Jendela Cerita Mama Arga

Di balik jendela, banyak cerita tumbuh dan bermakna

  • Salah satu destinasi yang dari awal langsung aku masukkan ke dalam itinerary Manchester adalah John Rylands Library.

    John Rylands Library merupakan sebuah perpustakaan bersejarah dengan gaya arsitektur neo-Gothic. Lokasinya berada di Deansgate dan kebetulan tidak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap.

    Di antara gedung-gedung modern di sekitarnya, bangunan perpustakaan ini memang langsung menyita perhatian. Dari luar saja sudah terlihat megah dan rasanya langsung mengundang kita untuk masuk ke dalamnya.

    Gedung perpustakaan ini dibangun pada tahun 1890 sebagai bentuk kenangan dan penghormatan dari Enriqueta Augustina Rylands untuk suaminya, John Rylands.

    Meskipun kini menjadi bagian dari University of Manchester, perpustakaan ini tetap dibuka untuk umum sehingga siapa pun bisa datang dan menikmati keindahan bangunannya.

    Antre Sebelum Perpustakaan Dibuka

    John Rylands Library buka dari hari Rabu sampai Sabtu mulai pukul 10.00.

    Waktu itu kami datang beberapa menit sebelum jam 10 dan ternyata sudah cukup banyak wisatawan yang antre menunggu pintu dibuka. Syukurlah kami datang lebih awal karena antreannya belum terlalu panjang.

    Semakin mendekati jam 10, antrean mulai mengular dan bahkan sudah mendekati jalan raya.

    Jadi kalau kamu ingin datang ke sini, menurutku datang sedikit lebih awal adalah pilihan yang bagus, terutama kalau ingin menghindari antrean panjang.

    Berasa Masuk Hogwarts

    Begitu memasuki perpustakaan ini, kesan pertama yang muncul dalam benakku adalah:

    “Ini seperti masuk Hogwarts!” 😂

    Tangga dan atap kubah memberi kesan megah, indah dan sakral

    Interiornya benar-benar punya nuansa seperti sekolah sihir. Langit-langitnya tinggi dengan atap berbentuk kubah, sementara dinding dan pilarnya dihiasi berbagai ukiran batu dengan detail yang rumit.

    Tangga dengan ornamen klasik, jendela kaca patri, serta rak-rak buku kayu berukuran besar semakin membuat suasananya terasa seperti berada di dalam film Harry Potter.

    Area ruang bacanya juga sangat luas dengan desain interior yang menurutku lebih mirip sebuah Cathedral daripada perpustakaan biasa.

    Area ruang baca, terlalu cantik untuk disebut perpustakaan

    Di beberapa sudut terdapat patung-patung yang ikut menghiasi ruangan, salah satunya adalah patung Beethoven.

    Patung John Rylands di sudut ruang baca John Rylands Library

    Buat yang membawa anak-anak, jangan khawatir mereka akan cepat bosan. Arga sendiri sama sekali nggak terlihat bosan selama berada di sini. Dia malah sibuk melihat-lihat berbagai macam benda di sekitarnya, mencoba duduk di beberapa bangku yang ada di area duduk, dan tentu saja sibuk bertanya,

    Namanya juga anak-anak, rasa penasarannya memang nggak ada habisnya. Tapi justru menurutku itu yang membuat kunjungan ke tempat seperti ini menarik. Anak bisa melihat bangunan dan benda-benda bersejarah secara langsung, sambil belajar dari rasa ingin tahunya sendiri.

    Meskipun kami datang bersama anak, kami tetap bisa menikmati keindahan perpustakaan ini dengan santai.

    Mesin cetak jaman dulu yang dipajang di salah satu sudut perpustakaan

    Menyimpan Naskah yang Sangat Langka

    Selain memiliki bangunan yang luar biasa indah, John Rylands Library juga menyimpan koleksi naskah dan buku-buku bersejarah yang sangat berharga.

    Salah satu koleksi yang terkenal adalah St John Fragment, yaitu potongan naskah yang dianggap sebagai salah satu fragmen Perjanjian Baru tertua yang masih ada.

    Buatku, bagian ini membuat kunjungan ke John Rylands terasa lebih dari sekadar melihat bangunan cantik. Di balik interiornya yang terlihat seperti Hogwarts, ternyata perpustakaan ini juga menyimpan sejarah yang sangat panjang.

    Jangan Lupa Mampir ke Souvenir Shop

    Sebelum keluar kami juga sempat mampir ke souvenir shop. Ada banyak barang unik yang menarik untuk dibeli, mulai dari postcard, pin, sampai berbagai merchandise bertema John Rylands Library.

    Dan ternyata pilihan souvenir kali ini sepenuhnya ditentukan oleh Arga😂 Dia memilih sebuah pin berbentuk gedung John Rylands Library dan postcard unik dari The Manchester Odyssey.

    Souvenir pilihan Arga

    Postcard-nya menurutku lucu banget karena dibuat menyerupai potongan naskah kuno lengkap dengan bagian-bagian yang terlihat seperti sobekan. Di bagian belakangnya juga ada penjelasan mengenai The Manchester Odyssey.

    Sedangkan pin berbentuk gedung John Rylands langsung dipilih Arga karena katanya “ini yang paling bagus.” 😆
    Kecil memang, tapi justru souvenir seperti ini yang nanti akan mengingatkan kami pada perjalanan ke Manchester dan kunjungan pertama kami ke perpustakaan yang berasa seperti Hogwarts ini. ❤️


    John Rylands Library menurutku adalah salah satu tempat yang wajib masuk itinerary kalau sedang jalan-jalan ke Manchester, bahkan kalau kamu bukan seorang book lover.

    Bangunannya saja sudah cukup menjadi alasan untuk datang. Arsitektur neo-Gothic yang megah, ruang baca yang terasa seperti berada di dalam cathedral, dan koleksi sejarahnya membuat tempat ini punya pengalaman yang berbeda dari destinasi wisata lainnya.

    Dan buat penggemar Harry Potter, bonusnya adalah bisa merasakan sedikit sensasi “jalan-jalan ke Hogwarts.”

    Kalau sedang berada di Manchester, jangan cuma lewat Deansgate. Sempatkan masuk ke sini dan lihat sendiri betapa cantiknya John Rylands Library ❤️

  • Liburan di sebuah kota di UK rasanya belum lengkap kalau belum mengunjungi taman. Apalagi kalau liburan bersama anak, taman hampir selalu masuk dalam list destinasi yang akan kami kunjungi.

    Selain bisa menjadi tempat anak bermain dan menghabiskan energi, taman juga biasanya menjadi pilihan yang menyenangkan untuk menikmati suasana kota tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

    Selama berlibur di Manchester, kami mengunjungi dua taman yang punya karakter cukup berbeda, yaitu Mayfield Park dan Heaton Park.

    1. Mayfield Park

    Sampai di Mayfield Park disambut langit cerah, padahal sebelumnya sempat turun hujan

    Mayfield Park terletak tidak terlalu jauh dari pusat kota Manchester. Dari Manchester Piccadilly Station, taman ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 menit.

    Aku memilih taman ini setelah melihat-lihat hasil pencarian Google. Dari foto-fotonya, playground-nya terlihat menarik dan sepertinya cocok untuk Arga.

    Dan ternyata benar!

    Beberapa permainan di playground yang bikin Arga super happy

    Playground di Mayfield Park memang seru banget. Areanya cukup luas dengan banyak pilihan permainan, mulai dari jungkat-jungkit, ayunan, trampoline, berbagai macam perosotan, dan masih banyak lagi.

    Tapi ada satu permainan yang menjadi highlight kami di sini.

    Untuk mencoba perosotan ini, kita harus terlebih dahulu menyeberangi sungai melalui jembatan tali. Setelah sampai di seberang, perosotannya akan meluncur melewati sungai.

    Perosotan lintas sungai yang wajib dicoba kalo main ke sini

    Awalnya Arga takut mencoba. Tapi begitu berhasil turun sekali, malah ketagihan dan ingin mencoba lagi 😂

    Selain bermain di playground, kami juga sempat berjalan-jalan ke area lain di taman, termasuk turun sampai ke pinggiran sungai.

