Jendela Cerita Mama Arga

Di balik jendela, banyak cerita tumbuh dan bermakna

  • Rasanya baru kemarin Arga memulai perjalanan sekolah pertamanya di Year 1. Ternyata sekarang kami sudah sampai di penghujung tahun ajaran. Hari-hari terakhir sekolah sebelum libur musim panas sekaligus kenaikan kelas terasa cukup mengharukan bagiku. Walaupun Arga tidak mengikuti satu tahun ajaran penuh, rasanya perkembangan belajarnya sudah sangat luar biasa.

    Menerima rapor Arga menjadi salah satu momen yang paling kutunggu. Tapi jangan dibayangkan ada acara pembagian rapor seperti di Indonesia. Di sini, rapor hanya dimasukkan ke dalam amplop tertutup, lalu dibawa pulang di dalam tas anak saat jam sekolah usai.

    Hari itu bukan hanya rapor yang dibawa pulang. Semua folder berisi worksheet yang dikerjakan selama Year 1 juga diberikan kepada orang tua. Dari situlah aku bisa melihat perjalanan belajar Arga sejak pertama kali masuk sekolah hingga sekarang, terutama perkembangan kemampuan menulisnya.

    Menulis sesuai bunyinya, itulah yang dilakukan Arga dalam proses belajarnya

    Aku masih ingat, sebelum masuk sekolah Arga belum bisa menulis kata selain namanya sendiri. Lalu, dari lembar demi lembar worksheet itu, aku melihat bagaimana tulisannya yang dulu masih berantakan, tanpa spasi, dan ukuran hurufnya belum konsisten, perlahan berubah menjadi jauh lebih rapi dan mudah dibaca. Rasanya seperti melihat perjalanan belajarnya dalam satu bundel kertas.

    Di balik setiap lembar worksheet ini tersimpan cerita tentang seorang anak yang sedang bertumbuh. Mungkin bagi orang lain ini hanya tumpukan kertas. Tapi bagiku, ini adalah kenangan dari satu tahun yang tak akan terulang lagi.

    Kalau di Indonesia rapor biasanya berbentuk buku, di sini rapor hanya terdiri dari tiga lembar kertas. Lembar pertama berisi nilai untuk setiap mata pelajaran, lembar kedua berisi komentar dari guru, sedangkan lembar terakhir disediakan untuk diisi komentar atau tanggapan dari orang tua.

    Sistem penilaiannya menggunakan skala 1–6. Nilai 1–3 menunjukkan kemampuan yang masih berada di bawah standar, nilai 4 berarti mendekati standar, nilai 5 sesuai standar yang diharapkan, dan nilai 6 menunjukkan pencapaian di atas standar. Selain nilai akademik, guru juga memberikan penilaian terhadap progress dan effort anak dengan kategori Good atau Excellent.

    Dan untuk Arga, seperti yang sudah kuduga, nilai tertingginya ada pada mata pelajaran Art, yaitu 6, dengan penilaian Excellent untuk progress maupun effort. Selain itu, ia juga memperoleh nilai 5 pada Mathematics dan Design & Technology, sementara mata pelajaran lainnya mendapat nilai 4.
    Bagiku, ini adalah hasil yang sangat membanggakan. Bukan semata-mata karena angkanya, tetapi karena Arga baru pertama kali bersekolah, harus beradaptasi dengan bahasa baru, lingkungan baru, dan sistem pendidikan yang sama sekali berbeda.

    Rapor memang hanya tiga lembar kertas. Tapi bagi orang tua, perjalanan yang sesungguhnya justru ada di tumpukan worksheet yang dibawa pulang. Dari sanalah aku melihat bagaimana seorang anak yang dulu hanya bisa menulis namanya sendiri, perlahan belajar menyusun huruf, kata, lalu kalimat. Mungkin perkembangannya terjadi sedikit demi sedikit setiap hari. Tapi saat melihat semuanya terkumpul dalam satu folder, barulah aku sadar bahwa ia sudah melangkah sangat jauh.

    Bangga? Tentu saja.
    Aku berharap perjalanan Arga di Year 2 nanti akan semakin menyenangkan. Semoga ia terus bertumbuh, terus belajar, dan tetap menikmati setiap prosesnya. Apa pun hasilnya nanti, kami akan selalu ada untuk mendukungnya.

    Sekarang saatnya menikmati summer holiday.

    See you in September, school! ☀️

  • Sekolah di UK ternyata punya banyak kegiatan sepanjang tahun. Hampir di setiap term selalu ada acara yang diselenggarakan. Mulai dari perayaan keagamaan seperti Eid Party dan Nativity saat Christmas, acara musiman seperti Winter Fayre dan Summer Sports Day, hingga peringatan seperti World Book Day dan perayaan 100 tahun kelahiran Sir David Attenborough, seorang ahli biologi ternama. Selain itu, setiap kelas juga biasanya memiliki beberapa field trip selama satu tahun ajaran.

    Yang membuatku senang, orang tua juga diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sekolah. Mulai dari diundang menonton penampilan anak, menghadiri Winter maupun Summer Fayre, hingga menjadi parent volunteer saat field trip. Selama Arga duduk di Year 1, aku sudah tiga kali menjadi parent volunteer.
    Mendampingi Trip ke Library

    Pengalaman pertamaku menjadi parent volunteer adalah saat mendampingi anak-anak Year 1 berkunjung ke library. Tujuan kegiatan ini adalah mengenalkan library sebagai tempat yang menyenangkan sekaligus menumbuhkan minat baca sejak dini.

    Saat itu hanya ada tiga guru yang mendampingi hampir 30 murid. Karena itulah beberapa orang tua diminta ikut membantu. Lokasi library tidak jauh dari sekolah, hanya sekitar 15 menit berjalan kaki.

