Kalau dibandingkan dengan beberapa kota lain yang sudah kami kunjungi di UK, Manchester mungkin bukan kota yang langsung membuat kami “wow” dari awal. Tapi setelah tiga hari berkeliling, kami justru menemukan banyak tempat menarik yang membuat perjalanan ini terasa lengkap dan menyenangkan.
Apalagi melihat Arga yang happy hampir di setiap tempat yang kami datangi, rasanya 3 hari 2 malam di Manchester masih kurang. Kayaknya harus balik lagi suatu hari nanti! ❤️
Sebagai salah satu kota besar di UK, awalnya aku kira akan cukup sulit mencari makanan halal di Manchester. Ternyata aku salah.
Sekarang sudah cukup banyak restoran yang menyajikan menu halal, mulai dari makanan Asia, Mediterania, sampai makanan Indonesia dan Malaysia. Jadi meskipun liburan beberapa hari, kami sama sekali nggak bosan mencari makanan karena pilihannya cukup banyak.
Berikut beberapa restoran yang kami coba langsung selama liburan kemarin.
1. Tampopo
Nggak nyangka, di tengah Manchester malah ketemu Jakarta dan Bali. Kangen Indonesia langsung terobati sedikit ❤️
Kami mencoba Tampopo saat lunch di Trafford Centre. Restoran ini tidak fully halal, tetapi mereka menyediakan menu khusus halal yang bisa diakses dengan scan barcode pada buku menu utama.
Tampopo menyajikan menu khas dari berbagai negara Asia, seperti Thailand, Vietnam, Jepang, Korea, termasuk Indonesia.
Kami memesan Singapore Laksa (£16.80), Indonesia Grilled Chicken (£17.50), dan Spring Roll (£8.90).
Ayam bakarnya benar-benar punya rasa Indonesia dengan bumbu rempah yang cukup meresap. Buatku, rasanya lumayan jadi obat kangen makanan Indonesia. 😆
Selain di Trafford Centre, Tampopo juga memiliki cabang di Albert Square dan Corn Exchange.
2. Tru Street
Masih di Trafford Centre, kami mencoba pilihan restoran halal lainnya, yaitu Tru Street. Kalau restoran yang satu ini sudah fully halal.
Kami memesan Parisian Steak & Fries (£16.99) dan kids menu (£8.99) yang terdiri dari spring roll, fried chicken fillet & fries, serta minuman.
Parisian Steak and Fries, ini bukan porsi utuh yaa karena udah keburu dicomot dagingnya
Rasanya enak, dagingnya empuk, dan porsinya juga cukup besar. Buat kami, ini termasuk salah satu pilihan yang cukup aman kalau sedang mencari makanan halal di Trafford Centre.
3. Jood Restaurant
Kali ini kami mencoba restoran khas Mediterania yang berada tidak jauh dari city centre.
Karena waktu itu hanya berdua dengan Arga, aku memilih satu menu utama dan side dish berupa kentang goreng.
Menu andalan di restoran ini adalah berbagai macam grill dan platter. Tapi aku justru memilih Teriyaki Bowl karena rasanya cukup familiar untuk lidah Arga.
Porsinya cukup besar dan sudah lengkap dengan basmati rice, fried egg, dan salad.
Menurutku, chicken teriyakinya sedikit terlalu manis, tapi Arga approved. 😂Bahkan dia sampai menyuruh boneka capybara kesayangannya untuk ikut mencoba. “You have to try, this is so delicious!” katanya.
Untuk 2 menu makanan tersebut ditambah mineral water kami membayar £16.9. Harga yang sangat terjangkau, apalagi porsi dan rasanya approved.
4. Kaya Restaurant
Setiap liburan ke luar kota, restoran Indonesia atau Malaysia hampir selalu masuk dalam daftar pencarian kami. Maklum, kadang kangen juga sama makanan Asia Tenggara. 😆
Di Manchester, kami menemukan Kaya Restaurant yang berlokasi di area Chinatown.
Begitu masuk, kami langsung disambut lagu Kasih Putih dari Glenn Fredly yang sedang diputar.
Arga sontak langsung bertanya, “Kok di sini bisa ada lagu Indonesia, Ma?”
Lucu banget rasanya mendengar pertanyaan itu di tengah Chinatown Manchester. 😂
Kami memesan dua porsi Nasi Lemak dan Es Cendol.
Satu porsi Nasi Lemak dibanderol sekitar £13–16, tergantung pilihan lauknya, mulai dari ayam goreng, ayam gulai, sampai rendang.
Buat kami, menemukan makanan Indonesia atau Malaysia di kota lain selalu memberikan rasa nyaman tersendiri. Apalagi kalau tiba-tiba dengar lagu Indonesia juga. Auto berasa pulang sebentar ❤️
5. Plus84 Vietnamese Street Eat
Saat berjalan-jalan di area The Quays, kami juga sempat makan siang di sebuah food court bernama Kargo MKT.
Di sana ada beberapa pilihan tenant halal, tapi kami akhirnya memilih Plus84 Vietnamese Street Eat.
Menemukan Vietnamese food halal di tengah Manchester rasanya happy banget
Aku dan Ayah Arga memesan Pho Xao dengan grilled beef (£13.95), sedangkan Arga memilih Rice Bowl with Crispy Tofu (£11.50).
Kami memilih tempat duduk di area outdoor sehingga bisa menikmati makanan sambil melihat pemandangan di pinggir sungai.
Menurutku, ini salah satu pengalaman makan yang menyenangkan selama di Manchester. Bukan hanya soal makanannya, tapi juga suasananya yang membuat kami bisa sekalian menikmati area The Quays.
Restoran Halal Lain yang Menarik Dicoba
Selain restoran-restoran yang kami coba di atas, ada beberapa restoran halal lain yang sempat kami temui selama jalan-jalan di Manchester.
Ada Nichi, restoran Jepang di Trafford Centre, yang sepertinya cukup menarik untuk dicoba. Ada juga Kungfu Noodle di area Chinatown yang menyediakan pilihan menu halal.
Nichi tepat berseberangan dengan Tru Street di area Eastern Garden Trafford Centre
Selain itu, kami juga beberapa kali melewati restoran halal lainnya di sepanjang jalan di area city centre.
Jadi, kalau kamu Muslim dan sedang merencanakan liburan ke Manchester, menurutku nggak perlu terlalu khawatir soal makanan.
Sebelum datang ke Manchester, aku justru sempat berpikir bakal cukup sulit mencari makanan halal karena kota ini jauh lebih besar dibanding Sheffield. Ternyata setelah datang langsung, pilihannya justru cukup banyak.
Jadi buat kamu yang sedang merencanakan liburan ke Manchester dan mencari makanan halal, semoga daftar ini bisa membantu. Dan kalau punya rekomendasi restoran halal lainnya di Manchester, boleh banget share di kolom komentar. Siapa tahu bisa kami coba kalau nanti balik lagi ke Manchester! ❤️
Mulai dari restoran Asia, steak, makanan Mediterania, Vietnamese food, sampai makanan Indonesia dan Malaysia, semuanya bisa ditemukan di berbagai area kota.
Dari lima tempat yang kami coba, semuanya punya pengalaman yang berbeda. Ada yang kami pilih karena lokasinya dekat dengan tempat wisata, ada yang karena Arga suka makanannya, dan tentu saja ada yang kami datangi karena kangen makanan Indonesia. 😂