    Arga dan ayahnya turun ke area pinggiran sungai

    Oh ya, Mayfield Park juga memiliki fasilitas toilet umum dan café kecil yang lokasinya dekat dengan playground. Jadi kalau datang bersama anak, kita bisa cukup nyaman menghabiskan waktu beberapa jam di sini.

    Menurutku, Mayfield Park cocok banget untuk keluarga yang ingin mencari taman dengan playground seru tapi lokasinya masih cukup dekat dengan city centre.

    2. Heaton Park

    Kalau Heaton Park, lokasinya cukup jauh dari city centre. Kalau ditempuh menggunakan tram, perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit.

    Katanya, Heaton Park merupakan taman terbesar di Manchester. Dan setelah kami datang langsung, ternyata memang besar banget!

    Peta Heaton Park, beneran seluas itu dan banyak banget yang bisa dieksplor

    Dari pintu masuk, Arga sudah langsung merengek minta pergi ke playground. Jadi kami pun langsung mengikuti petunjuk arah menuju North Playground.

    Sudah cukup jauh kaki melangkah, tapi playground-nya tak kunjung terlihat.

    Yang ada malah… kawanan highland cows 😂

    Sapi-sapi lagi pada santai

    Berkali-kali Arga bertanya,

    “Mana sih, Ma, playground-nya?”

    Dan aku terus menjawab,

    “Itu mungkin di depan.”

    Tapi ternyata… masih belum sampai juga 🤣

    Kami malah melewati Animal Centre terlebih dahulu. Karena sudah sampai di sana, akhirnya kami sekalian masuk dan melihat-lihat hewan yang ada.

    Ada ayam, keledai, domba, alpaca, burung merak, bebek, kambing, dan babi.

    Pas baca fun fact reflek langsung bilang ke Arga “Bebeknya sama kaya kita dari Indonesia juga”

    Setelah puas melihat hewan, kami kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari playground.

    Sempat salah arah dan mengikuti petunjuk yang ternyata malah membuat kami semakin jauh, akhirnya kami berhasil sampai juga di North Playground. Yeay! 😂

    Walaupun permainannya tak sebanyak di Mayfield Park tapi cukup seru juga untuk dicoba

    Playground-nya sangat luas, walaupun menurutku pilihan permainannya tidak sebanyak Mayfield Park.

    Sayangnya, cuaca Manchester lagi-lagi kurang bersahabat. Hujan membuat beberapa permainan menjadi basah sehingga Arga tidak bisa mencoba semuanya.

    Belum puas bermain, hujan malah semakin deras.

    Akhirnya kami terpaksa menyudahi sesi bermain dan mencari tempat berteduh di café. Kami pun menikmati coklat hangat sambil menunggu hujan reda.

    Pas banget untuk menghangatkan badan setelah jalan kaki jauh dan kehujanan. ☕️🌧️

    Mayfield Park atau Heaton Park?

    Kalau hanya punya waktu singkat dan ingin taman yang mudah dijangkau dari city centre, menurutku Mayfield Park lebih praktis. Lokasinya dekat, playground-nya seru, dan fasilitasnya juga cukup lengkap.

    Sementara itu, Heaton Park cocok untuk yang punya lebih banyak waktu dan ingin mengeksplor taman yang jauh lebih luas. Selain ada dua playground, ada banyak area lain yang bisa dikunjungi, seperti Animal Centre, danau, dan jalur trail.

    Jadi kalau datang bersama anak, jangan hanya mengalokasikan waktu satu atau dua jam untuk Heaton Park. Taman ini benar-benar luas dan cukup banyak yang bisa dieksplor.

    Dan satu lagi: jangan lupa cek cuaca sebelum berangkat! 😂

  • Manchester, kota terbesar ketiga di UK, menjadi pilihan kami untuk mengisi sisa summer holiday kali ini. Jarak dari Sheffield ke Manchester hanya sekitar 60-an km dan bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 50 menit menggunakan kereta.

    Kami memutuskan untuk menghabiskan 3 hari 2 malam di Manchester supaya bisa lebih santai mengeksplor kota ini. Lagi-lagi, kami memilih menginap di Travelodge yang masih sesuai dengan budget kami.

    Day 1

    Legoland Discovery Centre

    Highlight utama liburan kali ini tentu saja adalah Legoland Discovery Centre. Kebetulan Arga memang sedang suka banget dengan Lego, jadi kami ingin mengajaknya mencoba pengalaman bermain di sini.

    Mini Manchester yang semuanya terbuat dari lego ini bisa ditemui di Legoland Discovery Centre

    Legoland Discovery Centre berlokasi di dalam Trafford Palazzo, sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Trafford. Tapi perlu dicatat, Legoland di sini berbeda dengan Legoland Malaysia yang konsepnya merupakan taman hiburan besar dengan banyak wahana outdoor. Jadi, jangan berharap akan menemukan banyak sekali wahana seperti di theme park yaa.

    Walaupun begitu, Arga tetap super happy! Bahkan sebelum pulang dia sudah minta untuk datang ke sini lagi. 😂

    Trafford Centre

    Mumpung sudah berada di kawasan Trafford yang cukup jauh dari city centre, kami sekalian jalan-jalan di Trafford Centre.

    Trafford Centre merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Manchester. Desain interiornya cukup klasik dan menurutku malah memberikan kesan agak jadul.

    Yang menyenangkan, pilihan makanan halalnya juga cukup banyak, jadi kami nggak perlu bingung mencari makanan setelah puas jalan-jalan.

    Day 2

    Manchester Cathedral & National Football Museum

    Pagi hari setelah sarapan di hotel, kami langsung jalan-jalan sekaligus foto-foto di sekitar Manchester Cathedral. Kebetulan lokasinya sangat dekat dengan hotel kami.

    Manchester Cathedral dengan background langit biru cerah

    Setelah itu kami berjalan menuju National Football Museum. Karena keluarga kami bukan pecinta sepak bola, kami memutuskan untuk tidak masuk ke dalam museum. Kami hanya foto-foto dan bermain di area luarnya.

    Ternyata area di sekitar museum cukup menyenangkan untuk anak karena ada mini playground dan taman dengan kolam. Jadi walaupun tidak masuk museum, Arga tetap bisa menikmati waktunya di sini.

    Cuma main di halaman National Football Museum ternyata udah cukup bikin Arga happy

    John Rylands Library

    Perjalanan berikutnya adalah mengunjungi John Rylands Library.

    Memasuki area reading room di John Rylands Library, cantik dan megah

    Perpustakaan ini terkenal dengan arsitektur neo-Gothic-nya yang megah dan koleksi naskah kuno yang sangat langka. Dari luar saja bangunannya sudah cantik, tapi begitu masuk ke dalam, suasananya benar-benar bikin terpukau.

    Vibes-nya seperti masuk ke Hogwarts! 😍

    Buat kami, tempat ini menjadi salah satu spot yang paling memorable selama jalan-jalan di Manchester.

    Cerita lengkapnya ada di

    John Rylands Library: Perpustakaan di Manchester yang Berasa Masuk Hogwarts

    Science and Industry Museum

    Selanjutnya kami mengunjungi Science and Industry Museum.

    Arga lagi nyoba mengangkat mobil dengan katrol, kuat nggak ya?

    Kalau dibandingkan dengan Science Museum di London, museum yang ada di Manchester ini memang jauh lebih kecil. Tapi justru menurutku ukurannya pas untuk mengajak anak seusia Arga bereksplorasi tanpa membuatnya terlalu cepat capek.

    Museum ini juga gratis dan menawarkan berbagai macam eksperimen sains yang bisa dicoba langsung oleh anak-anak. Jadi mereka bisa belajar banyak hal, tapi rasanya seperti sedang bermain.

    Arga pun betah mencoba berbagai aktivitas yang ada di sana.

    Mayfield Park

    Sore harinya, kami memutuskan untuk menghabiskan sisa energi Arga di Mayfield Park.