    Ternyata mengatur hampir 30 anak di jalan umum bukanlah hal yang mudah, apalagi harus beberapa kali menyeberang jalan. Selalu ada saja anak yang usil, berbicara terlalu keras hingga instruksi guru tidak terdengar, atau tidak mau tetap berada di barisan.

    Lucunya, begitu sampai di library mereka langsung bisa duduk dengan rapi dan mendengarkan penjelasan dengan sangat tenang. Setelah itu, mereka diberi kesempatan memilih satu buku untuk dipinjam. Aku membantu anak-anak melakukan peminjaman mandiri menggunakan mesin self-service dengan bantuan staf library. Sebagai penutup, setiap anak mendapatkan stiker sebelum kembali berbaris menuju sekolah.

    Trip ini berlangsung saat Arga baru mulai bersekolah. Dari pengalaman itu aku jadi lebih mengenal teman-teman sekelasnya. Sejak saat itu mereka jadi sering mengajakku bercanda setiap bertemu di kelas, meskipun terkadang aku masih harus menebak-nebak apa yang mereka katakan karena logat bahasa Inggris mereka yang masih khas anak-anak.

    Membacakan Buku saat World Book Day
    Pengalaman berikutnya adalah saat peringatan World Book Day. Karena murid-murid di kelas Arga berasal dari berbagai negara, tema tahun itu adalah mengenalkan berbagai bahasa di dunia. Beberapa orang tua diundang untuk membacakan buku cerita dari negara asal masing-masing.

    Untungnya aku membawa beberapa buku cerita dari Indonesia. Aku memilih buku berjudul “Monster Semut” untuk kubacakan di kelas Arga. Ceritanya kubacakan dalam bahasa Indonesia, kemudian kusampaikan ringkasan singkatnya dalam bahasa Inggris sambil menunjukkan ilustrasi di setiap halaman agar anak-anak tetap bisa mengikuti jalan ceritanya.

    Meski hanya tampil di depan anak-anak berusia lima hingga enam tahun, ternyata rasa gugup dan deg-degan tetap ada. Syukurlah semuanya berjalan lancar. Teman-teman Arga terlihat antusias mendengarkan cerita dan bahkan mampu menjawab beberapa pertanyaan sederhana tentang isi buku. Saat ada pertanyaan dari anak-anak yang membuatku kebingungan, guru Arga juga dengan sigap membantu menjelaskannya.

    Selain aku, ada orang tua lain yang membacakan cerita dalam bahasa Malaysia dan bahasa Kurdistan. Aku bahkan sempat terkejut melihat buku dari Kurdistan yang menggunakan tulisan Arab tanpa harakat.

    Menurutku, kegiatan seperti ini sangat berkesan, bukan hanya untuk orang tua, tetapi juga untuk anak-anak. Mereka bisa mengenal bahasa dan budaya dari berbagai negara sekaligus belajar menghargai perbedaan sejak usia dini.

    Mendampingi Field Trip ke Cathedral

    Pengalaman terakhirku sebagai parent volunteer di Year 1 adalah saat mendampingi field trip ke Cathedral. Meskipun mayoritas murid di kelas Arga beragama Islam, pelajaran Religious Education tetap mengajak mereka mengunjungi Cathedral. Bukan semata-mata sebagai tempat ibadah umat Kristiani, tetapi juga sebagai salah satu bangunan bersejarah di Sheffield.

    Trip ini diikuti oleh 20 anak dengan tiga guru pendamping dan empat orang tua volunteer. Perjalanan menuju Cathedral ditempuh menggunakan tram karena halte berada tidak jauh dari sekolah dan berhenti tepat di depan Cathedral.
    Mengingat pengalaman saat berjalan kaki ke library, awalnya aku membayangkan akan sangat sulit membawa anak-anak naik transportasi umum. Namun ternyata mereka cukup kooperatif dan selalu mendengarkan arahan guru. Walaupun, tentu saja, tetap ada beberapa anak yang harus diawasi lebih ekstra.

    Sesampainya di Cathedral, mereka tampak sangat antusias mendengarkan penjelasan dari guide. Anak-anak juga begitu kritis dan tidak ragu mengajukan banyak pertanyaan.
    Setelah berkeliling, mereka mengikuti kegiatan arts and crafts. Nah, ini tentu menjadi bagian favorit Arga. Mereka membuat souvenir dari tanah liat yang dicetak berbentuk kerang, lalu menghiasnya sesuai kreativitas masing-masing.

    Bagiku sendiri, perjalanan ke Cathedral juga menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Seandainya tidak ikut sebagai parent volunteer, mungkin aku tidak akan pernah memiliki kesempatan menjelajahi seluruh bagian Cathedral sambil mendengarkan penjelasan lengkap dari pemandunya.

    Sayangnya, sekolah di UK sangat menjaga privasi anak-anak sehingga aku tidak bisa mengabadikan momen saat menjadi parent volunteer. Meski begitu, pengalaman ini memberiku kesempatan belajar banyak hal. Aku melihat langsung bagaimana guru menangani karakter setiap anak yang berbeda, sekaligus merasakan sendiri bahwa mendampingi puluhan anak dalam sebuah perjalanan ternyata membutuhkan kesabaran, kerja sama, dan perhatian yang luar biasa.

    Menjadi parent volunteer mungkin terlihat sederhana, tetapi bagiku ini adalah salah satu pengalaman paling berharga selama tinggal di UK. Bukan hanya karena bisa lebih dekat dengan kehidupan sekolah Arga, tetapi juga karena aku mendapat kesempatan belajar dari sistem pendidikan di sini sekaligus menciptakan kenangan yang akan selalu kami ingat.

  • Salah satu hal yang paling aku syukuri sejak tinggal di Sheffield adalah banyaknya aktivitas gratis yang bisa dinikmati anak-anak dan juga keluarga. Hampir setiap bulan ada saja kegiatan yang bisa Arga ikuti. Buatku, kegiatan-kegiatan ini bukan hanya untuk mengisi waktu luang saat akhir pekan atau liburan sekolah. Arga juga punya kesempatan mencoba hal-hal baru, bertemu teman, sekaligus menyalurkan hobinya yang memang suka menggambar dan membuat kerajinan tangan.

