Tahun ini jadi pengalaman pertama kami menjalani Ramadhan sekaligus merayakan Idul Fitri di UK. Aku pribadi rasanya excited banget bakal dapat banyak pengalaman baru yang ternyata begitu berkesan.
Alhamdulillah, dari segi durasi puasa sedang tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Jadi secara ritme masih terasa familiar. Tapi karena tidak ada terdengar adzan dari masjid, jadi harus ingat cek waktu buka puasa sendiri yang tentu setiap harinya berubah. Tantangan terbesar saat menjalani puasa datang dari cuaca. Karena masih masuk akhir musim dingin, setiap sore saat menjemput Arga dari sekolah dengan perut kosong rasanya dinginnya jadi βdoubleβ dibanding hari biasa. Angin sore khas UK itu memang terasa lebih menusuk kalau lagi puasa π
Yang paling dikangenin tentu saja suasana war takjil. Jalanan ramai menjelang maghrib, pilihan makanan banyak, tinggal pilih sesuai selera. Di sini suasana seperti itu tentu tidak ada. Tapi alhamdulillah sempat terobati karena ada dua kali bazaar makanan Malaysia selama Ramadhan. Lumayan banget bisa jajan menu hangat khas Asia Tenggara yang rasanya dekat dengan suasana rumah.

Sholat Ied di Ponderosa: Banyak Culture Shock-nya
Pengalaman sholat Ied tahun ini juga terasa sangat berbeda.
Biasanya kalau di Indonesia, jam 6 pagi sudah siap berangkat ke lapangan. Di sini justru sholat Ied dimulai lebih siang. Sesi pertama sekitar jam 8.30 pagi, bahkan ada sampai sesi jam 10.30. Rasanya agak unik juga menunggu waktu sholat Ied sampai pagi menjelang siang seperti itu.
Hal lain yang cukup bikin surprise adalah kebiasaan jamaah perempuan. Tidak ada yang memakai mukena seperti di Indonesia. Semua datang dengan pakaian masing-masing, lalu langsung menggelar alas sholat di lapangan. Karena cuaca masih dingin, banyak juga yang tetap pakai jaket selama sholat.
Yang paling menyenangkan justru suasana setelah sholat selesai. Kalau di Indonesia biasanya ada kotak amal berkeliling, di sini justru anak-anak yang berkeliling membagikan snack ke sesama anak. Arga pulang membawa banyak coklat dan biskuit β senang sekali rasanya melihat tradisi kecil yang hangat seperti ini π₯°

Warga Indonesia juga cukup banyak di sini, jadi selesai sholat Ied kami berkumpul untuk berfoto-foto. Ada juga beberapa teman yang mengundang open house di rumahnya, jadi alhamdulilah tetap berasa suasana Lebarannya bisa bersilaturahmi dengan keluarga baru di sini.
Oh iya, kalo di Indonesia saat Idul Fitri anak-anak sekolah sudah pasti libur panjang bahkan dari beberapa hari sebelumnya, di sini tentu saja Arga nggak libur. Tapi untuk siswa muslim diperkenankan izin pada saat hari H saja, sisanya ya tetap bersekolah seperti biasa. Dan setelahnya ada Eid Celebration juga di sekolah, jadi anak-anak bisa belajar toleransi beragama.
Lebaran Pertama Masak Sendiri
Tahun ini juga jadi pengalaman pertama menyiapkan masakan Lebaran sendiri. Biasanya tinggal makan, sekarang harus mulai mengatur menu sendiri.
Alhamdulillah cukup terbantu karena ada yang menjual lontong dan sayur ketupat, jadi tidak perlu repot membuat dari nol. Aku hanya menyiapkan beberapa menu pelengkap seperti: opor ayam dan kering kentang.
Sederhana, tapi rasanya tetap menghadirkan suasana Lebaran di rumah.

Ternyata meskipun jauh dari Indonesia, suasana hangat Lebaran tetap bisa terasa. Mungkin bentuknya berbeda, tradisinya tidak sama persis, tapi maknanya tetap sama β berkumpul, berbagi cerita, dan mensyukuri momen bersama keluarga π€
Leave a comment