    Taman ini berlokasi cukup dekat dengan Manchester Piccadilly Station dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 menit.

    Playground Mayfield Park, banyak slides yang seru-seru bikin Arga susah diajak pulang

    Area playground-nya luas dengan banyak permainan seru. Tapi yang paling bikin Arga ketagihan adalah perosotan yang melintas di atas sungai.

    Wajib dicoba kalau ke sini! 😆

    Cerita lebih detail waktu kami ke Mayfield Park bisa disimak di sini yaa

    Mayfield Park & Heaton Park: 2 Taman Seru untuk Anak di Manchester

    Day 3

    Heaton Park

    Hari terakhir di Manchester kami awali dengan mengunjungi Heaton Park, taman terbesar di Manchester. Saking luasnya, kami sampai kecapekan jalan, tapi masih belum sampai juga ke playground. 😂

    Selain playground, di Heaton Park juga ada mini zoo. Arga langsung excited melihat berbagai macam hewan seperti alpaca, burung merak, babi, kambing, dan masih banyak lagi.

    North Playground di Heaton Park

    Sayangnya, begitu kami sampai di playground, cuaca malah tidak bersahabat. Hujan langsung turun dengan derasnya. Alhasil, Arga yang sebenarnya masih belum puas bermain terpaksa kami tarik ke café dulu untuk berteduh. 😅

    Cerita lengkap jalan-jalan di Heaton Park ada di https://mamaarga.com/2026/08/28/mayfield-park-heaton-park-2-taman-seru-untuk-anak-di-manchester/

    Old Trafford

    Biar sah ke Manchester harus foto di depan stadion Old Trafford

    Rasanya tak lengkap berlibur ke Manchester tanpa mengunjungi kandang Manchester United. Jadi, perjalanan kami selanjutnya adalah mampir ke Old Trafford Stadium.

    Kami tidak masuk untuk mengikuti stadium tour dan hanya mengunjungi merchandise store. Pulang-pulang, Arga sudah membawa teman baru, Fred the Red, untuk menemani boneka capybara kesayangannya. 😂

    Capybara-nya Arga sekarang udah punya teman, Fred The Red

    The Quays

    Jembatan cantik untuk menyeberang ke The Quays

    Dari Old Trafford, kami berjalan-jalan sebentar di The Quays, kawasan di pinggir kanal yang cukup cantik dan menjadi salah satu area Manchester River Cruise.


    IWM North

    Salah satu ruang galeri di IWM North Museum

    Liburan kami di Manchester akhirnya ditutup dengan mengunjungi IWM North.

    Museum perang dunia ini masih berada di sekitar kawasan Old Trafford. Menurutku, museum ini termasuk salah satu tempat yang wajib dikunjungi kalau sedang berada di Manchester.

    Bangunannya keren, koleksinya menarik, gratis pula!

    Yang paling menyenangkan untuk keluarga dengan anak, ada banyak aktivitas interaktif yang membuat museum ini tidak terasa membosankan. Arga bahkan sempat menjalankan misi sebagai little secret agent di dalam museum. 🕵️‍♂️


    Tiga hari dua malam ternyata cukup untuk membuat kami jatuh cinta dengan Manchester. Kota ini punya kombinasi yang pas untuk liburan keluarga: ada museum gratis, taman yang luas, tempat bermain anak, bangunan bersejarah, sampai tentu saja jejak sepak bola yang begitu kuat.

    Dan yang paling menyenangkan, sebagian besar tempat yang kami kunjungi juga bisa dinikmati tanpa harus mengeluarkan budget besar.

    Kalau dibandingkan dengan beberapa kota lain yang sudah kami kunjungi di UK, Manchester mungkin bukan kota yang langsung membuat kami “wow” dari awal. Tapi setelah tiga hari berkeliling, kami justru menemukan banyak tempat menarik yang membuat perjalanan ini terasa lengkap dan menyenangkan.

    Apalagi melihat Arga yang happy hampir di setiap tempat yang kami datangi, rasanya 3 hari 2 malam di Manchester masih kurang. Kayaknya harus balik lagi suatu hari nanti! ❤️

    Kalau kamu cari rekomendasi halal food di Manchester bisa mampir ke sini yaa https://mamaarga.com/2026/08/27/kuliner-halal-di-manchester-5-restoran-yang-kami-coba-selama-liburan/

  • Sebagai salah satu kota besar di UK, awalnya aku kira akan cukup sulit mencari makanan halal di Manchester. Ternyata aku salah.

    Sekarang sudah cukup banyak restoran yang menyajikan menu halal, mulai dari makanan Asia, Mediterania, sampai makanan Indonesia dan Malaysia. Jadi meskipun liburan beberapa hari, kami sama sekali nggak bosan mencari makanan karena pilihannya cukup banyak.

    Berikut beberapa restoran yang kami coba langsung selama liburan kemarin.

    1. Tampopo

    Nggak nyangka, di tengah Manchester malah ketemu Jakarta dan Bali. Kangen Indonesia langsung terobati sedikit ❤️

    Kami mencoba Tampopo saat lunch di Trafford Centre. Restoran ini tidak fully halal, tetapi mereka menyediakan menu khusus halal yang bisa diakses dengan scan barcode pada buku menu utama.

    Tampopo menyajikan menu khas dari berbagai negara Asia, seperti Thailand, Vietnam, Jepang, Korea, termasuk Indonesia.

    Kami memesan Singapore Laksa (£16.80), Indonesia Grilled Chicken (£17.50), dan Spring Roll (£8.90).

    Ayam bakarnya benar-benar punya rasa Indonesia dengan bumbu rempah yang cukup meresap. Buatku, rasanya lumayan jadi obat kangen makanan Indonesia. 😆

    Selain di Trafford Centre, Tampopo juga memiliki cabang di Albert Square dan Corn Exchange.

    2. Tru Street

    Masih di Trafford Centre, kami mencoba pilihan restoran halal lainnya, yaitu Tru Street. Kalau restoran yang satu ini sudah fully halal.

    Kami memesan Parisian Steak & Fries (£16.99) dan kids menu (£8.99) yang terdiri dari spring roll, fried chicken fillet & fries, serta minuman.

    Parisian Steak and Fries, ini bukan porsi utuh yaa karena udah keburu dicomot dagingnya

    Rasanya enak, dagingnya empuk, dan porsinya juga cukup besar. Buat kami, ini termasuk salah satu pilihan yang cukup aman kalau sedang mencari makanan halal di Trafford Centre.

    3. Jood Restaurant

    Kali ini kami mencoba restoran khas Mediterania yang berada tidak jauh dari city centre.

    Karena waktu itu hanya berdua dengan Arga, aku memilih satu menu utama dan side dish berupa kentang goreng.

    Menu andalan di restoran ini adalah berbagai macam grill dan platter. Tapi aku justru memilih Teriyaki Bowl karena rasanya cukup familiar untuk lidah Arga.

    Porsinya cukup besar dan sudah lengkap dengan basmati rice, fried egg, dan salad.

    Menurutku, chicken teriyakinya sedikit terlalu manis, tapi Arga approved. 😂Bahkan dia sampai menyuruh boneka capybara kesayangannya untuk ikut mencoba. “You have to try, this is so delicious!” katanya.

    Untuk 2 menu makanan tersebut ditambah mineral water kami membayar £16.9. Harga yang sangat terjangkau, apalagi porsi dan rasanya approved.

    4. Kaya Restaurant

    Setiap liburan ke luar kota, restoran Indonesia atau Malaysia hampir selalu masuk dalam daftar pencarian kami. Maklum, kadang kangen juga sama makanan Asia Tenggara. 😆

    Di Manchester, kami menemukan Kaya Restaurant yang berlokasi di area Chinatown.

    Begitu masuk, kami langsung disambut lagu Kasih Putih dari Glenn Fredly yang sedang diputar.

    Arga sontak langsung bertanya, “Kok di sini bisa ada lagu Indonesia, Ma?”