    Berikut beberapa tempat yang sering mengadakan aktivitas gratis untuk anak-anak.

    1. Community Centre
    Community centre di sekitar tempat tinggal kami biasanya mengadakan acara pada setiap musim atau event besar seperti Natal, Paskah, dan Idul Fitri. Jadi dalam setahun ada beberapa event yang selalu kami nantikan. Kadang diadakan outdoor di lapangan, kadang juga diadakan indoor di ruang serbaguna, tergantung pada musimnya.

    Kegiatannya beragam, mulai dari bouncy castle, art and craft, face painting, henna, hingga permainan sederhana untuk anak-anak. Yang membuatku kagum, semuanya gratis. Pengunjung juga mendapatkan makanan dan camilan tanpa dipungut biaya. Bahkan saat event Natal semua anak mendapatkan hadiah berupa buku ataupun mainan dari Santa Claus.

    Pizza, fries, buah-buahan dan minuman gratis bisa dinikmati setelah capek berkegiatan

    Arga selalu semangat datang untuk ikut kegiatan art and craft. Sekedar mewarnai worksheet yang disediakan atau membuat prakarya sesuai tema event saat itu. Lalu ditutup dengan makan pizza dan beraneka macam snack.

    2. Library dan Gallery
    Selain meminjam buku, perpustakaan di Sheffield juga sering mengadakan berbagai kegiatan gratis. Ada family workshop yang digelar dengan tema yang berbeda-beda dan bisa diikuti seluruh anggota keluarga. Untuk anak-anak kecil juga tersedia baby and toddler group yang diadakan secara rutin seminggu sekali.

    Menariknya lagi, kegiatan gratis bukan hanya untuk anak-anak. Orang dewasa pun bisa ikut berbagai komunitas, seperti knit club untuk belajar merajut. Ada pula sesi “Drop in and Draw” yang rutin diadakan sebulan sekali di Sheffield Central Library. Di satu ruangan akan disediakan berbagai perlengkapan drawing. Siapapun bebas datang dan berkreasi, hasil karyanya boleh dibawa pulang atau dipajang di tempat yang disediakan.Rasanya menyenangkan bisa meluangkan waktu untuk menggambar sambil bertemu orang-orang baru yang memiliki hobi serupa.

    Perlengkapan yang disediakan untuk sesi “Drop in and Draw” bebas eksplor aneka media menggambar

    Tak hanya perpustakaan, galeri seni juga rutin mengadakan kids atau family activities, sehingga setelah menikmati pameran, anak-anak bisa langsung membuat karya mereka sendiri.

    Saat aku dan Arga mengikuti Family Workshop di salah satu galeri seni

    Informasi mengenai kegiatan-kegiatan ini bisa didapatkan dari poster yang ditempel di dinding maupun brosur yang tersedia di perpustakaan dan galeri, atau melalui website resminya.

    3. Cambridge Street Collective

    Siapa sangka sebuah food hall juga sering menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan keluarga?

    Arga sedang membuat topeng saat event Chinese New Year

    Cambridge Street Collective menjadi salah satu tempat favorit kami saat musim liburan sekolah. Hampir setiap hari biasanya ada kegiatan art and craft dengan tema yang berbeda. Kadang membuat topeng, melukis, menghias kartu ucapan, atau membuat kerajinan sederhana yang bisa dibawa pulang.

    Di luar liburan sekolah pun mereka masih sering mengadakan acara khusus, misalnya untuk Mother’s Day, Father’s Day, atau perayaan musiman lainnya.

    Arga sibuk menghias kartu ucapan untuk Fathers Day

    Aku biasanya mengetahui jadwal kegiatan ini melalui aplikasi Eventbrite. Tinggal melakukan booking secara gratis, lalu datang sesuai jadwal.

    Aktivitas Sederhana yang Membuat Liburan Lebih Berkesan

    Karena Arga memang sangat menyukai kegiatan seni, berbagai acara gratis seperti ini selalu menjadi pilihan kami saat akhir pekan atau liburan sekolah. Selain tidak menguras biaya, setiap kegiatan selalu memberikan pengalaman baru dan hasil karya yang bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

    Ternyata, bersenang-senang bersama anak tidak selalu harus pergi ke tempat wisata yang mahal. Kadang, duduk bersama membuat kerajinan tangan atau  menggambar justru menjadi momen yang paling diingat.

    Kalau sedang atau berencana tinggal di Sheffield, jangan ragu untuk rajin mencari informasi kegiatan komunitas. Siapa tahu, akhir pekanmu berikutnya sudah terisi dengan aktivitas seru yang gratis, edukatif, dan pastinya ramah untuk seluruh anggota keluarga.

  • Halo, kali ini aku bukan mau share cerita atau pengalaman keluarga kami. Tapi untuk menutup bulan yang spesial ini aku mau publish puisi buatanku di sini.

    Menulis puisi adalah hobi lamaku yang udah aku jalani dari kelas 4 SD. Di blog lamaku dulu aku juga suka publish puisi-puisiku yang kebanyakan temanya dunia percintaan ala remaja. Setelah menikah, aku vacum menulis, termasuk menulis puisi. Rasanya seperti kehabisan inspirasi dan kata-kata. Tapi sekarang aku pengen mencoba berpuisi lagi, dengan aku yang lebih dewasa dan tentu dengan tema cerita hidup yang bukan remaja lagi.

