Jendela Cerita Mama Arga

Di balik jendela, banyak cerita tumbuh dan bermakna


Morning view dari jendela ruang makan kami — “breakfast with a view” banget ngga sih judulnya?

Waktu pertama kali masuk ke rumah baru, yang terasa bukan haru… tapi pusing. Kamar tidur belum ada kasurnya, dapur masih kosong melompong, sementara di ruang tamu bertumpuk meja dan sofa yang tampak usang. Debu tebal menyelimuti hampir setiap sudut ruangan. Aku sampai bingung mau naruh koper dan tas bawaan kami di mana.

Kesal? Pasti. Apalagi kondisi kami yang lelah selepas long flight, ditambah jetlag. Rasanya pengen langsung rebahan — tapi sayangnya belum ada tempat yang layak sekadar buat meluruskan badan.

Untungnya kami sudah kenal beberapa orang Indonesia di sini. Dan bersyukur banget, mereka begitu baik, bahkan meminjamkan barang-barang penting yang kami butuhkan untuk bertahan beberapa hari, sambil pelan-pelan mulai belanja keperluan rumah.

Kepalaku langsung menghitung-hitung berapa dana yang akan keluar untuk semua kebutuhan dasar. Tentu tak harus lengkap apalagi mewah, yang penting fungsional. Untung ada toko-toko terjangkau seperti B&M, Super Pound World, diskonan IKEA, hingga charity shop British Heart Foundation — yang jadi penyelamat di minggu-minggu awal.

Hari-hari awal kami sibuk menyulap rumah ini jadi benar-benar rumah. Membuang perabot yang sudah tak layak, membersihkan jendela, menata ulang ruangan. Arga pun semangat ikut membantu, bahkan sibuk memikirkan konsep interior kamarnya sendiri.

Salah satu sudut rumah yang disulap Arga jadi tempat pajangan lego bikinannya

Pelan-pelan, rumah ini tak lagi terasa asing.
Pelan-pelan, rumah ini mulai terasa rumah.
Bukan karena dindingnya cantik, bukan karena perabotnya lengkap — tapi karena kami bertiga ada di sini. Berbagi tawa, pelukan, dan cerita baru di petualangan kami yang belum selesai.


Sunrise dari jendela dapur — warna kecil yang nyelip di hari-hari baru
Posted in

Leave a comment