    Lucu banget rasanya mendengar pertanyaan itu di tengah Chinatown Manchester. 😂

    Kami memesan dua porsi Nasi Lemak dan Es Cendol.

    Satu porsi Nasi Lemak dibanderol sekitar £13–16, tergantung pilihan lauknya, mulai dari ayam goreng, ayam gulai, sampai rendang.

    Buat kami, menemukan makanan Indonesia atau Malaysia di kota lain selalu memberikan rasa nyaman tersendiri. Apalagi kalau tiba-tiba dengar lagu Indonesia juga. Auto berasa pulang sebentar ❤️

    5. Plus84 Vietnamese Street Eat

    Saat berjalan-jalan di area The Quays, kami juga sempat makan siang di sebuah food court bernama Kargo MKT.

    Di sana ada beberapa pilihan tenant halal, tapi kami akhirnya memilih Plus84 Vietnamese Street Eat.

    Menemukan Vietnamese food halal di tengah Manchester rasanya happy banget

    Aku dan Ayah Arga memesan Pho Xao dengan grilled beef (£13.95), sedangkan Arga memilih Rice Bowl with Crispy Tofu (£11.50).

    Kami memilih tempat duduk di area outdoor sehingga bisa menikmati makanan sambil melihat pemandangan di pinggir sungai.

    Menurutku, ini salah satu pengalaman makan yang menyenangkan selama di Manchester. Bukan hanya soal makanannya, tapi juga suasananya yang membuat kami bisa sekalian menikmati area The Quays.

    Restoran Halal Lain yang Menarik Dicoba

    Selain restoran-restoran yang kami coba di atas, ada beberapa restoran halal lain yang sempat kami temui selama jalan-jalan di Manchester.

    Ada Nichi, restoran Jepang di Trafford Centre, yang sepertinya cukup menarik untuk dicoba. Ada juga Kungfu Noodle di area Chinatown yang menyediakan pilihan menu halal.

    Nichi tepat berseberangan dengan Tru Street di area Eastern Garden Trafford Centre

    Selain itu, kami juga beberapa kali melewati restoran halal lainnya di sepanjang jalan di area city centre.

    Jadi, kalau kamu Muslim dan sedang merencanakan liburan ke Manchester, menurutku nggak perlu terlalu khawatir soal makanan.

    Sebelum datang ke Manchester, aku justru sempat berpikir bakal cukup sulit mencari makanan halal karena kota ini jauh lebih besar dibanding Sheffield. Ternyata setelah datang langsung, pilihannya justru cukup banyak.

    Jadi buat kamu yang sedang merencanakan liburan ke Manchester dan mencari makanan halal, semoga daftar ini bisa membantu. Dan kalau punya rekomendasi restoran halal lainnya di Manchester, boleh banget share di kolom komentar. Siapa tahu bisa kami coba kalau nanti balik lagi ke Manchester! ❤️

    Mulai dari restoran Asia, steak, makanan Mediterania, Vietnamese food, sampai makanan Indonesia dan Malaysia, semuanya bisa ditemukan di berbagai area kota.

    Dari lima tempat yang kami coba, semuanya punya pengalaman yang berbeda. Ada yang kami pilih karena lokasinya dekat dengan tempat wisata, ada yang karena Arga suka makanannya, dan tentu saja ada yang kami datangi karena kangen makanan Indonesia. 😂

  • Salah satu destinasi yang paling ingin kami kunjungi saat berada di Leeds adalah Royal Armouries Museum. Museum ini merupakan salah satu museum senjata dan baju zirah terbesar dan paling penting di dunia, dengan koleksi yang berasal dari berbagai periode dan belahan dunia.

    Royal Armouries Museum berada di sebuah gedung modern lima lantai dengan luas hampir 7.000 m². Lokasinya berada di kawasan Leeds Dock, sekitar 20 menit berjalan kaki dari area city centre.

    Begitu sampai di area museum, Arga sudah langsung excited karena melihat beberapa koleksi meriam yang dipajang di luar gedung.

    Sayangnya, kami masih harus menunggu sebentar karena tiba sebelum museum dibuka. Tepat pukul 10.00, pintu museum akhirnya dibuka dan kami pun langsung masuk.

    Oh ya, Royal Armouries Museum tidak memungut biaya tiket masuk. Namun, pengunjung disarankan melakukan booking terlebih dahulu, terutama jika datang saat weekend atau musim liburan.

    Hall of Steel yang langsung bikin kami takjub

    Di lantai dasar, kami langsung dibuat terperangah saat memasuki Hall of Steel. Ini adalah sebuah atrium kaca setinggi tujuh lantai yang dipenuhi ribuan koleksi senjata dan baju zirah, mulai dari lantai hingga hampir menyentuh langit-langit.

    Pemandangannya benar-benar impressive.

    Karena koleksinya sangat banyak, kami memutuskan naik lift terlebih dahulu ke lantai paling atas dan memulai perjalanan dari sana, lalu turun secara bertahap melewati berbagai galeri.

    Oriental & Asia and Africa Gallery

    Galeri ini berisi berbagai koleksi senjata, zirah, dan artefak militer dari berbagai wilayah non-Eropa. Ada koleksi zirah gajah, senjata tradisional, hingga perlengkapan militer dari berbagai negara. Ada juga koleksi samurai dari Jepang.

    Tapi yang paling membuatku senang tentu saja ketika menemukan keris dari Indonesia di antara koleksi yang dipamerkan. Rasanya selalu menyenangkan menemukan sesuatu yang familiar dari Indonesia di museum yang berada jauh dari rumah.

    Di lantai yang sama juga terdapat pameran khusus. Saat kami berkunjung, pameran yang sedang berlangsung adalah Genghis Khan. Pameran ini masih bisa dinikmati hingga 1 November 2026.

    War Gallery

    Selanjutnya kami masuk ke War Gallery yang menampilkan berbagai koleksi senjata api dan perlengkapan militer dari berbagai periode, mulai dari era pertengahan hingga zaman modern.

    Koleksinya cukup beragam dan memperlihatkan bagaimana teknologi persenjataan berkembang dari waktu ke waktu.

    Self-Defence Gallery

    Berbeda dengan War Gallery, Self-Defence Gallery lebih banyak membahas senjata dan perlengkapan yang digunakan untuk pertahanan diri. Di sini terdapat berbagai senjata sipil, alat perlindungan diri, serta koleksi pedang dan belati bersejarah.


    Tournament Gallery

    Galeri yang satu ini menurutku termasuk yang paling menarik secara visual. Tournament Gallery menampilkan berbagai koleksi zirah yang digunakan dalam turnamen, termasuk perlengkapan berkuda dan zirah milik Raja Henry VIII.

    Melihat zirah lengkap yang ukurannya cukup besar membuat kita bisa membayangkan seperti apa pertandingan dan kehidupan para ksatria pada masa tersebut.


    Selain melihat koleksi, di jam-jam tertentu pengunjung juga bisa menyaksikan berbagai pertunjukan dan fight demonstration yang diadakan di beberapa galeri. Sayangnya, kami tidak sempat menyaksikan semuanya karena jadwal pertunjukan tidak selalu bertepatan dengan waktu kunjungan kami. Kalau ingin melihat pertunjukannya, sebaiknya cek jadwal terlebih dahulu sebelum datang supaya bisa mengatur rute menjelajah museum.

    Pulang Membawa Pedang dan Topeng Zirah

    Setelah puas berkeliling, kami turun kembali ke lantai dasar. Sebelum keluar museum terdapat toko souvenir yang cukup besar dengan berbagai merchandise bertema ksatria dan persenjataan.

    Tentu saja Arga langsung punya permintaan. Dia memilih topeng zirah dan sebuah pedang. Katanya, supaya bisa seperti prajurit yang tadi dilihatnya di museum. 😆

    Akhirnya kami keluar museum dengan satu anak yang merasa dirinya sudah resmi menjadi seorang prajurit.

    Mencoba Leeds Water Taxi

    Setelah selesai mengunjungi Royal Armouries Museum, kami memutuskan tidak berjalan kaki kembali ke city centre. Kali ini kami mencoba pengalaman yang berbeda dengan naik water taxi.