    Dan inilah salah satu puisi terbaruku, puisi dari perjalanan seorang ibu ❤️

    Aku dan Juni

    Juni dulu bukanlah bulan istimewa bagiku
    Juni 7 tahun silam dan Juni tahun-tahun sebelumnya
    Saat aku masih tentang diriku sendiri
    Dan tak tau setelah itu Juni akan membuatku berbeda

    Satu hari di bulan Juni 6 tahun silam
    Di satu ruangan saat suara itu untuk pertama kali kudengar
    Suara yang mengubah caraku melihat diri dan dunia
    Suara yang mengajakku pada petualangan hidup yang baru

    Sejak saat itu setiap Juni tak lagi sama
    Juni selalu membawaku pada perjalanan baru yang berbeda-beda
    Suara yang terdengar memang bukan lagi tangisan bayi yang mungil
    Kini suara itu berganti menjadi celoteh dan tanya tanpa henti

    Sekarang setiap Juni adalah bersyukur
    Karna Juni telah membawaku pada petualangan tanpa batas ini
    Bersama seorang dengan hati yang kuharap selalu gembira
    Dan akan selalu bersinar di manapun ia berada

  • Salah satu hal yang paling membuatku kagum tentang tinggal di UK adalah mudahnya akses anak-anak terhadap buku dan ruang bermain yang nyaman. Perpustakaan bukan hanya tempat meminjam buku, tetapi juga menjadi ruang publik yang ramah keluarga. Karena itulah, salah satu tempat yang langsung kami datangi pada hari-hari pertama tiba di Sheffield adalah Sheffield Central Children’s Library.

    Perpustakaan anak ini berlokasi di area city center, tepatnya di Surrey Street. Bangunannya khas bangunan tua di UK.  Sheffield Central Children’s Library merupakan bagian dari Sheffield Central Library dan berada di lantai paling bawah. Selain library ada juga galeri yang letaknya di lantai atas bangunan ini.

    Suasana di dalam Sheffield Central Children Library

    Kami datang pertama kali untuk mendaftarkan keanggotaan Arga. Saat itu suasana children’s library tidak terlalu ramai, mungkin karena kami datang pada jam sekolah. Ruangannya sangat luas, bersih, rapi, dan tentu saja nyaman. Kami juga langsung disambut hangat oleh seorang petugas yang berjaga di sana. Kami diminta mengisi formulir pendaftaran yang berisi data diri Arga: nama lengkap, tanggal lahir, dan alamat tempat tinggal.

    Sambil menunggu proses pendaftaran selesai, aku berkeliling melihat berbagai fasilitas yang tersedia di perpustakaan ini. Koleksi bukunya sangat lengkap, dari mulai soft book untuk baby, board book untuk anak usia dini, buku untuk anak-anak yang baru mulai bisa membaca yang dibagi sesuai tahapan usia, buku cerita, hingga novel untuk usia remaja. Buku tentang ilmu pengetahuan dan activity book seperti find and search book juga banyak tersedia. Tak hanya buku, Children’s Library ini juga menyediakan berbagai macam mainan. Ada banyak pilihan board game, lego, wooden train toys, dan boneka-boneka, serta puppet. Ada juga meja khusus yang disediakan untuk aktivitas mewarnai.

    Salah satu bagian koleksi buku untuk pembaca usia lebih muda

    Tak lama kemudian, petugas kembali menghampiri kami sambil menyerahkan kartu keanggotaan Arga. Cepat sekali prosesnya, dan yang lebih menyenangkan lagi, semuanya gratis! Ia juga menginformasikan username dan password Arga untuk mengakses komputer yang ada di library. Ia juga menyampaikan bahwa Arga sudah bisa langsung meminjam buku untuk dibawa pulang.

    Jumlah buku yang boleh dipinjam untuk dibawa pulang maksimum adalah 20 buku dalam satu kali peminjaman. Masa pinjamnya adalah selama 3 minggu dan dapat diperpanjang. Karena Arga terbiasa membaca satu hingga dua buku sebelum tidur setiap malam, kunjungan ke children’s library pun menjadi agenda wajib keluarga kami, setidaknya sebulan sekali. Kadang tak hanya untuk menukar buku, children’s library juga menjadi tempat singgah jika Arga mulai capek jalan-jalan di luar atau ketika cuaca di luar sedang terlalu dingin atau panas.

    Sheffield Central Library buka dari hari Senin-Sabtu. Kalau berkunjung di hari Sabtu atau musim liburan sekolah, children’s library sangat ramai. Bisa-bisa sampai nggak kebagian spot untuk duduk dan bermain. Senang sekali budaya berkunjung ke perpustakaan masih sangat hidup di sini.

    Buat kami, children’s library bukan hanya menjadi tempat meminjam buku, tetapi juga ruang yang menemani tumbuh kembang Arga. Di sini ia bebas memilih buku yang disukainya, bermain, sekaligus belajar mencintai kegiatan membaca sejak dini. Rasanya, inilah salah satu fasilitas publik yang paling akan kami rindukan ketika nanti kembali ke Indonesia. Semoga suatu hari nanti semakin banyak perpustakaan ramah anak di Indonesia yang mudah diakses secara gratis, sehingga semakin banyak pula anak-anak yang bisa tumbuh bersama buku.

  • Mengunjungi kota besar di UK, tak lengkap rasanya bila tak berkunjung ke museumnya. Makanya waktu liburan ke Liverpool, kami menyempatkan waktu untuk berkunjung ke dua museum yang terkenal di sana.

    Museum of Liverpool

    Bangunan Museum of Liverpool yang tampak mencolok dan langsung menarik perhatian

    Bangunan Museum of Liverpool ini langsung mencuri perhatianku karena bentuknya yang unik. Bangunannya berdesain modern dibandingkan dengan  bangunan-bangunan khas UK di sekitarnya. Lokasinya berada di tepi dermaga, dekat Royal Albert Dock.

    Seperti banyak museum UK lainnya, tempat ini juga tidak memungut biaya untuk tiket masuk. Pengunjung juga tidak perlu melakukan booking seperti kebanyakan museum di London.

    Kami datang tepat jam 10 saat museum baru buka, suasana masih sepi. Kami jadi punya lebih banyak waktu untuk eksplor setiap pamerannya.