    Water taxi ini menghubungkan Leeds Dock dengan Granary Wharf yang berada tak jauh dari Leeds Station. Perjalanan dari Leeds Dock menuju Granary Wharf hanya membutuhkan waktu sekitar 12 menit.

    Biasanya ada dua kapal yang beroperasi, tetapi saat kami datang hanya satu kapal yang beroperasi. Akibatnya kami harus menunggu sedikit lebih lama sebelum akhirnya bisa naik.

    Meskipun perjalanannya singkat, naik water taxi menjadi pengalaman yang menyenangkan karena kami bisa melihat kawasan Leeds dari sisi yang berbeda.

    Apakah Royal Armouries Museum Worth It?

    Menurutku, sangat worth it, terutama kalau berkunjung bersama anak yang tertarik dengan sejarah, senjata, ksatria, atau hal-hal berbau petualangan.

    Arga sendiri terlihat sangat menikmati kunjungan ini. Mulai dari melihat meriam di luar museum, menemukan samurai Jepang dan keris Indonesia, sampai akhirnya pulang membawa pedang dan topeng zirah.

    Yang paling menarik, museum ini gratis, koleksinya sangat banyak, dan bangunannya sendiri sudah menjadi pengalaman tersendiri.

    Kalau punya waktu cukup saat berkunjung ke Leeds, Royal Armouries Museum menurutku termasuk destinasi yang sayang untuk dilewatkan.

    Dan buat kami, museum ini bukan cuma tentang melihat senjata dan baju zirah. Ada momen kecil ketika kami menemukan keris Indonesia yang membuat perjalanan ini terasa sedikit lebih spesial ❤️

  • Tidak terasa sudah hampir satu tahun kami tinggal di Sheffield. Rasanya baru kemarin kami sibuk mencari rumah pertama, dan sekarang sudah waktunya bagi kami untuk mencari rumah yang baru.

    Awalnya aku pikir mencari rumah kedua akan jauh lebih mudah.

    Kami sudah mengenal Sheffield. Kami sudah tahu area mana yang menurut kami ideal, sudah tahu lokasi mana yang ingin dihindari, dan yang paling penting, kali ini kami bisa melakukan viewing rumah secara langsung.

    Berbeda dengan saat mencari rumah pertama. Waktu itu kami hanya bermodalkan rekomendasi dari teman-teman Indonesia yang sudah lebih dulu tinggal di sini tentang lokasi mana yang paling oke. Viewing rumah pun dibantu oleh teman kami, sementara kami hanya bisa melihatnya melalui videocall.

    Ternyata, mencari rumah kedua justru lebih sulit dari yang kubayangkan.

    Bukan karena kami tidak tahu mau tinggal di mana, tetapi karena sekarang kami punya rumah pertama sebagai pembanding.

    Rumah pertama kami bisa dibilang berada di lokasi premium. Letaknya sangat dekat dengan area city centre, hanya saja memang agak jauh dari sekolah Arga. Rumahnya juga terbilang sangat nyaman. Living room-nya cukup luas dan area dapurnya terpisah.

    Kebanyakan rumah di sini memiliki dapur yang menyatu dengan dining room dan ruang tamu. Jadi, memiliki ruang dapur yang terpisah menurutku adalah salah satu privilege tersendiri.

    Lantas, kenapa kami ingin pindah?

    Alasan utamanya adalah karena rumah kami sekarang berada di flat lantai 4 tanpa lift.

    Empat lantai tanpa lift yang awalnya terasa seperti tantangan, tapi lama-lama justru menjadi bagian dari keseharian kami di Sheffield. Tangganya terlihat estetik tapi kalau dijalani ya cukup melelahkan juga 😅

    Sebetulnya kami sudah terbiasa. Naik turun tangga setiap hari juga bukan masalah besar. Hanya saja, kalau habis belanja, baru terasa beratnya naik sampai lantai 4.

    Apalagi kalau belanjaannya lengkap: beras, telur, minyak, susu, dan berbagai kebutuhan lainnya.

    Rasanya baru setengah perjalanan sudah ingin menyerah dan berharap ada yang bisa membawakan belanjaan sampai atas 😅

    Tapi ternyata tinggal di lantai 4 juga punya sisi menyenangkan.

    Tinggal di lantai 4 memang melelahkan, tapi pemandangan dari ketinggian tidak pernah membosankan. Apalagi kalau langit Sheffield sedang cantik seperti ini. Salah satu hal yang diam-diam akan membuatku berat meninggalkan rumah ini.

    Pencahayaan dan sirkulasi udara di rumah kami sangat baik sepanjang hari. Dari pagi sampai sore, kami masih mendapatkan cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Membuka semua jendela juga membuat rumah terasa adem karena angin sepoi-sepoi bisa masuk dengan leluasa.

    Jadi, meskipun ada alasan yang membuat kami ingin pindah, semakin kami mencari rumah baru, semakin kami sadar bahwa rumah yang sekarang ternyata punya banyak kelebihan.

    Dan di situlah masalahnya.

    Ada rumah yang berada di lantai bawah, tetapi terasa gelap karena kurang mendapatkan cahaya matahari.

    Ada yang berada di lantai atas dengan fasilitas lift, tetapi bangunannya terasa cukup tua.

    Ada yang lokasinya dekat dengan sekolah Arga, tetapi menurutku areanya terlalu sepi dan cukup jauh berjalan kaki ke city center.

    Ada yang hanya berada di lantai 1, tetapi living room-nya sangat sempit.

    Ada juga rumah yang berupa satu rumah utuh, bukan flat, tetapi kamar Arga dan kamar kami berada di lantai yang berbeda.

    Pokoknya, selalu saja ada satu hal yang membuat kami merasa kurang cocok.

    Belum lagi kami bertiga punya sudut pandang yang berbeda.

    Ayahnya Arga suka, aku dan Arga tidak.

    Arga suka, aku dan ayahnya tidak.

    Aku suka, yang lain tidak.

    Begitu terus.

    Mungkin inilah salah satu perbedaan mencari rumah sekarang dibandingkan saat pertama kali datang ke Sheffield. Dulu, kami hanya punya satu tujuan: yang penting dapat rumah dan bisa segera tinggal.

    Sekarang, kami sudah tahu seperti apa rasanya tinggal di Sheffield. Kami sudah tahu rumah seperti apa yang membuat kami nyaman, lokasi seperti apa yang kami sukai, dan hal-hal kecil apa yang ternyata penting untuk kehidupan sehari-hari.

    Akhirnya, mencari rumah kedua bukan lagi sekadar mencari tempat untuk tinggal.

    Kami sedang mencari rumah yang bisa menggantikan kenyamanan rumah pertama—dan ternyata, itu tidak mudah.

    Bahkan setelah beberapa kali viewing, aku sendiri jadi mulai bertanya-tanya: apakah kami benar-benar harus pindah?

  • Destinasi pertama kami setibanya di Leeds adalah Roundhay Park. Roundhay Park merupakan salah satu taman terbesar di Leeds dan ternyata cukup mudah dijangkau dari city centre.


    Kami naik bus X99 dari Leeds city centre dan turun tepat di dekat gerbang masuk taman. Perjalanan memakan waktu sekitar 25–30 menit.


    Roundhay Park
    Kami tiba di Roundhay Park sekitar pukul 10.30. Suasana pagi itu cukup sepi. Hanya terlihat beberapa anak kecil yang bersepeda ditemani orangtuanya.

    Pemandangan danau yang luas di Roundhay Park

    Kami berjalan menyusuri pinggiran danau untuk menuju area playground. Danau di Roundhay Park sangat luas dan dihuni cukup banyak bebek yang terlihat asyik berenang. Di dekat danau juga terdapat sebuah cafe yang ternyata cukup ramai. Bahkan saat kami lewat, cafe tersebut sudah menerapkan waiting list.

    Semakin mendekati cafe semakin banyak bebek yang kami temui

    Setelah sampai di playground, Arga langsung bersemangat ingin mencoba semuanya. Playground-nya cukup luas dengan pilihan permainan yang beragam, mulai dari kursi putar, jungkat-jungkit, panjatan, hingga perosotan.

    Sayangnya, saat itu cuaca sedang sangat panas dan terik. Arga pun tidak betah berlama-lama bermain. Kami akhirnya memutuskan membeli gelato dari ice cream truck yang parkir tepat di depan gerbang playground. Lumayan, sedikit es krim untuk mengusir panas. 😆

    Sambil menikmati gelato, kami melanjutkan berjalan-jalan ke area lain di taman. Kami sempat mencoba berbagai peralatan gym outdoor yang tersedia dan duduk-duduk di sebuah gazebo sambil menikmati snack yang kami bawa.

    Nge-gym with a view tapi panasnya luar biasa, terasa seperti matahari dekat dari kepala

    Sebenarnya masih banyak area taman yang ingin kami jelajahi, terutama hamparan rerumputan luas yang terlihat sangat menyenangkan untuk piknik. Namun karena matahari sedang benar-benar terik, kami akhirnya menyerah. Daripada malah kepanasan, kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, yaitu Tropical World.

    Ada gazebo yang lumayan buat ngadem sebentar, lokasinya dekat pintu keluar

    Tropical World

    Tropical World terletak persis di seberang Roundhay Park sehingga sangat mudah dijangkau dengan berjalan kaki. Tempat ini bisa dibilang seperti mini zoo indoor dengan berbagai area yang dibuat menyerupai habitat hewan tertentu.

    Sebelum masuk, kami sempat menikmati area taman di bagian luar. Ada banyak bunga berwarna-warni yang membuat area ini terlihat cantik. Sayangnya, saat kami datang kolamnya sedang tidak berisi air sehingga air mancur yang ada di sana juga tidak beroperasi.

    Tiket masuk Tropical World saat kami berkunjung adalah £9 untuk dewasa dan £6 untuk anak-anak. Di area pembelian tiket juga tersedia toko souvenir, cafe, dan toilet.

    Setelah membeli tiket, aku dan Arga langsung masuk ke area hewan.

    Area pertama yang kami temui adalah butterfly house. Di sini kami bisa melihat banyak sekali kepompong serta beberapa kupu-kupu yang beterbangan di sekitar kami. Di area yang sama juga terdapat kolam ikan koi dan kura-kura serta kandang buaya yang dibuat terpisah.

    Arga sedang mengamati kepompong

    Dari sana kami melanjutkan perjalanan ke zona aquarium. Ada berbagai jenis ikan berukuran kecil, termasuk udang dan kepiting. Ada juga kolam yang berisi ikan-ikan berukuran cukup besar.

    Selain aquarium, Tropical World juga memiliki area reptile, aviary, serta area gurun. Salah satu hewan yang paling menarik perhatian Arga adalah meerkat yang terlihat sangat menggemaskan.

    Satu-satunya zona yang terasa adem karena ada gemericik air terjun buatan ke kolam ikan

    Sayangnya, kami tidak bisa berlama-lama di dalam Tropical World. Saat itu sedang terjadi heatwave sehingga beberapa area terasa cukup panas dan pengap. Padahal ada beberapa jadwal feeding time yang sebenarnya menarik untuk ditonton.

    Karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.30, kami memutuskan untuk kembali ke city centre dan mencari makan siang.

    Untuk perjalanan pulang, kami naik bus nomor 12 dan turun di area Corn Exchange. Dari sana kami melanjutkan perjalanan untuk mencari makan siang sekaligus menjelajahi Leeds city centre.

    Apakah Roundhay Park dan Tropical World Worth It?

    Menurutku, keduanya cukup worth it untuk dimasukkan ke itinerary kalau kamu berlibur ke Leeds bersama anak.

    Roundhay Park cocok untuk sekadar berjalan-jalan santai, bermain di playground, piknik, atau menikmati suasana outdoor. Karena areanya sangat luas, sebenarnya kamu bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sini kalau cuacanya mendukung.

    Sementara Tropical World menjadi pilihan yang menarik kalau anak suka melihat hewan. Ukurannya memang tidak terlalu besar, tetapi ada cukup banyak jenis hewan dan area yang bisa dijelajahi.

    Sayangnya, kami datang saat cuaca sedang sangat panas sehingga pengalaman kami di kedua tempat ini sedikit berbeda dari yang seharusnya. Kami jadi tidak bisa mengeksplorasi Roundhay Park terlalu jauh dan juga tidak betah terlalu lama berada di beberapa area Tropical World.

    Kalau berkunjung saat cuaca lebih sejuk, menurutku kombinasi Roundhay Park + Tropical World bisa menjadi salah satu pilihan aktivitas yang menyenangkan untuk mengawali perjalanan di Leeds bersama anak.

  • Leeds adalah salah satu kota besar yang terdekat dari Sheffield. Jaraknya hanya sekitar 60 km, bila ditempuh menggunakan kereta hanya memakan waktu 46 menit. Sebelumnya Ayahnya Arga sudah beberapa kali ke Leeds untuk urusan studinya. Namun kali ini karena bertepatan dengan liburan sekolah Arga jadi kami bisa ikut, sekalian liburan tipis-tipis.

    Day 1

    Roundhay Park

    Pemandangan cantik di danau Roundhay Park, bebek-bebek berenang sementara burung-burung berjajar rapi di tiang

    Dari stasiun, sementara Ayahnya Arga langsung ke Leeds University, aku dan Arga memilih untuk pergi ke Roundhay Park. Roundhay Park adalah salah satu taman terbesar di Leeds. Ada danau yang luas dengan banyak bebek, playground, dan gym area. Kami juga sempat menikmati gelato dari ice cream truck, pas untuk menyegarkan di tengah panas yang menyengat.

    Cerita lebih detail tentang Roundhay Park bisa disimak di sini https://mamaarga.com/2026/08/14/roundhay-park-dan-tropical-world-leeds-jalan-jalan-seru-bersama-anak/

    Tropical World

    Puas bermain di Roundhay Park, kami menyeberang ke Tropical World. Tropical World adalah kebun binatang indoor dan taman botani dengan iklim buatan. Areanya tidak terlalu luas, tapi koleksinya cukup banyak, dimulai dari rumah kupu-kupu, akuarium, hingga area gurun. Kami membayar £15 untuk 1 tiket dewasa dan 1 tiket anak.

    Cerita lebih detail tentang Tropical World bisa disimak di sini https://mamaarga.com/2026/08/14/roundhay-park-dan-tropical-world-leeds-jalan-jalan-seru-bersama-anak/

    Trinity Kitchen

    Kami kembali ke area city center untuk makan siang. Kami memutuskan untuk mencoba mencari pilihan halal di Trinity Kitchen yang merupakan food court di lantai paling atas Trinity Leeds, pusat perbelanjaan terbesar di kawasan city center. Kami memilih Masri Egyptian Street Food dengan menu nasi rempah khas Egypt bertopping ayam dan udang panggang. Untuk 2 porsi makanan tersebut kami menghabiskan £21.

    Leeds Central Library

    Bangunan Leeds Central Library yang menyatu dengan Leeds Art Gallery

    Sambil menunggu waktu check in hotel, kami memutuskan untuk ke Leeds Central Library yang masih berada di area city center. Kami langsung menuju area anak-anak dengan beberapa beanbag yang sangat nyaman. Arga langsung sibuk memilih buku-buku untuk dibaca.

    Travelodge Leeds Central

    Kami menginap di hotel Travelodge Leeds Central yang juga berada di sekitar city center, sangat dekat dengan stasiun kereta. Kami memilih tipe small family room dengan 1 King bed dan 1 single bed, pas banget buat kami bertiga. Kamar mandinya juga sudah ada bathub. Rate kamar yang kami bayar £73 per malam termasuk sarapan. Sore itu kami check in dan beristirahat dulu di hotel sambil menunggu waktu makan malam.