    Museum ini berisi tentang kisah Liverpool dan penduduknya. Di lantai dasar, pameran menyoroti evolusi perkotaan dan teknologi kota, baik lokal maupun nasional, termasuk Revolusi Industri dan perubahan di Kekaisaran Inggris. Ada pula galeri berbagai macam alat transportasi yang pasti jadi kesukaan anak-anak. Sementara di lantai atas menyoroti identitas Liverpool yang khas dan kuat melalui sejarah sosial kota, mulai dari pemukiman di daerah tersebut sejak zaman Neolitik hingga saat ini, migrasi, dan berbagai komunitas dan budaya yang berkontribusi pada keragaman kota. Ada pula area sejarah musik, yaitu galeri yang mengupas sejarah musik pop lokal, termasuk kisah band legendaris The Beatles (kalo yang ini sih bagian favoritku).

    Sebagian dari koleksi The Beatles di Museum of Liverpool

    Museum ini juga memiliki: Little Liverpool, sebuah galeri untuk anak-anak di bawah usia enam tahun. Untuk galeri ini berbayar dan harus sesuai dengan jadwal waktu bermain. Ukuran galeri tidak terlalu besar tapi permainan yang ditawarkan cukup lengkap. Ada water-play interactive, role-playing, puzzle jigsaw, dan area sensory untuk anak di bawah 2 tahun. Tentu saja yang bikin Arga paling betah lama-lama adalah main air, apalagi ada kapal-kapal kecil yang gemesin.

    Di Little Liverpool anak juga bisa menggambar sepuasnya dengan peralatan yang disediakan

    World Museum Liverpool

    Museum ini adalah museum yang tertua di Liverpool. Berbeda dengan Museum of Liverpool, tipe bangunannya adalah bangunan tua khas Inggris. Tiket masuknya juga gratis, tapi kalau mau nonton film di planetariumnya baru berbayar dan sebaiknya booking dari jauh hari.

    Kalau Museum of Liverpool lebih banyak bercerita tentang sejarah kotanya, World Museum menawarkan pengalaman yang jauh lebih beragam. Mulai dari luar angkasa, dinosaurus, budaya dunia, serangga, hingga akuarium, semuanya bisa dijelajahi dalam satu gedung.

    Lantai 5

    Space and Time: Galeri yang menampilkan benda-benda luar angkasa seperti batuan bulan dan teleskop, serta dilengkapi dengan fasilitas Planetarium interaktif. Karena di dalam planetarium nyaman dan adem, apalagi sambil dengerin cerita tentang planet, Arga malah ketiduran. Berasa didongengin mungkin yaa.

    Lantai 4

    Wild World: Dinosaurs and Natural History. Area ini menampilkan berbagai pameran sejarah alam dan kehidupan di Bumi. Ada juga replika dinosaurus dan area interaktif yang menarik untuk anak. Pengunjung bisa mewarnai worksheet bergambar dinosaurus lalu memunculkannya di layar interaktif. Arga excited banget pas dinonya muncul di layar.

    Arga dan stegosaurus yang dia warnai

    Lantai 3

    World Cultures: Area ini menyimpan artefak dan benda bersejarah yang mencerminkan status Liverpool sebagai pelabuhan Kerajaan Inggris. Di lantai ini juga ada area Ancient Egypt lengkap dengan berbagai koleksi mummy.

    Zona favorit Arga yaitu Mesir Kuno dengan koleksi mummy

    Lantai 2

    The Bug House: Area yang menampilkan berbagai macam koleksi serangga dari seluruh dunia, mulai dari yang berukuran kecil hingga spesimen yang sangat besar.

    Lantai 1

    Aquarium: Area yang menampilkan berbagai spesies ikan dan biota air tawar dari seluruh dunia. Arga paling gemas pas lihat bintang laut pada nempel di kaca akuarium.

    Dari dua museum yang kami kunjungi, masing-masing punya daya tarik yang berbeda. Museum of Liverpool cocok untuk mengenal sejarah dan identitas kota, sementara World Museum menawarkan koleksi yang lebih beragam dan banyak area interaktif yang membuat anak-anak betah berlama-lama.

    Yang paling kami sukai tentu saja karena keduanya bisa dinikmati secara gratis. Rasanya menyenangkan melihat bagaimana museum di UK bukan hanya menjadi tempat menyimpan sejarah, tetapi juga ruang belajar dan bermain yang ramah untuk semua usia. Jadi, kalau suatu saat berkunjung ke Liverpool, sempatkan mampir ke kedua museum ini. Siapa tahu, seperti Arga, anak-anak justru pulang dengan cerita favoritnya sendiri—entah tentang kapal kecil yang mengapung di Little Liverpool, dinosaurus yang “hidup” di layar, atau malah… tertidur nyenyak di planetarium.

  • Summer mungkin musim yang ditunggu-tunggu banyak orang. Hadirnya matahari lebih sering, bebas pergi tanpa baju berlapis, dan siang hari lebih panjang yang membuat orang tak tergesa menjalani hari. Summer juga mungkin lebih cocok untuk para perantau asal Indonesia dan sekitarnya. Tapi kalo aku tanya Arga apa musim favoritnya di antara 4 musim yang sudah kami jalani, dia menjawab WINTER!

    Aku pribadi suka semua musim, KECUALI SUMMER! Wkwkwk. Yaa, karena buat orang yang gampang pusing tiap habis kena terik matahari, summer itu sedikit menyiksa. Apalagi kalo harus menghadapi heatwave yang panasnya sangat menyengat dan udara rasanya engap. Jujur, aku sih lebih mending kedinginan daripada kepanasan. Kepanasan bikin aku cranky. Kalo di Jakarta lagi panas bisa naik TransJakarta sekalian ngadem. Kalo di sini naik bus atau tram yang ada malah berasa masuk oven.

    Tapi tentu masih ada yang bisa disyukuri dari musim panas ini: cucian yang lebih cepat kering tanpa perlu menyalakan jemuran electric heat, bisa punya alasan untuk sering-sering jajan es krim, dan cuci piring yang jadi kegiatan favorit karena bisa sambil main air. Biasanya males banget urusan cuci piring karena kedinginan tiap kena air.

    21 Juni 2026 jadi hari dengan siang terpanjang di UK. Di Sheffield sunrise-nya jam 4.36 dan sunset pada jam 21.38. Dan tentu saja ini berdampak pada jam shalat kami. Subuh di jam 02.29, Dzuhur di jam 13.09, Ashar jam 17.36, Maghrib jam 21.41, dan Isya jam 23.11. Arga yang biasanya bisa ikut shalat Maghrib/Isya berjamaah, jadi absen dulu selama summer karena sudah lewat dari jam tidurnya.

    Langit Sheffield bulan Juni di jam 21.10

    Nah menariknya saat banyak orang tua lain mengeluhkan drama menyuruh anak tidur karena jawabnya selalu “kan belum malam,” Arga justru sebaliknya. Jam tidur Arga tidak terpengaruh meskipun siang hari yang lebih panjang. Mungkin karena sudah terbiasa konsisten dengan rutinitas yang kami jalanin dari dia kecil. Sekitar jam 19.00, selesai makan malam dan bersih-bersih diri, kami sudah langsung masuk kamar. Rata-rata Arga tidur jam 19.30. Jam 20.00 saja sudah telat katanya, ngga peduli langit masih terang benderang dan ramai suara anak-anak yang masih bermain di luar. Sementara aku berusaha sekuat tenaga menahan ngantuk sampai waktu Maghrib tiba. Syukurlah ada fatwa ulama yang membolehkan Isya dijamak di waktu Maghrib selama summer

    Tapi yang namanya UK, summer aja masih banyak hujannya. Jadi ngga selalu panas dan terik sepanjang musim. Bisa seminggu tiada hari tanpa hujan, lalu seminggu kemudian heatwave, lalu berikutnya hujan kembali. Benar-benar daya tahan tubuh harus kuat untuk menghadapi anehnya cuaca UK.

    Menjalani summer pertama di UK membuatku sadar bahwa beradaptasi bukan hanya soal bahasa, budaya, atau makanan. Bahkan hal sesederhana panjangnya siang hari dan waktu shalat pun membutuhkan penyesuaian. Ada rutinitas yang berubah, ada kebiasaan yang harus diatur ulang, dan ada rasa kagum setiap kali menyadari bahwa kami sedang menjalani sesuatu yang dulu hanya dibaca dari cerita orang lain.

    Meski masih sering mengeluh saat heatwave datang, aku tahu suatu hari nanti masa-masa ini akan menjadi bagian dari kenangan yang dirindukan. Tentang Arga yang tetap tidur nyenyak saat matahari belum benar-benar tenggelam, tentang menunggu waktu maghrib sambil menahan kantuk, dan tentang belajar menikmati setiap musim dengan segala keunikannya. Karena pada akhirnya, setiap musim di perantauan selalu membawa cerita yang layak disimpan.

  • Memasuki musim panas memang menjadi waktu yang pas untuk mengajak anak berpetualang. Waktu siang yang lebih panjang membuat perjalanan terasa lebih santai dan tidak terburu-buru. Ditambah lagi cuaca yang cenderung cerah, sehingga lebih banyak aktivitas luar ruang yang bisa dinikmati bersama keluarga.


    Sabtu lalu, aku mengajak Arga ke Eastfield Farm di Doncaster untuk mencoba pengalaman petik stroberi langsung dari kebunnya. Sejak diberi tahu rencana itu, Arga sudah terlihat sangat antusias. Ia terus bertanya seperti apa pohon stroberi dan bagaimana cara memetik buahnya.


    Dari Sheffield, kami naik kereta menuju Doncaster. Perjalanan hanya melewati dua stasiun dan memakan waktu sekitar 20 menit. Dari Stasiun Doncaster, kami berjalan ke Doncaster Interchange untuk melanjutkan perjalanan dengan bus nomor 22. Setelah kurang lebih 20 menit di perjalanan, sampailah kami di pintu masuk Eastfield Farm.


    Hari itu suasananya cukup ramai. Mungkin karena musim petik stroberi baru saja dimulai. Arga langsung mengambil ember yang disediakan dan bergegas menuju area perkebunan. Menariknya, masuk ke Eastfield Farm tidak dipungut biaya. Pengunjung hanya perlu membayar stroberi yang berhasil dipetik dengan harga £4,9 per kilogram.
    Perjalanan menuju area kebun stroberi ternyata cukup jauh dari pintu masuk. Kami harus melewati ladang gandum dengan jalur yang tidak terlalu lebar sambil berpapasan dengan banyak pengunjung yang sudah selesai memetik. Melihat ember-ember mereka yang penuh berisi stroberi, Arga jadi semakin tidak sabar. Katanya takut kehabisan 😆

    Dan ternyata kekhawatirannya ada benarnya juga. Area yang paling dekat dengan pintu masuk sudah hampir tidak menyisakan buah matang. Kami pun berjalan lebih jauh ke bagian tengah kebun yang masih dipenuhi stroberi merah segar.

    Arga dan ayahnya semangat mencari stroberi yang paling besar dan merah

    Begitu menemukan lokasi yang tepat, Arga langsung berlarian ke sana kemari mencari stroberi yang paling merah dan paling besar. Kami bahkan sempat berlomba menemukan stroberi dengan ukuran terbesar. Saking serunya kami sampai tidak terasa sedang berjalan di bawah terik matahari. Tahu-tahu ember kami sudah penuh, sementara Arga masih ingin memetik beberapa buah lagi yang menurutnya “terlalu sayang kalau ditinggal”.