    Zan Asian Malaysian Kitchen

    Untuk dinner kami memilih resto Malaysia yang hanya 10 menit jalan kaki dari hotel. Aku memilih Nasi Lemak komplit untuk dimakan berdua dengan Arga, sementara Ayahnya Arga memilih Laksa. Kami juga memesan banana fritter with ice cream dan es milo. Totalnya kami menghabiskan £34 dan pulang dengan perut kekenyangan karena porsinya yang cukup besar.

    Victoria Leeds dan sekitarnya

    Toko sudah tutup semua, jadi kami cuma numpang foto-foto aja 😁

    Karena langit masih terang kami lanjut jalan-jalan dulu masih di area city center. Kami berfoto-foto di Victoria Leeds dan Corn Exchange yang memiliki interior sangat cantik.

    Day 2

    Royal Armouries Museum

    Aneka senjata yang tersusun rapi ini membuat takjub saat memulai perjalanan di Royal Armouries Museum

    Setelah menikmati sarapan di hotel, tujuan pertama kami hari itu adalah Royal Armouries Museum di dekat Leeds Dock. Jaraknya sekitar 20 menit berjalan kaki dari hotel. Museum gratis ini merupakan museum terbesar dan terbaik di Leeds, berisi koleksi senjata dan baju zirah. Arga sampai beli topeng dan pedang juga, biar kaya prajurit katanya.

    Cerita lengkap jalan-jalan di Royal Armouries Museum bisa dibaca di sini https://mamaarga.com/2026/08/23/royal-armouries-museum-leeds-koleksi-senjata-dan-zirah-yang-bikin-takjub/

    Leeds Water Taxi

    Perjalanan dari Leeds Dock menuju Granary Wharf. Arga katanya suka banget naik water taxi 🤗

    Untuk kembali ke pusat kota kami memilih untuk mencoba water taxi. Leeds water taxi adalah layanan transportasi perahu berwarna kuning dengan rute Leeds Dock-Granary Wharf (dekat Leeds Station) dan sebaliknya. Durasi perjalanan sekitar 12 menit dengan biaya £3.5 per orang.

    Wok to Walk

    Sebelum melanjutkan perjalanan kami makan siang di Wok to Walk yang berada tak jauh dari Trinity. Menu yang ditawarkan adalah makanan khas Asia seperti Donburi, Pad Thai, dan Yakisoba dengan harga £10-13 per porsi.

    Leeds City Museum

    Leeds City Museum, salah satu destinasi wajib kalo liburan ke Leeds

    Destinasi berikutnya adalah Leeds City Museum yang juga gratis. Museum ini berisi koleksi sejarah alam, peradaban kuno, dan sejarah Leeds. Di galeri ancient world bahkan ada mummy asli Nesyamun yang sudah berusia 3.000 tahun. Konon ini adalah satu-satunya mummy yang selamat dari pengeboman Perang Dunia II.

    Leeds Art Gallery

    Area art space yang sangat nyaman. Tak hanya bikin prakarya di sini anak-anak juga boleh bermain susun balok

    Kami juga mengunjungi Leeds Art Gallery yang lokasinya berada pada gedung yang sama dengan Leeds Central Library. Galeri ini juga tidak memungut biaya untuk tiket masuk. Yang paling jadi favoritnya Arga adalah area art space di mana anak-anak bisa mencoba membuat karyanya sendiri.

    Jolibee

    Sebelum menuju stasiun kami mampir Jolibee untuk mengisi perut lagi. Kalau biasanya aku cuma makan nasi dan ayam, kemaren aku coba sphagettinya. Ternyata enak banget dan cukup besar juga porsinya.

    Liburan singkat ke Leeds ini benar-benar menyenangkan. Meski hanya 2 hari 1 malam, kami bisa mengunjungi taman, museum, galeri seni, perpustakaan, hingga mencoba beberapa tempat makan halal yang enak. Hampir semua destinasi yang kami datangi juga ramah anak dan banyak yang gratis, sehingga cukup hemat untuk dijadikan pilihan short getaway bersama keluarga.

    Kalau ditanya apakah Leeds layak dikunjungi? Menurutku jawabannya iya. Kota ini tidak terlalu ramai, mudah dijelajahi dengan berjalan kaki, dan memiliki perpaduan ruang hijau, museum, serta bangunan bersejarah yang membuat perjalanan terasa santai namun tetap menarik.

    Kalau kamu sedang tinggal di Sheffield atau kota-kota lain di Yorkshire dan sedang mencari ide liburan singkat, Leeds bisa menjadi salah satu destinasi yang patut masuk dalam daftar.

    Semoga itinerary ini bisa membantu kamu yang sedang merencanakan perjalanan ke Leeds. Tapi perlu dicatat bahwa museum dan galeri di Leeds tutup setiap hari Senin yaa. Kalau ada tempat favorit lain di Leeds yang menurutmu wajib dikunjungi, boleh banget berbagi di kolom komentar ya!

  • Rasanya baru kemarin Arga memulai perjalanan sekolah pertamanya di Year 1. Ternyata sekarang kami sudah sampai di penghujung tahun ajaran. Hari-hari terakhir sekolah sebelum libur musim panas sekaligus kenaikan kelas terasa cukup mengharukan bagiku. Walaupun Arga tidak mengikuti satu tahun ajaran penuh, rasanya perkembangan belajarnya sudah sangat luar biasa.

    Menerima rapor Arga menjadi salah satu momen yang paling kutunggu. Tapi jangan dibayangkan ada acara pembagian rapor seperti di Indonesia. Di sini, rapor hanya dimasukkan ke dalam amplop tertutup, lalu dibawa pulang di dalam tas anak saat jam sekolah usai.

    Hari itu bukan hanya rapor yang dibawa pulang. Semua folder berisi worksheet yang dikerjakan selama Year 1 juga diberikan kepada orang tua. Dari situlah aku bisa melihat perjalanan belajar Arga sejak pertama kali masuk sekolah hingga sekarang, terutama perkembangan kemampuan menulisnya.

    Menulis sesuai bunyinya, itulah yang dilakukan Arga dalam proses belajarnya

    Aku masih ingat, sebelum masuk sekolah Arga belum bisa menulis kata selain namanya sendiri. Lalu, dari lembar demi lembar worksheet itu, aku melihat bagaimana tulisannya yang dulu masih berantakan, tanpa spasi, dan ukuran hurufnya belum konsisten, perlahan berubah menjadi jauh lebih rapi dan mudah dibaca. Rasanya seperti melihat perjalanan belajarnya dalam satu bundel kertas.

    Di balik setiap lembar worksheet ini tersimpan cerita tentang seorang anak yang sedang bertumbuh. Mungkin bagi orang lain ini hanya tumpukan kertas. Tapi bagiku, ini adalah kenangan dari satu tahun yang tak akan terulang lagi.

    Kalau di Indonesia rapor biasanya berbentuk buku, di sini rapor hanya terdiri dari tiga lembar kertas. Lembar pertama berisi nilai untuk setiap mata pelajaran, lembar kedua berisi komentar dari guru, sedangkan lembar terakhir disediakan untuk diisi komentar atau tanggapan dari orang tua.

    Sistem penilaiannya menggunakan skala 1–6. Nilai 1–3 menunjukkan kemampuan yang masih berada di bawah standar, nilai 4 berarti mendekati standar, nilai 5 sesuai standar yang diharapkan, dan nilai 6 menunjukkan pencapaian di atas standar. Selain nilai akademik, guru juga memberikan penilaian terhadap progress dan effort anak dengan kategori Good atau Excellent.

    Dan untuk Arga, seperti yang sudah kuduga, nilai tertingginya ada pada mata pelajaran Art, yaitu 6, dengan penilaian Excellent untuk progress maupun effort. Selain itu, ia juga memperoleh nilai 5 pada Mathematics dan Design & Technology, sementara mata pelajaran lainnya mendapat nilai 4.
    Bagiku, ini adalah hasil yang sangat membanggakan. Bukan semata-mata karena angkanya, tetapi karena Arga baru pertama kali bersekolah, harus beradaptasi dengan bahasa baru, lingkungan baru, dan sistem pendidikan yang sama sekali berbeda.