    Setelah puas berkeliling, kami kembali dengan seember stroberi yang cukup berat untuk dibawa. Rasanya manis sekali, bahkan beberapa yang warnanya belum sepenuhnya merah pun tetap terasa manis dan segar. Saat ditimbang, hasil panen kami mencapai 2,5 kilogram dan total yang harus dibayar sekitar £12,2. Melihat jumlahnya sebanyak itu, aku langsung berpikir bagaimana cara menghabiskannya sebelum keburu matang semua.

    Arga dengan hasil panennya yang sudah penuh tapi masih ditambah terus

    Sebelum pulang, kami sempat mampir ke kafe yang ada di area farm. Kami memesan cake, minuman dingin, dan tentu saja es krim. Sementara aku menikmati makanan dan beristirahat sejenak, Arga kembali bermain di hamparan rumput yang luas. Mulai dari berlari, bermain lempar tangkap, petak umpet, hingga menerbangkan pesawat kertas. Energi anak-anak memang seolah tidak ada habisnya, bahkan di tengah cuaca panas sekalipun.

    Menjelang sore, kami bersiap kembali ke Sheffield. Perjalanan pulang diawali dengan menunggu bus nomor 22 menuju Doncaster Interchange, lalu dilanjutkan dengan kereta menuju Sheffield.

    Perjalanan hari itu sebenarnya sederhana. Tidak ada wahana besar, tidak ada pertunjukan khusus, bahkan tujuan utamanya hanya memetik stroberi. Namun justru dari kegiatan sesederhana itulah tercipta banyak momen yang berkesan.

    Melihat Arga bersemangat mencari stroberi terbesar, berjalan menyusuri kebun, lalu bermain bebas di rerumputan luas mengingatkanku bahwa kebahagiaan anak sering kali hadir dari pengalaman-pengalaman sederhana yang memberi mereka ruang untuk bereksplorasi. Dan mungkin, itulah salah satu hal yang membuat musim panas terasa begitu istimewa: lebih banyak waktu untuk keluar rumah, menikmati alam, dan menciptakan kenangan bersama.

    Kalau sedang mencari ide aktivitas keluarga saat summer di Yorkshire dan sekitarnya, petik stroberi bisa menjadi salah satu pilihan yang layak dicoba.

  • Siapa yang baru tau kalo 11 Juni diperingati sebagai Hari Bermain Internasional? Jujur aja, aku ☝️Yaa aku sendiri juga baru tau ada yang namanya Hari Bermain Internasional. Kenapa sih bermain pakai dibikin hari peringatannya segala? Bukannya bermain itu setiap hari dilakukan? Nah, menarik nih..

    Jadi International Day of Play ini baru ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada Maret 2024. Hal ini dimaksudkan untuk memperjuangkan dan melindungi hak anak untuk bermain. Adanya hari ini adalah untuk meningkatkan kesadaran kita tentang betapa pentingnya bermain bagi perkembangan dan kesejahteraan setiap anak. Peringatan ini adalah momentum yang tepat untuk mengajak orangtua, masyarakat, sekolah, serta pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, serta mendukung anak-anak belajar dan berkembang melalui kegiatan bermain.

    Nah tema Hari Bermain Internasional tahun ini adalah “Protect play, protect childhood”. Tema ini menjadi pengingat bahwa masa kanak-kanak yang bahagia dan sehat didasarkan atas kesempatan anak untuk bermain.

    Sayangnya di Indonesia sendiri kadang kesempatan anak untuk bermain masih terbatas. Di kota besar, ruang terbuka untuk anak bebas bermain masih sangat terbatas. Ada playground di mall-mall yang mungkin tidak semua lapisan masyarakat bisa menikmati karena harganya yang tidak terjangkau. Sementara itu, di daerah yang lebih terpencil mungkin masih tersedia ruang terbuka yang luas untuk bermain. Namun, fasilitas pendukung dan area bermain yang aman belum tentu tersedia.

    Arga sedang bermain di salah satu playground di Sheffield. Hampir setiap minggu kami mengunjungi taman atau area bermain seperti ini karena lokasinya mudah dijangkau dan gratis.

    Bersyukurnya kami sekarang tinggal di Sheffield, kota yang sangat ramah keluarga. Hampir di setiap area pemukiman terdapat taman, lapangan, atau playground yang bisa diakses gratis. Bahkan fasilitas bermain untuk anak-anak dengan disabilitas juga banyak tersedia sehingga lebih banyak anak bisa menikmati hak mereka untuk bermain. Kendalanya cuma di cuaca aja sih, yang lebih sering hujan daripada cerah jadi bikin males main di playground.

    Arga bermain di Norfolk Park Playground, salah satu playground yang cukup besar di Sheffield

    Tak usah bergerak jauh ke sekolah maupun pemerintah, coba yuk kita mulai dari rumah. Sebagai orangtua dari anak-anak kita, sudahkan kita memenuhi hak mereka untuk bermain? Sudahkah kita memfasilitasi mereka untuk bermain? Sudahkah kita memberikan kesempatan dan waktu untuk mereka bermain? Jangan-jangan kita terlalu fokus pada nilai, prestasi, dan berbagai keterampilan yang harus dikuasai anak. Sampai lupa bahwa pada dasarnya mereka masih anak-anak. Dan salah satu hak terpenting mereka adalah bermain.

    Coba yuk kita flashback sebentar, dulu waktu kita kecil seusia anak kita sekarang, apa sih yang sering kita mainin? Mungkin permainan sederhana seperti kelereng, congklak, layangan, galasin. Sementara anak kita sekarang lebih sering mainnya PS, roblox, minecraft atau malah cuma nonton Youtube. Nah, kenapa ngga sesekali kita ajak anak-anak memainkan permainan yang dulu kita sukai? Sederhana, tapi aku yakin akan berkesan buat mereka, setidaknya memperkuat bonding antara orangtua dan anak.

    Zaman emang semakin maju dan berkembang, tapi hak anak untuk bermain tetap harus diwujudkan.

    Yuk ajak anak main…

  • Di era sekarang di mana gadget semakin dekat dengan kehidupan anak-anak, mengajak mereka bermain sejenak di alam bisa menjadi cara sederhana untuk memberikan pengalaman yang berbeda. Bermain di alam bukan hanya membuat anak sekedar lebih aktif bergerak, tetapi juga mengembangkan rasa ingin tahu, kemampuan observasi, kreativitas, hingga kepercayaan diri mereka.

    Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan di alam dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi, dan mendukung perkembangan fisik maupun emosional anak. Alam juga memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar langsung dari lingkungan sekitarnya tanpa harus merasa sedang “belajar”.

    Salah satu hal yang aku syukuri sejak tinggal di Sheffield adalah banyaknya ruang hijau dan destinasi alam yang ramah keluarga. Nggak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membuat anak senang. Justru beberapa momen paling berkesan bersama Arga terjadi saat kami sekedar berjalan-jalan dan bermain di alam.

    Endcliffe Park

    Salah satu tempat favorit yang tak jauh dari rumah kami adalah Endcliffe Park. Di sana terdapat sungai kecil yang langsung menarik perhatian Arga. Begitu mendengar suara gemericik air, dia langsung bersemangat dan ingin mendekat.

    Main air di tepian sungai Endcliffe Park sambil mencari-cari batu untuk dilempar ke air

    Aku memintanya memilih ranting dan daun dan mengajaknya ke atas jembatan. Dari sana kami melemparkan ranting dan daun ke sungai, lalu mengamati bagaimana benda-benda itu terbawa arus. Aktivitas yang sangat sederhana, tapi ternyata bisa bikin Arga begitu antusias. Dia berlarian mengikuti ranting dan daun sampai ke ujung sungai di gerbang taman.

    Karena saat itu cuaca dan air sungai masih cukup dingin, kami tidak bermain air secara langsung. Kami menyebrangi sungai melalui batu-batu sebagai pijakan lalu duduk di batu besar di tepian sungai. Arga mulai mengumpulkan batu-batu kecil dan mencoba melemparkannya ke sungai. Karena penasaran dia terus mencoba melemparkan batu sampai yang berukuran besar sambil memperhatikan percikan yang dihasilkan. Dari kegiatan sederhana itu dia jadi belajar tentang batu yang ringan dan berat, berbagai ukuran batu, serta kenapa percikannya bisa berbeda-beda.

    Rivelin Valley Park

    Kami berkunjung ke Rivelin Valley Park saat Sheffield sedang mengalami heatwave. Arga yang tadinya ngga mau basah-basahan akhirnya tergoda untuk bermain di sungai.

    Saat cuaca lagi panas terik dengan suhu tertinggi hingga 32° rasanya adem banget bisa main di sungai

    Rasanya menyenangkan sekali berjalan di air yang dingin sambil mencari batu mana yang aman untuk dipijak dan mana yang licin. Aktivitas sederhana seperti ini ternyata cukup menantang dan membuat Arga fokus memperhatikan langkahnya sendiri.

    Setelah puas bermain air, kami melanjutkan perjalanan menyusuri area hutan. Agar lebih semangat berjalan, aku memberi Arga tantangan kecil: mencari objek atau pemandangan yang menurutnya menarik untuk difoto dan dia boleh meminjam hpku untuk mengabadikannya.

    Hasilnya cukup mengejutkan. Dari sudut pandang anak seusianya, ternyata dia bisa memilih mana yang layak diabadikan dan bagaimana angle pengambilan fotonya. Selain membuat perjalanan lebih seru, kegiatan ini juga melatih kemampuan observasi dan kreativitasnya.

    Salah satu foto hasil jepretan Arga


    Graves Park

    Banyak orang mengenal Graves Park karena animal farm-nya yang populer untuk anak-anak. Namun, area hutannya juga tidak kalah menarik untuk coba dijelajahi.

    Meskipun tidak seluas Rivelin Valley, jalur hutannya tetap menawarkan petualangan kecil yang menyenangkan. Beberapa bagian jalan ada yang berlumpur sehingga membuat perjalanan terasa lebih seru bagi anak-anak.

    Ayah Arga dan Arga dengan tongkat petualangannya menyusuri hutan di dalam Graves Park

    Di sini Arga sangat bersemangat mencari batang kayu yang bisa dijadikan tongkat petualangannya. Sepanjang perjalanan, dia juga terus mengamati dan mengomentari berbagai hal yang ditemuinya. Mulai dari batang pohon dengan ukuran berbeda, bunga berwarna-warni, sarang laba-laba, hingga suara burung yang bersahutan.

    Mendengarkan komentar dan pertanyaan anak saat berada di alam sering kali membuatku sadar bahwa mereka memperhatikan jauh lebih banyak hal daripada yang kita kira.

    Pengalaman mengajak Arga bermain di alam mengingatkanku bahwa membuat anak bahagia tidak selalu membutuhkan tiket masuk mahal atau tempat bermain yang mewah.

    Terkadang, sungai kecil, beberapa batu, ranting pohon, jalan setapak di hutan, dan waktu yang dihabiskan bersama orang tua sudah lebih dari cukup. Di balik aktivitas yang terlihat sederhana itu, anak sebenarnya sedang belajar banyak hal: mengamati, bertanya, memecahkan masalah, mengenal lingkungan, dan menggunakan imajinasinya.

    Yang terpenting, mereka mendapatkan kesempatan untuk merasakan dunia secara langsung, bukan hanya melalui layar.

    Jadi kalau sedang mencari aktivitas akhir pekan bersama anak, mungkin bisa dicoba mengunjungi taman, hutan kota, atau area alam terdekat. Siapa tahu, petualangan sederhana itu justru menjadi kenangan yang paling berkesan bagi mereka.