    Rapor memang hanya tiga lembar kertas. Tapi bagi orang tua, perjalanan yang sesungguhnya justru ada di tumpukan worksheet yang dibawa pulang. Dari sanalah aku melihat bagaimana seorang anak yang dulu hanya bisa menulis namanya sendiri, perlahan belajar menyusun huruf, kata, lalu kalimat. Mungkin perkembangannya terjadi sedikit demi sedikit setiap hari. Tapi saat melihat semuanya terkumpul dalam satu folder, barulah aku sadar bahwa ia sudah melangkah sangat jauh.

    Bangga? Tentu saja.
    Aku berharap perjalanan Arga di Year 2 nanti akan semakin menyenangkan. Semoga ia terus bertumbuh, terus belajar, dan tetap menikmati setiap prosesnya. Apa pun hasilnya nanti, kami akan selalu ada untuk mendukungnya.

    Sekarang saatnya menikmati summer holiday.

    See you in September, school! ☀️

  • Sekolah di UK ternyata punya banyak kegiatan sepanjang tahun. Hampir di setiap term selalu ada acara yang diselenggarakan. Mulai dari perayaan keagamaan seperti Eid Party dan Nativity saat Christmas, acara musiman seperti Winter Fayre dan Summer Sports Day, hingga peringatan seperti World Book Day dan perayaan 100 tahun kelahiran Sir David Attenborough, seorang ahli biologi ternama. Selain itu, setiap kelas juga biasanya memiliki beberapa field trip selama satu tahun ajaran.

    Yang membuatku senang, orang tua juga diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sekolah. Mulai dari diundang menonton penampilan anak, menghadiri Winter maupun Summer Fayre, hingga menjadi parent volunteer saat field trip. Selama Arga duduk di Year 1, aku sudah tiga kali menjadi parent volunteer.
    Mendampingi Trip ke Library

    Pengalaman pertamaku menjadi parent volunteer adalah saat mendampingi anak-anak Year 1 berkunjung ke library. Tujuan kegiatan ini adalah mengenalkan library sebagai tempat yang menyenangkan sekaligus menumbuhkan minat baca sejak dini.

    Saat itu hanya ada tiga guru yang mendampingi hampir 30 murid. Karena itulah beberapa orang tua diminta ikut membantu. Lokasi library tidak jauh dari sekolah, hanya sekitar 15 menit berjalan kaki.

    Ternyata mengatur hampir 30 anak di jalan umum bukanlah hal yang mudah, apalagi harus beberapa kali menyeberang jalan. Selalu ada saja anak yang usil, berbicara terlalu keras hingga instruksi guru tidak terdengar, atau tidak mau tetap berada di barisan.

    Lucunya, begitu sampai di library mereka langsung bisa duduk dengan rapi dan mendengarkan penjelasan dengan sangat tenang. Setelah itu, mereka diberi kesempatan memilih satu buku untuk dipinjam. Aku membantu anak-anak melakukan peminjaman mandiri menggunakan mesin self-service dengan bantuan staf library. Sebagai penutup, setiap anak mendapatkan stiker sebelum kembali berbaris menuju sekolah.

    Trip ini berlangsung saat Arga baru mulai bersekolah. Dari pengalaman itu aku jadi lebih mengenal teman-teman sekelasnya. Sejak saat itu mereka jadi sering mengajakku bercanda setiap bertemu di kelas, meskipun terkadang aku masih harus menebak-nebak apa yang mereka katakan karena logat bahasa Inggris mereka yang masih khas anak-anak.

    Membacakan Buku saat World Book Day
    Pengalaman berikutnya adalah saat peringatan World Book Day. Karena murid-murid di kelas Arga berasal dari berbagai negara, tema tahun itu adalah mengenalkan berbagai bahasa di dunia. Beberapa orang tua diundang untuk membacakan buku cerita dari negara asal masing-masing.

    Untungnya aku membawa beberapa buku cerita dari Indonesia. Aku memilih buku berjudul “Monster Semut” untuk kubacakan di kelas Arga. Ceritanya kubacakan dalam bahasa Indonesia, kemudian kusampaikan ringkasan singkatnya dalam bahasa Inggris sambil menunjukkan ilustrasi di setiap halaman agar anak-anak tetap bisa mengikuti jalan ceritanya.

    Meski hanya tampil di depan anak-anak berusia lima hingga enam tahun, ternyata rasa gugup dan deg-degan tetap ada. Syukurlah semuanya berjalan lancar. Teman-teman Arga terlihat antusias mendengarkan cerita dan bahkan mampu menjawab beberapa pertanyaan sederhana tentang isi buku. Saat ada pertanyaan dari anak-anak yang membuatku kebingungan, guru Arga juga dengan sigap membantu menjelaskannya.

    Selain aku, ada orang tua lain yang membacakan cerita dalam bahasa Malaysia dan bahasa Kurdistan. Aku bahkan sempat terkejut melihat buku dari Kurdistan yang menggunakan tulisan Arab tanpa harakat.

    Menurutku, kegiatan seperti ini sangat berkesan, bukan hanya untuk orang tua, tetapi juga untuk anak-anak. Mereka bisa mengenal bahasa dan budaya dari berbagai negara sekaligus belajar menghargai perbedaan sejak usia dini.

    Mendampingi Field Trip ke Cathedral

    Pengalaman terakhirku sebagai parent volunteer di Year 1 adalah saat mendampingi field trip ke Cathedral. Meskipun mayoritas murid di kelas Arga beragama Islam, pelajaran Religious Education tetap mengajak mereka mengunjungi Cathedral. Bukan semata-mata sebagai tempat ibadah umat Kristiani, tetapi juga sebagai salah satu bangunan bersejarah di Sheffield.

    Trip ini diikuti oleh 20 anak dengan tiga guru pendamping dan empat orang tua volunteer. Perjalanan menuju Cathedral ditempuh menggunakan tram karena halte berada tidak jauh dari sekolah dan berhenti tepat di depan Cathedral.
    Mengingat pengalaman saat berjalan kaki ke library, awalnya aku membayangkan akan sangat sulit membawa anak-anak naik transportasi umum. Namun ternyata mereka cukup kooperatif dan selalu mendengarkan arahan guru. Walaupun, tentu saja, tetap ada beberapa anak yang harus diawasi lebih ekstra.

    Sesampainya di Cathedral, mereka tampak sangat antusias mendengarkan penjelasan dari guide. Anak-anak juga begitu kritis dan tidak ragu mengajukan banyak pertanyaan.
    Setelah berkeliling, mereka mengikuti kegiatan arts and crafts. Nah, ini tentu menjadi bagian favorit Arga. Mereka membuat souvenir dari tanah liat yang dicetak berbentuk kerang, lalu menghiasnya sesuai kreativitas masing-masing.

    Bagiku sendiri, perjalanan ke Cathedral juga menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Seandainya tidak ikut sebagai parent volunteer, mungkin aku tidak akan pernah memiliki kesempatan menjelajahi seluruh bagian Cathedral sambil mendengarkan penjelasan lengkap dari pemandunya.

    Sayangnya, sekolah di UK sangat menjaga privasi anak-anak sehingga aku tidak bisa mengabadikan momen saat menjadi parent volunteer. Meski begitu, pengalaman ini memberiku kesempatan belajar banyak hal. Aku melihat langsung bagaimana guru menangani karakter setiap anak yang berbeda, sekaligus merasakan sendiri bahwa mendampingi puluhan anak dalam sebuah perjalanan ternyata membutuhkan kesabaran, kerja sama, dan perhatian yang luar biasa.

    Menjadi parent volunteer mungkin terlihat sederhana, tetapi bagiku ini adalah salah satu pengalaman paling berharga selama tinggal di UK. Bukan hanya karena bisa lebih dekat dengan kehidupan sekolah Arga, tetapi juga karena aku mendapat kesempatan belajar dari sistem pendidikan di sini sekaligus menciptakan kenangan yang akan selalu kami ingat.